Arsip untuk Mei, 2008

Runcing Kuku-Kuku Lentik-Mu

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Mei 28, 2008 by asharjunandar

Bukankah lesung pipi itu yang telah menegaskan

Betapa sempurna lekuk garis senyum bibirmu?

 

Bukankah bayang rembang sore yang telah menjelaskan

Sungguh terang kilau cahaya hitam rambutmu?

 

Dan bukankah ketika terseok langkah waktuku

Dicekalan cengkram jarimu

Telah berdarah cekungan kulitku

Oleh runcing kuku-kuku lentikmu?

 

Oleh tolol anggukan-anggukan batang leherku

Kepada sinar matahari di horizon matamu

 

Rawamangun, Senin Malam 1252008

hakcipta pada asharjunandar

Detik-Detik Yang Patah

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Mei 27, 2008 by asharjunandar

Selalu muncul tanyamu, yang memunculkan tanya

Pada tanyaku,

Mengapa kau bahagia saat bersamaku?

Saat malam-malam yang pincang dan kita saling mendekatkan

Wajah di tengah meja,

Tanya itu jadi hantu yang membisikkan padaku

Agar kembali kukecup bibirmu

 

Dalam kepulan asap yang kita hirup bersama

Dalam ranjang yang kita deritkan berdua

Selalu muncul tanyaku: Manakah yang paling menyakitkan

Melihatmu menangis dalam kelaparan

Atau saat kau tersenyum ketika pagi kubelai rambutmu

Sebagai tanda patahnya detik-detik kebersamaan kita?

 

Inspirited by Film: Radit & Jani

hakcipta pada asharjunandar

Di Degup Jantung Kita, Mereka Telah Menabuh Genderang Perang Itu

Posted in rajawaliarok on Mei 24, 2008 by asharjunandar

Kalau sudah begini mau apa lagi,

Sudah mereka tutup rapat-rapat pintu telinga nurani mereka

Sudah mereka banting gelas itu ke lantai

Mereka pertebal dinding dan mereka tinggikan pagar

Seruncing ujungnya menghadap arah timur ulu hati kita

 

Tak ada jalan mengalir lain lagi bagi air mata ini

Selain kita kembali mengasah pisau-parang karatan

Selain kita runcingkan kembali helai-helai bambu di jalanan

Desa,

Dan kita kepung istana

 

Siapkanlah tangga-tangga, sandang senapan angin yang tersisa

Dari jaman bapak pejuang kita, 

Mereka sudah tidak mau melihat lingkar kuluman lidah kita

Mari kita siapkan peluru-peluru doa

Dan tak ada jalan mengalir lain lagi bagi darah hidup kita

Bariskanlah meriam-meriam pergerakan kita

Arahkan muncungnya searah jarum jam yang berdetak

Di istana

Harus segera kita turunkan dan mengganti bendera

Mereka telah menabuh genderang itu bertalu-talu di degup

Jantung kita

 

hakcipta pada asharjunandar

Dalam Retak-Retak Doa Kami

Posted in rajawaliarok on Mei 23, 2008 by asharjunandar

to SBY-Kalla
mungkin kau ingin rasakan degup gairah jantung lapar kami
yang berdetak kencang,
mungkin ingin kau rasakan lagi bah air mata itu mengepung
istanamu,
mungkin kau coba ingin mencoba ketangguhan benteng peluru
tentaramu yang berbaris,
dengan kepalan-kepalan kecil bocah-bocah kami
mungkin dengan pongah, kau sudah menantang
sambaran petir itu, yang kami pinta dalam retak-retak doa
kami,
meremukkan punggungmu di kesendirian kamar mandi
dalam doa retak-retak kami

Rawamangun, Jumat 23052008
hakcipta pada asharjunandar

Di Dewan Surga Saja

Posted in rajawaliarok on Mei 23, 2008 by asharjunandar

rakyatku, rakyat di depan mikropon sajak ini,
aku bukan presiden kalian, tapi dengar angin
yang berseru dari balik tanda tanya larik ini

percayakah kalian pada lingkar cincin kata
yang kata mereka, mencinta?

bukankah perempuan sudah tertakdir jadi anak panah
setan?
dan mereka menembakkannya tepat ke jantung kalian

rakyatku, rakyat yang bersujud dengan muntahan
airmatanya,
gulunglah tikar hidup kalian,
atur pola makan, dan beryogalah

cari alur darah tersempit dan siagakan sumpit
minum dari titik embun saja,
dan jangan percaya pada petunjuk tetua desa
kau, aku dan kita akan sedang dikulum
di ujung lidah kelana,

di sudut-sudut yang bertanda neraka,
madu itu, kata-kata mereka di dewan surga saja

Rawamangun, Jumat 23052008

hakcipta pada asharjunandar

Negara Patung

Posted in rajawaliarok on Mei 23, 2008 by asharjunandar

Kemaren e-mail tanpa nama masuk ke inbox-ku

”Waspadalah, hari ini kerusuhan

Akan kembali menguras airmata ibu kita

Karena sembako rakyat bertambah lagi satu digit

BBM telah diangkat ke langit

Dan yang terus berpesta,

Hanya berpesta dialog dan simposium istana raja saja”

 

Akh, negara-negara

Cuma negara dengan patung-patung arca

Di istana kota

Bagaimana aku menjewer daun telinganya?

hakcipta pada asharjunandar

Tentang Kertas Ribuan di Bawah Ranjang

Posted in rajawaliarok on Mei 23, 2008 by asharjunandar

Pagi yang basi dan akan ada ritual kamar mandi

Aku bangun dengan mata bengkak sebelah kiri

Kubakar sebatang rokok dan sarapan televisi pagi ini

Tentang segerombolan orang berdasi

Yang ketagihan menculik seorang mentri

Keuangan, keuangan,

Kuteringat, semalam di bawah kaca jejeran kertas ribuan

Kusebarkan di bawah ranjang

 

Kuamati lagi jejeran kertas bergambar berwarna

Kata seseorang sesuatu tergantung niat yang berkata

Di hati,

Hati ini pun berkata padaku,

Selembar untuk pengamen bis ketika aku berangkat

Ke kantor nanti,

Selembar untuk pengemis kucel di perempatan merah

Dua lembar untuk penanak nasi uduk

Selembar untuk penyapu jalanan yang bergerak

Sambil menunduk

Dan empat lembar lagi untuk tukang ojek

 

Pagi yang basi dan akan ada ritual kamar mandi

Aku bangun dengan kemalasan tulang belakang yang kubenci

Seperti ludahku terasa kental di rongga mulut ini

Segerombolan orang berdasi

Senyum-senyum saja ketika berbicara di kotak televisi

Di depan kerumunan mikropon

Dan rimbunan pohon

Cacing-cacing itu menyembulkan satu-satu kepalanya

Menanti kotoran yang mungkin akan kukirimkan

Dari saluran perutku, pagi ini

Mungkin disampaikan takdir ke saluran air gedung

Berpagar tinggi

Atau kupaketkan juga lewat tiki

Dengan sisa-sisa lemar kertas di bawah ranjang

Dengan perekat cairan kental bekas malam tadi

 

Rawamangun, Kamis Pagi 22052008

hakcipta pada asharjunandar

Liang Mata Musim Gugur

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Mei 22, 2008 by asharjunandar

Lihatlah, mungkin memang aku yang tolol bila kau tak termangu

Seperti aku,

Baik-baik lihatlah, buku-buku telah terbuka dan jari telunjuk telah

Sampai ke halaman akhirnya, lihatlah baik-baik

Lihatlah, kalimat demi kalimat telah tersusun rapi sesuai ejaan

Dan mata telah memerah, membelah malam buta, lihatlah

Lihatlah di kaca,

Sampul-sampul kian mempercantik dirinya dan berlomba menawarkan

Diri terpajang di etalase, dan kau pun mulai mendekat, lihatlah

Tanganmu menggenggamnya, hatimu mulai tergerak,

Gerangan apakah yang akan kau lihat di dalamnya, lihatlah

Lihat, lembaran kertas uang itu berpindah tangan darimu

Ke laci berwarna, kasir yang menebar senyum, lihatlah dia tersenyum

Dan dari bibirnya, perwakilan terimakasih dari penerbit dan penulisnya,

Lihatlah, kau masukkan buku itu ke dalam tas hitammu,

Dan kau melangkah pulang, lihatlah, kau kunci pintu kamar

Dan kau tikam segala yang bingar, lalu matamu kembali melihat

Kata-kata, rangkaian kata, kalimat dan tanda baca yang sama, lihatlah

Kemudian lihatlah, lima jarimu ingin menampar satu wajah

Yang dari mulutnya telah meluncur kalimat pengantar yang sama

Aroma basinya,

Dan kemudian dengan sorotan mata yang sama, lihatlah

Matamu kembali melihat hamburan serapah yang sudah entah

Keberapa mengotori udara, dan akan kau lihat satu tanya:

Di musim gugur, mengapa semua orang masih mau mengiris matanya

Dengan Pisau cerita yang itu-itu juga

Dan menyangkal ketololannya?

Sedang liang, sudah tergali untuk matanya

Di hamparan tanah musim gugur yang entah

 

 

 

Nb: Setelah membaca sepersepuluh dari halaman novel

“Kitab Cinta Yusuf-Zulaikha”-nya Taufiqurrahman al-Azizy

Saya curiga atas petikan pernyataan rekomendasi Zawawi Imron di sampul depannya, tidak lebih hanya sebagai kamuflase iklan marketing belaka,

Akhirnya: “Don’t Just a Book by the Cover Only” itu seakan benar adanya,

Dan perlu penambahan mungkin, “And also by the Recommendator Only”

Innalillahi wainnalillahi rojiun

hakcipta pada asharjunandar

Tempat Paling Tersembunyi

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Mei 21, 2008 by asharjunandar

Mari kutunjukkan padamu dimana tempat persembunyianku

Ketika angin adalah angin puting beliung, ketika air adalah air bah

Ketika perjalanan adalah orbit malam, ketika panas adalah matahari

Yang terbakar, ketika asap adalah ular hantu yang merambat

Menaiki ranjangmu,

Mari kutunjukkan padamu dimana tempat persembunyianku

Tempat yang dikutuk dewa-dewa karena penciptaan manusia

Tempat induk burung menetaskan telurnya

Tempat dimana aku akan menabur benih kehidupanku

Di dalam tubuhmu adalah yang paling rahasia

Dari tempat persembunyianku,

Tempat dari mana dulu aku ke luar dari pintunya

Dan mulailah berlangsung penyaliban demi penyaliban airmata

hakcipta pada asharjunandar

 

 

 

 

 

Pelayaran Ini

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Mei 21, 2008 by asharjunandar

Kurasa kau telah tahu dan rasakan segala hal yang membuatmu

Jatuh cinta kepadaku,

Bagaimana ceritaku menarik naik dua jangkar bibirmu

Bagaimana kepalanku mengembangkan sauh pipimu

Bagaimana aku mengarahkan cahaya bulan ke hulu kapal matamu

Bagaimana aku mengembangkan langit-langit dadaku

Dan kau kapan saja menikmati bintang-bintang yang berenang

Di sana, di irama putaran nafasku yang menguapkan buih

Untuk awan hujan lautanmu

Tapi, begitulah jawabanmu bagi petirku yang menggelegar 

Ketika melengkung haluan dan kemudi matamu berputar

Menyimak getaran yang melebihi gonggongan serigala lapar

Kurasa telah kutahu kemana akhirnya pelayaran ini akan terdampar 

 

Rawamangun, Jumat  Malam, 16052008

 hakcipta pada asharjunandar