Masaku hanya 1209600 detik untuk menyampaikan inti dari inti ajaran agama rahasia deretan angka ini kepadamu.
“Satu” untuk Dia yang menciptakan aku dan merumuskan deretan angka detik ini untuk kusampaikan kepadamu. “Dua” untuk Adam dan Eva, sebagai tanah binatang permulaanmu. “Nol” untuk bumi sebelum mereka diturunkan dan mencari makan. “Sembilan” untuk zakar sang pejantan. “Enam” untuk vagina sang betina. “Sembilan-Enam”untuk anti klimaks plot drama birahi mereka. “Nol” untuk kenikmatan tertinggi sang pejantan. “Nol” yang terakhir untuk kenikmatan tertinggi si betina. Dan wajib kembali ke “Satu” untuk “Aku”, kau yang sekarang hidup di surga-neraka-KU, sebagai alur penyesaian”
Kau boleh tak percaya, tapi “AKU-lah nabi itu yang kini sedang berkata”. Dan bila kau percaya, aku hanya nabi tanpa wahyu yang kini juga dihadapanmu, sedang berkata.
Tentukanlah sendiri olehmu, sebelum benar-benar tandas ke dasar, masa deretan angka, detik-detik pasir aksara itu. Tentukanlah sendiri olehmu.
Rawamangun, Sabtu Siang, 28062008
Judul dipinjam dari judul Essay Hudan Hidayat di buku, Nabi Tanpa Wahyu
hakcipta pada asharjunandar

jaga, yang berjalan dalam diam, yang mengetuk pintu dan mengharap dekapan tangan dan pembenaman kepala di danau dada seseorang, di musim gugur yang merangkak pelan 