Sejak pertama kali ditemukan peradaban manusia kuno di berbagai belahan dunia, baik itu di Mesir, di Cina, di Afrika, sampai di belahan benua Amerika dan Asia, kelompok manusia pertama telah menggunakan perlambang sebagai bagian dari bahasa untuk menjalin komunikasi di antara mereka.
Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wahana komunikasi, kebiasaan ini berkembang terus mengikuti perkembanganbiakan anak manusia hingga kepada kita sekarang ini, terutama dalam mencipta karya sastra (puisi, cerpen atau novel, umumnya).
Berbagai objek alam tidak lepas dari teropong percobaan pengarang sebagai perlambang, termasuk perangkat tubuh manusia. Memang, sebagian besar penggiat sastra masih memanfaatkan komponen alam di luar tubuhnya sebagai objek perlambang. Namun tubuh manusia juga sebagai himpunan bagian dari himpunan semesta alam, memiliki hak untuk menjadi objek perlambang, apatah itu anggota tubuh yang tampak ataupun anggota tubuh yang memang sengaja disembunyikan.
Seorang penggiat sastra layaknya seorang musafir yang sedang melakukan pengelanaan diri, ke luar dari satu tempat menuju tempat yang lain. Pengelanaan ini tidak akan pernah berhenti sampai dia menemukan tempat tujuan akhirnya, yang dalam hal ini, manusia sebagai mahkluk tuhan yang berbudaya, akan mencapai tujuannya ketika kematian tiba. Di muka bumi ini, kematianlah yang menjadi ujung pencarian manusia.
Dalam rangka pencarian inilah, seorang pengelana sah-sah saja menemui berbagai tempat yang ingin dikunjunginya. Apakah tempat itu memang mengandung marabahaya atau tempat itu kebetulan merupakan tempat yang aman, damai-sentosa.
Adalah sifat dasar makhluk apapun mencari tempat aman. Seorang pengelana yang memiliki sifat ini akan selalu mencari dan melalui rute dan tempat yang aman-aman saja untuk mencapai tempat tujuan akhirnya. Namun jangan lupa, lain lubuk tentulah lain ikannya. Meskipun sama-sama menyandang predikat musafir, pengelana yang satu dengan pengelana yang lain, tentu terdapat perbedaan dalam hal karakteristik rute jalan dan tempat persinggahannya.
Bila diibaratkan rute dan tempat-tempat yang disinggahi pengelana ini sebagai objek perlambang yang digunakan pengarang sebagai wadah bahasanya, tentulah objek perlambang ini juga jadi satu hal yang berbeda-beda adanya.
Kuantitas dalam keseragaman, terutama pengangkatan objek perlambang ketika mengusung tema yang nyaris sama, menjadikan sebuah karya menjadi pasaran. Siklus daur hidupnya dimata pembaca atau penikmat sastra tentulah menjadi lebih singkat, teramat singkat. Terutama bagi penikmat-penikmat sastra serius.
Pengusungan tema tentang ketuhanan (dengan segala macam embel-embelnya) masih menjadi primadona dalam gengre karya sastra apapun. Karena tuhan itu sendiri sesuatu yang abstrak, tidak terjangkau indrawi namun dapat dirasakan kehadirannya.
Dalam puisi khususnya, penggunaan perlambang untuk mencapai hakikat tuhan, pada saat sekarang ini, hanya dengan mengandalkan materi perlambang yang sudah umum telah mencuatkan titik jenuh berkepanjangan sebagian besar orang.
Lihat saja, dalam sehari, ratusan bahkan ribuan puisi yang tercipta, yang intinya mencari hakikat ketuhanan dengan penggunaan objek perlambang seperti “noda hitam, kegelapan malam, jemari kasih sayang, pintu-Mu” sudah terlalu umum dan terlalu sering didengar. Akibatnya, puisi itu dianggap kamuflase, basi atau bahkan membuat kita malas membacanya. Bisikan-bisikan lirik dalam bait puisi seperti ini, misalnya:
Tunjukilah Aku, Tuhanku
Sudah terlalu banyak noda hitam yang kucerna
Dalam hidup ini, silih berganti, datang dan pergi
Aku masih sendiri di kegelapan malam ini
Tuhan, karena akulah hamba-Mu, maka aku datang bersimpuh
Bukakanlah pintu air-Mu bagiku, yang dahaga akan sentuhan
Jemari kasih sayang-Mu.
Hingga terang adalah terang
Dan segenap gelap kembali terang
Bagi sebagian orang yang awam karya sastra, mungkin saja penggalan puisi di atas menjadi penggalan puisi yang indah baginya. Tapi bagaimana dengan penikmat sastra serius yang diserang penyakit dahaga makna yang terus dan terus ingin dipuaskan dengan kualitas sastra yang lebih mendalam lagi? Masihkah mereka dapat menerima penggalan sajak tersebut sebagai sebuah karya sastra yang berkualitas?
Nah, disinilah timbul dilema persfektif sastra. Bermutu atau tidak bermutunya karya sastra, menjadi hal yang subjektif bagi kebanyakan kasus. Dan berpulang kembali kepada lumbung hikmah yang telah disimpan dan diserap sel-sel saraf perasa si pembaca sendiri selama proses perjalanan hidupnya.
Dimanapun dan kapanpun, adalah minoritas dari mayoritas penggiat sastra yang berani merambah daerah objek perlambang yang “dianggap terlarang” sebagai sarana bahasanya dalam berkarya. Tentunya, ini berpulang kembali kepada sifat mendasar manusia tadi (mencari rute dan tempat aman, atau merambah segala rimba raya alam semesta, termasuk sarang-sarang yang bergelantungan di tubuhnya).
Berbagai nilai yang sudah terlanjur menjadi dogma di masyarakat tertentu dan sudah menjelma menjadi rantai tatanan yang dianggap telah disepakati bersama oleh segenap komponen masyarakat menjadi tali gantungan bagi minoritas penggiat sastra yang mengambil rute dan tempat lain sebagai tempat persinggahannya. Apatah lagi, rute itu adalah rute birahi dan tempat persinggahan itu adalah bagian vital tubuh manusia.
Kenapa ?
Karena komponen itu adalah komponen perlambang yang sudah dianggap menjadi sebuah kesepakatan oleh sebagian besar orang dalam masyarakat sebagai komponen tersembunyi.
Ketika seorang pengarang mencari jalur dan tempat berbeda dengan menggunakan alat vital tubuh manusia sebagai bahan perlambang bahasanya dalam menghasilkan karya, sekonyong-konyong kaum mayoritas masyarakat tadi mencapnya sebagai sebuah penyimpangan.
Tapi salahkah para pengelana sastra minoritas ini?
Ketika kita dihadapkan pada satu karya sastra yang berbasis objek perlambang alat vital tubuh manusia, yang perlu diingat adalah sebuah pepatah sederhana yang sudah demikian mendarah daging di batok otak kita, sampai-sampai kita melupakannya. Pepatah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”.
Karya sastra yang menggunakan komponen alat vital manusia sebagai objek perlambang, tentulah memiliki banyak pintu untuk kita memasuki maknanya. Dan ketika berbicara pintu dan upaya memasukinya inilah, pepatah tadi berguna.
Bahwa pembaca dengan kedangkalan hikmahnya, akan memandang objek perlambang tersebut sebagai objek itu apa adanya. Sedangkan pembaca yang sudah mencapai tingkat pemahaman yang melebihi rata-rata dapat melihat objek itu sebagai perlambang pintu untuk memasuki satu ruang yang lebih dalam lagi, ruang yang lebih luas, bahkan tidak bertepi, seperti ruang semesta raya ini, sehingga pada akhirnya dia menyadari keberadaan dirinya sendiri ketika bercermin pada cermin perlambang itu. Bahwa dia hanya setitik kecil objek dari objek yang jauh lebih besar yang telah diciptakan oleh Sang Mahasubjek.
Tentunya, resiko penggunaan objek vital manusia sebagai perlambang dalam sebuah karya sastra juga, mengandung resiko yang sangat besar. Disinilah, dibutuhkan kematangan dan keseriusan seorang penggiat sastra dalam bergelut dengan dirinya sendiri untuk mencipta sebuah karya.
Jadi selain kematangan sang penggiat sastra sebagai pencipta karya, kematangan pembaca, sebagai penikmat sastra juga, haruslah terus meningkatkan mutu atau kualitas bacaan hidupnya sehingga tafsir yang dilakukannya terhadap karya sastra yang mengusung objek vital manusia sebagai bahasa perlambang, mampu menyikapinya lebih bijaksana.
Bukankah hakikat penggalan sajak di atas tadi tidak jauh berbeda dengan penggalan sajak berikut?
Mulut-Mulut Zakar
Dengan mulut, air ini kumasukkan ke dalam perut. Dengan mulut zakar kukeluarkan segala yang mesti ke luar. Kutegak segala cairan dari segenap mulut botol menganga. Kubiarkan darahku berganti warna serupa warnanya.
Terlalu papa pelangi, sudah. Karenanya, kujauhi bias-bias hujan yang tak kunjung reda. Dari lautan matahari selalu mengangkat bangkai-bangkai buih, lalu ditiupkannya roh-roh ke jasad bumi.
Bermilyar mulut para binatang akan menganga. Tapi tidak untuk sepasang mulut saya. Mulut yang menegak segala caian dari segenap mulut botol menganga. Dan mulut zakar yang mesti mengeluarkan segala yang mesti ke luar dan terjerembab ke limbah muara sana. Dimana bangkai-bangkai buih membusuk dan tak menebarkan aroma rasa.
Nah, tunjuk-tanganlah kiranya, siapa yang memfonis penggalan sajak ini, sebuah fornograpi sastra?
Dibanding orang yang menggunung ilmunya namun kelopak mata hikmah itu tetap terkatup-tertimbun saja. Saya rasa, beruntunglah orang yang diberikan sedikit saja ilmu namun mata hikmah terbuka padanya, sehingga buah zakar belalang, selalu tampak indah di bola mata kupu-kupunya.
Rawamangun, Senin malam, 14072008
hakcipta pada asharjunandar