Sub Bab Perahu Kayu , 3
Aku teringat dulu waktu kita
Masihlah kanak-kanak
Yang bermain lumpur di payau-payau
Sawah lapang
Ketika sore masih ramah
Untuk dijinakkan
Kita acapkali diam-diam
Menyelinap ke kamar kerja ayah
Mencuri dokumen-dokumen
Pentingnya
Dan kita buat perahu mainan
Dari harga tanda-tangan
Yang disakralkan
Meski kemarau
Ada satu selokan kecil yang airnya
Jernih mengalir
Entah dari mana dan akan kemana
Kau dan aku tidak pernah
Menanyakan itu pada belalang
Yang berloncatan sembaran
Di sela dedaunan rerumput
Yang mulai keriput
Atau pada kawanan burung
Yang sekedar hinggap sedikit
Menjaga jarak
Mencari sisa-sisa biji padi
Biasanya kau selalu memenangkan
Perlombaan ritual origami ini
Sambil senyum melingkar sepimu
Kau tunggu aku di tepian kali
Kecil itu
Di atas sebuah batu
Lalu kita sama-sama meletakkan
Pelan-pelan perahu kertas
Di atas kulit air mengalir
Menanti angin datang
Menghanyutkan mereka ke hilir
Dari tepian kita akan berlari
Lari kecil mengikuti liukan air
Yang memacu perahu kertas itu
Jauh – jauh kian jauh kita
Dari pekarangan rumah
Dan entah berapa milyar tawa
Yang sudah terburai di udara
Ke luar dari usus kecil kita
Sesekali kita berhenti sambil
Memegangi perut
Dengan lutut tertekuk
Sementara perahu terus saja
Dibawa aliran menjauh
Tanpa sauh
Perahu itu tanpa sauh
Hanya sembulan kerucut
Di tengahnya yang jadi kendali
Atas angin datang
Yang terkadang pelan
Liar bahkan
Kita makin jauh tertinggal
Di belakang
Dan bayang-bayang
Yang mulai hilang
Kita tersentak
Dimanakah kita?
Dan bajumu, kau tanggalkan
Di mana tadi ?
Oh, malam sebentar lagi
Dan sore itu, kita bolos lagi
Mengaji
hakcipta pada asharjunandar