Arsip untuk Februari, 2008

Larik 19

Posted in Sampiran on Februari 29, 2008 by asharjunandar

Tentunya kita maklum bersama
Menjulang semarak bebukitan merah
Di daratan tubuhmu yang rimba
Hijaunya dirundukkan gerombolan hitam
Bulu-bulu ilalang
Onak duri keringat dan bau badan terkadang
Di kaki-kaki bukit hingga sepanjang lembah
Kurambah
Ricik air dimainkah sirip ikan
Berirama ramah dan bebatuan
Yang menundukkan wajah rahasia
Pada nada nafas dan langkah kutautkan
Kau larut diam
Terlentang seperti ratu sedang
Berendam di kolam
Membiarkan sekujur tubuhmu
Disentuh dayang-dayang
Lembut magma dan lava kau hirup
Dalam-dalam dari tiap pori kulitmu
Dingin, beku, asing, sasar, nalar,
Binatang buas, suku dalam, terkaman cakar alam
Membuntuti aku dan diriku dari belakang
Segala arah yang memungkinkan
Untuk menikam
Dipuncak. Di puncak. Di puncak
Kuhirup hawa mawar liar
Lembut sewangi aroma salju melingkar
Memilin, berputar-putar di sekujur angin segar

hakcipta pada asharjunandar

Larik 18

Posted in Sampiran on Februari 29, 2008 by asharjunandar

Acapkali kau menggelengkan kepala bila kuajak ke pesta
Padahal pesta apalah
Cuma tautan tangan selamat, kata-kata di bibir tersemat
Beberapa kunyah makanan dan tegukan gelas minuman
Lalu dibungkus lelah kau dan aku pulang
Malam bulan sudah larut malam
Tapi merasakah kau beberapa teman dengan tangan terkembang
Bercerita tentang kekasihnya dan beberapa gaun panjang
Dan aku hanya teringat getir ciumanmu di bibir dadaku
Selepas berkali-kali hembusan asap tembakau
Malam bulan sudah larut malam
Aku membuka pintu pagar sendirian
Malam bulan sudah larut malam
Bermilyar-milyar partikel debu jalanan berhamburan

hakcipta pada asharjunandar

Larik 17

Posted in Sampiran on Februari 29, 2008 by asharjunandar

Bila ragu yang kau yakini adalah bisikan hantu
Malampun turut menegaskan mimpiku
Yang didatangi perempuan itu
Ke sinilah, kuberitahu kau
Di sudut kiri kasur pasti kuselipkan belati
Dan aku bila tidur terlentang selalu tanpa baju
Letak jantung ditandai detak dada kiri
Bila ragu yang kau yakini sebagai bisikan hantu
Kupastikan acapkali lelap, kupadamkan lampu
Agar kau lewat udara tak perlu lagi menunggu
Dan untuk muntahmu pintu kamar mandi kubuka
Selalu

hakcipta pada asharjunandar

Larik 16

Posted in Sampiran on Februari 29, 2008 by asharjunandar

Kemarilah duduk di sampingku
Akan kuceritakan padamu
Mengapa elang membangun sarangnya
Di ketinggian
Sejak si induk betina merasa
Mengandung satu telur kehidupan
Sejak bulu, paruh, cakar, mata
Tembolok, pekikan, dan segala
Yang bagi makhluk lain menandakan
Bahwa seekor elang jantan
Ke dunia udara angkasa segera akan
DilahirkanKemarilah duduk di sampingku
Akan kuceritakan padamu
Agar kau tahu Makna sunyi itu
Adalah keheningan dalam mengecap rasa
Menyusui bayi rindu
Di ujung-ujung malam membatu
Dari dua ranum payudaramu

hakcipta pada asharjunandar

Larik 15

Posted in Sampiran on Februari 28, 2008 by asharjunandar

Tahukah kau mengapa kau dan aku
Ditertawai spidometer saat itu
Tawa dengan suara licik
Ditandai barisan gigi menguning
Seakan menuding

Tahukah kau mengapa jarum panjang
Di jam tanganmu tak mau
Disembunyikan di balik lengan panjang
Bajumu ?

Tahukah kau bahwa jarak yang paling jauh
Di alam semesta ini bukanlah
Jarak antara hidup dan mati

Melainkan jarak antara dua hati
Yang telah berjanji untuk saling merindui ?

Dan tahulah kau mengapa tuhan
Memutuskan untuk menumpahkan
Air bening surga
Hanya dari dua kelopak mata manusia

hakcipta pada asharjunandar

Larik 14

Posted in Sampiran on Februari 28, 2008 by asharjunandar

Di belakang stir kemudi supir sudah menyalakan api tembakau
Spion kiri-kanan dengan matanya telah memberi tanda
Dan deru mesin menguap di udara hinggap di saraf telinga
Kaupun sudah membelikan beberapa kerat roti dan sebotol susu
Jaket kulitku telah kulingkarkan di jenjang lehermu
Pengganti sal biru yang kau susupkan ke dalam tasku
Beberapa menit kemudian aku akan raib dari kaca
Yang sedari tadi terus kau pandangi dengan mata berkaca-kaca
Dan malam-malam yang panjang mulai malam ini
Akan kau lalui bersama sehelai bantal, buku diari dan pena
Dan semoga pada tanggal yang telah kau tandai merah
Di meja mungil dadamu, lingkar cincin itu masih kulihat
Melingkar di jemari manismu tetap erat melekat

hakcipta pada asharjunandar

Larik 13

Posted in Sampiran on Februari 28, 2008 by asharjunandar

Katakanlah sesuatu
Mumpung jemari kita bertaut dan wajah di beranda
Merapat
Menghadap deburan ombak
Katakanlah bila kau ingin rebah di pundakku
Atau bibirmu ingin disentuh bibirku
Selagi angin sepoi mengulum lembut gelombang
Ke dermaga pantai
Ceritakanlah mimpi-mimpi yang menjadi hantu
Hujam dalam-dalam ingatan jantungku
Hingga bila jauh aku satu kala di luar pulau
Yang arah kompasnya tak kau tahu
Mereka akan menyeret sesuatu yang sudah kau besarkan
Kembali ke beranda ini di dalam dadaku
Mengukur jarak bulan bersamamu
Serupa balita ayunan yang menunggu terburai susu ibu

hakcipta pada asharjunandar

Larik 12

Posted in Sampiran on Februari 28, 2008 by asharjunandar

Tanyakanlah lagi rasamu, bagian mana dari tubuhku
Yang ingin disentuh kulitmu kala malam dingin
Dan suara jangkrik tak ada lagi hulu-lalang
Dibelukar jalanan

Tanyakanlah lagi lidahmu, bagaimana rasa menunggu
Pahit jamu yang ditcampakkan darah di gudang lambung
Larut malam, seorang aktor gila bermonolog
Botol di atas panggung

Tanyakanlah lagi tanganmu, siapkah mereka menamparku
Bila aku merampok cium di bank bibirmu
Ketika kau lengah, ke luar dari pintu belakang
Teater itu

hakcipta pada asharjunandar

Larik 11

Posted in TANDAN PUISI on Februari 27, 2008 by asharjunandar

Kau songsong aku bagai kilatan matahari
Menusuk daun
Putih lembutku dibalut bening
Letih sudah berkeringat tubuhku
Bila kuku angin hinggap di coklat kayu
Atau menyusuri pasir pantai
Adapun aku akankah terdedak lagi
Di atas meja-kursi, kala siang mengganti pagi

hakcipta pada asharjunandar

Larik 10

Posted in Sampiran on Februari 27, 2008 by asharjunandar

Karena luka yang berlumuran darahlah
Bangir tubuhmu menguap tercium
Dan kucium dalam hirupan sumsum
Membayang lagi wajah bocal nakal
Ketika menyebarangi kali menuju hilir
Terjungkal ke risik air
Tanganmu rebah di tepian ranjang
Dipertegas irama desah bibir gerah
Sedikit longgarkahlah leher kerah
Biarkan kancing penutup dada rekah

Karena luka yang berlumuran darahlah
Aroma tubuhmu tercium
Dan kucium
Seperti mulai tampak bayang samar
Perempuan
Yang kelamaan tampak membias kaca
Disekujur putih mulus pahanya
Melintang bekas cakar serigala
Lewat matamu menyembur ke luar darahnya

hakcipta pada asharjunandar