Arsip untuk September, 2008

Kepada Para Kurawa, 2

Posted in runegreen dengan kaitan (tags) on September 24, 2008 by asharjunandar

Oh mata, terbukalah yang belum terbuka

Tunjukkanlah padaku yang belum terbuka

 

APA saja yang belum mau membukakan mata

 

Rawamangun, 16092008

 

9 Bir Hudan

Posted in ShorTime In HeaVen on September 22, 2008 by asharjunandar

Nabi Kata

: buat Hudan Hidayat

Telah kutandangi banyak pengajian. Aku selalu kebagian ujung tikar paling belakang. Mulut-mulut itu maulana-maulana. Entah siapa yang mendengar, siapa yang berkata. Aku jengah, dua puluh tahun kaki ini bersila dan hanya pada satu posisi yoga telinga. Tidak, mereka bukan instruktur-instrutur surga.

 

Tuan Ismail, sudah seperti Ibrahim yang kelimpahan Taufik kebekuan-Nya ketika Namrud bersekongkol dengan tentara Api. Seakan percintaan telanjang “Tuan dan Nona Kosong” bukanlah lagi butiran cairan anggur yang berdiam di dasar cawan-cawan pembuluh darah adam dan hawa.

 

Aku jengah. Dua puluh enam tahun dada ini hanya menghafalkan alif-ba-ta. Di ruang-ruang dengan delapan sisi dan delapan titik sudut, telah retakkah dinding-dinding kerucut dan bola? Orang-orang yang pandai berhitung, cuma fasih merumuskan pajang kali lebar kali tinggi saja, untuk mengetahui volume makna.

 

Dimensi bertumbuh angka pangkatnya diantara patahan-patahan logika dan sejarah. Sebagai pendeklarasian hamba tuhan, selalu ada ruang lain untuk ranjang peraduan “Tuan dan Nona Kosong” mengerang lebih panjang dan kian panjanglah erangan… Bila mulut-mulut itu masih betah sebagai maulana-maulana, erangan-erangan panjang yang telah mengalir dari mulut “Tuan dan Nona Kosong”mu, dimanakah sulbi dan corong vaginanya, Tuan?

 

Badan gelap ini ingin segera basah, tenggelam di air kolam cahaya. Air yang mengalir dari sela jari nabi itu. “Nabi Tanpa Wahyu”. Nabi yang hidup dan mengajarkan kemerdekaan “kata” dalam tubuh-Mu.  

Rawamangun, Rabu pagi, 25062008

 

 

                         

 

Ketelajangan itu Hudan,

Ketelanjangan itu Kleopatra yang tengah mandi, mengguyur seluruh tubuhnya di air mancur, taman jantung Roma. Seraya membiarkan bayi itu bergelantung di puting susu kanannya, pucuk bukit kanannya menghadap Dewa RA.

 

Gaius Julius Caesar telah membeli pengorbanan Mesir yang di susupkannya di dua bola mata patung Kleopatra. Patung yang berdiri dan perutnya membelakangi Ara Maxima. 

 

Orang-orang hululalang saja di jalanan bata yang bertanya pada mereka:

“Perempuan itu siapa? Perempuan itu siapa? Beraninya dia telanjang bulat di jantung Roma, di depan mata Ara Maxima?”

 

Suara-suara beradu dentang loceng di forum. Kertas-kertas berhamburan mencari pintu. Gelap di siang itu, para perempuan kota bersegera menutup jendela kamar suami-suami mereka. Tapi dari Puncak Aventine, siapakah yang sanggup membubarkan gerombolan anjing dan gagak yang berbaris terpana: Ketika jemari Caesar mulai meremas rambutnya, melumat bibirnya. Dalam terik, yang mulai berwujud rintik embun dan bisikan angin Roma

Rawamangun,  Kamis pagi, 26062008

Inspirated by Kredo Seni Hudan di”Nabi tanpa Wahyu”

 

 

 

 

 

Tuhan Pasti Berhenti Bertepuk Tangan, Hudan

Tuhan akan berhenti bertepuk tangan, Hudan. Bila seluruh manusia saling melekatkan tangan dan pipi di awal berkenalan, Tuhan pasti tercengang. Mengapa surga menunjukkan jati dirinya sebelum tikar semesta selesai tergulung dan kembali dihamparkan?

 

Neraka pasti megikat plasenta rahimnya sendiri, Hudan. Sebab butir-butir ovumnya akan kadaluarsa sebelum waktunya, Sebab sperma-sperma lelaki yang terpilih dan dijanjikan, lebih dulu mengebiri saluran zakarnya

 

Seseorang hanya berhayal, Hudan. Berhayal hendak memperoleh keturunan dengan membuang muka dari bayang-bayang ranjang ketelanjangan. Dan kalau teori Evolusi Darwin benar, musnahlah habitat penjual pakaian dikarenakan seleksi alam, alam surga yang kepagian datang, Hudan. Dan terpastikan sudah, tak akan kau dapati lagi, jejak-jejak bocah yang mencari kerang di tepian pantai, atau lengkingan suara-suara girang yang dari karang berloncatan ke permukaan lautan. Bumi ini niscaya segera disuburkan oleh steril kesunyian yang maha-maha panjang.

 

Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan, Hudan. Dan Dia akan menangis darah sendirian. Sepasti terselesaikan sudah segenap permainan. Seperti terburai isi-isi usus keganjilan pada satu logika keyakinan, Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan.

Rawamangun, ispirated by Essay :”Sastra yang Hedak Menjauh dari Tuhannya” by Hudan Hidayat di buku “Nabi tanpa Wahyu”

 

 

 

 

 

Basmalah yang Terkunyah Graham

: buat Hudan Hidayat dan Fadjroel Rahman

Ke Asia, ke Afrika, ke Amerika, ke Eropa, ke Antartika, kemana kau akan melarikan borok lehermu, Hudan? Bulumu memang putih, semulus salju. Tapi dipenjuru bumi mana, kaum yang tidak meneruskan tradisi penyembelihan anaknya sendiri, seperti yang dipercontohkan Abraham di hadapan berhala?

 

Meski berborok lehermu, dagingmu tetap segar, Hudan, Dan bila kau bisa menghitung, berapalah volume asap Basmalah yang mengepul di udara, ketika pembukaan halaman pertama “Dongeng untuk Poppy”, Fadjroel?

 

Tidak Hudan, pisau-pisau yang mengejar-ngejar dan hendak menyembelihmu itupun dua sisinya masih tetap saja tumpul. Dan granit menutup wajah pula dengan sepuluh jarinya, lari terbirit-birit juga ketika bertemu mereka.

 

Dagingmu memang segar, Hudan. Dan aku berani bertaruh, darahmupun melebihi anggur manapun yang pernah singgah di tembolok mereka. Tapi lupakah mereka pelajaran Biologi yang dulu disampaikan seorang guru perempuan dengan rok pendek setengah pahanya?. Bahwa Sapi merumput di padang yang entah berapa ton sudah kotoran satwa lain mengendap di rawa-rawanya. Di kubangan kau dan aku membersihkan badan dan anak keturunan kita.

 

Bukan di hari-hari Adha saja, Hudan, minimal seminggu sekali, layaknya pembesar-pembesar di istana sana, mereka akan singgah di warung-warung nasi padang, “ Uda, pakai rendang ya, dan jangan lupa sambal merahnya!” Itulah hidangan malamnya. Basmalah itupun terkunyah di graham-graham mereka, terlumat di usus-ususnya. Kotoran yang sudah lebih dulu bercampur dengan bumbu penyedap masakan. Sedang mereka, setengah jam dulu duduk ngaso, menghabiskan tiga batang rokok di depan meja. Dan benih kotoranmu yang sesungguhnya, mulai bekerja, serentak membiak di seluruh sel-sel tubuh mereka.

 

Tidak Hudan, ke Asia, ke Afrika, ke Eropa, ke Antartika, bukanlah jawaban, meski borok di lehermu, kata mereka, lebih ganas daripada virus anjing gila. Lebih mematikan daripada bisa King Kobra. Kau tak perlu lari kemana-mana. Dan mari kita lanjutkan lagi pesta merumput kita saja. Hingga benar-benar membantal busa daging paha kita. Mari Hudan, kita memamah, sesederhana naluri binatang saja. Kuyakin, Fadjroel, Si Pendongeng untuk Poppy itu juga, sebangsa dengan nenek moyang suku kita. Yang betah di habitat aslinya dan tak akan kemana-mana.

 

Mari Hudan, kita terus meruput saja.

Rawamangun, Sabtu Pagi, 26062008

Inspirateb by Essay “Pintu Sejarah yang Menutup” in “Nabi tanpa Wahyu” by Hudan Hidayat.     

 

 

 

 

 

Nabi Tanpa Wahyu

Masaku hanya 1209600 detik untuk menyampaikan inti dari inti ajaran agama rahasia deretan angka ini kepadamu.

 

“Satu” untuk Dia yang menciptakan aku dan merumuskan deretan angka detik ini untuk kusampaikan kepadamu. “Dua” untuk Adam dan Eva, sebagai tanah binatang permulaanmu. “Nol” untuk bumi sebelum mereka diturunkan dan mencari makan. “Sembilan” untuk zakar sang pejantan. “Enam” untuk vagina sang betina. “Sembilan-Enam”untuk anti klimaks plot drama birahi mereka. “Nol” untuk kenikmatan tertinggi sang pejantan. “Nol” yang terakhir untuk kenikmatan tertinggi si betina. Dan wajib kembali ke “Satu” untuk “Aku”, kau yang sekarang hidup di surga-neraka-KU, sebagai alur penyesaian”

 

Kau boleh tak percaya, tapi “AKU-lah nabi itu yang kini sedang berkata”. Dan bila kau percaya, aku hanya nabi tanpa wahyu yang kini juga dihadapanmu, sedang berkata.

 

Tentukanlah sendiri olehmu, sebelum benar-benar tandas ke dasar, masa deretan angka, detik-detik pasir aksara itu. Tentukanlah sendiri olehmu.

Rawamangun, Sabtu Siang, 28062008

Judul dipinjam dari judul Essay Hudan Hidayat di buku, Nabi Tanpa Wahyu

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunfayakun Hudan

“NOVEL yang besar selalu mengandung tragedy dalam dirinya”. Sebagai tuhan yang mencipta inilah falsafah kunfayakunmu, Hudan. Aku bukanlah tuhan novel. Tapi aku juga sudah sedang menjadi tuhan bagi bapa sajak-ku dan keturunannya. Dan kunfayakunku adalah kesunyian yang menggong sangkakala di dada.

 

Memang begitulah kalau sesama tuhan, Hudan. Ternyata ada juga tuhan yang tak becus menciptakan makhluknya sendiri, kemudian mengusik makhluk tuhan-tuhan lain yang sudah suci kodrat-Nya.

 

Tuhan-tuhan itu bergerombol di meja-meja kerja, di symposium-symposium, di forum-forum. Mereka hendak menggugat sendiri kaca mata minus-nya. Aku jadi teringat Tardji di satu kalimat terakhir Essaynya:”Anjing menggonggong tanda tak menggigit”.  Lah, sebenarnya mereka tuhan atau anjing yang ngoyo menunjukkan taringnya saja, Hudan?

 

Hahaha, ada baiknya tak usah kau  tanyakan kepada Ketua Klan Situmorang. Berkunfayakun- sajalah Hudan. Seperti Tardji yang ber: Puah!, Pukimak pun jadi Mantra.

Rawamangun, Sabtu Malam, 28062008

 

 

 

 

 

 

Tumbilang

Kau makin nakal saja, Hudan. Di halaman 53, kau buat aku harus membakar batang rokok ke delapan. Sebagai peladang, aku harus masuk ke rimba yang lebih jauh dari perkampungan. Itu butuh pertaruhan, Hudan. Aku tidak boleh lagi menggunakan cangkul, pupuk, bibit dan apa saja, bahkan unsur hara yang sama untuk sekedang menghasilkan seonggok jagung bakar.

 

Tapi aku butuh sesuatu, Hudan. Setidaknya parang dan mantel goni. Kau pernah mendengar gelegar auman harimau Sumatera? Bagi penasbihan Tardji, dia tak akan pernah membaptis seorang penyair yang tak memiliki gaya pengucapannya sendiri.

 

Rawa berlumut dengan kepungan nyamuk dan kalajengking ini memang sudah kubakar, Hudan. Dan kau tahu, aku hendak mencangkulnya dengan barisan gigi seri di mulutku sendiri. Oh ya, beritahu aku, kalau kau satu waktu mendapati peladang yang lebih dulu menggunakan metode ini. Setidaknya, yang terpikirkan olehku, si zakar ini masih bisa menjadi tumbilang rahasia cadanganku nanti Hudan. Pastilah dia tambah tajam oleh asahan kerikil-kerikil alam   

Rawamangun, Minggu dini hari, 29062008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarang Novel Itu, Berkata:”……”

Begitu sederhana logika kata, akal kalianlah yang merumit-rumitkannya. AKU adalah Seorang pengarang Novel. Novel pertama dan paling mahsyur di dunia. Sehabis pengantar pembuka, di halaman pertama, bab pertama, paragraph pertama, kalimat pertama Novel-Ku, Kutuliskan Alif-Lam-Mim.

 

Karena AKU-lah yang mengarang, AKU bebas  menuliskan kalimat apa saja, termasuk pada kalimat pertama.

 

Kalianlah pembaca. Dan kalian berhak mengartikan tiap kalimat yang telah kutuliskan di dalam Novel-KU, sebagai pembaca.

 

Bisa saja Alif untuk “Eh, itulah anak yang bernama Alif”. Atau “Pus..pus…Alif, ke sini sayang, ini ada ikan” atau, “Baju yang kukenakan ini bergambar Alif”

 

Bisa juga Lam untuk ”Lama sekali baru datang” atau “Lam, tolong ke sini sebentar bawakan lilin”

 

 Dan Mim boleh saja untuk”Mimi cucu” atau “Mimikmu, aneh gitu” atau “Mim untuk M latin”

 

Tapi kalimat berikutnya, AKU tuliskan:”Novel ini hanya diperuntukkan bagi si pembaca yang percaya”.

 

Dan tentang ketelanjangan, di dalam Novel-KU, AKU telah menuliskan pula, “Telanjangilah Ketelanjangan segenap tubuh semesta alur, tokoh, latar, dan apa saja yang telah KU-terakan dan KU-rahasiakan di dalam Novel-KU.  Dan kalian, hanya akan sanggup membaca dengan kemampuan seorang pembaca”.

 

Karena AKU-lah Sang Pengarang dan kalian hanya pembaca, begitu sederhana logika kata. Akal kalianlah yang merumit-rumitkannya.

Rawamangun, Rabu dini hari, 02072008.

Inspirated by Essay “Ayat Gelap dan Ayat Terang” in “Nabi Tanpa Wahyu” by Hudan Hidayat

 

 

 

 

 

 

 

Hudan di Sampul Depan

Aku belum selesai membacamu, Hudan? Dari sampul depan, entah lengan kiri atau kanankah yang menyentuh keningmu?, Seakan hendak menggaruk. Bagian manakah yang gatal, Hudan?

 

Aku belum selesai membaca matamu, menunduk seakan hendak mengatup. Seperti sujud lancip hidungmu yang mengarah ke titik kiblat sudut kanan bawah buku itu, Aku tak sanggup melihat telinga kananmu

 

Kureka-reka sebaris nama bercetak capital di bawah tulisan “Esei-Esei Sastra Perlawanan” yang tercetak miring menanjak.

“Bukankah Hud, nama seorang nabi ? yang “an” berarti satu? Dan ayat, tentulah kalimat-kalimat Sang MahaPenghikmat.  Lalu bagaimana dengan Hid?

 

Hah, namamu saja sebotol bir tekakeki, lalu bagaimana gigiku mengunyah halaman pertama “Nabi Tanpa Wahyu”

Rawamangun, Jumat malam, 04072008

Petisi Masa Kecil, 2

Posted in runegreen on September 18, 2008 by asharjunandar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di depan monoligh, ini anakku.

Di sebuah kamar yang paling gelap

Aku serahkan tubuhku yang paling tubuh

Kulentangkan lentangku yang paling lentang

Pada seseorang untuk menghadirkanmu

Ke dunia ini,

 

Aku tak lagi mempertanyakan

Rasa sakit terkoyak oleh tipudaya lelaki

 

Sebab yang paling tipudaya itu adalah aku

Maka akan kuajarkan padamu

Segala tipudaya yang pernah menipuku

 

 

Di depan monoligh ini anakku.

Di sebuah kamar yang paling gelap

Kau pun akan jadi lelaki yang menipu

Dengan rapalan doa, seakan-akan-

 

Seakan-akan ketulusan hanya terselip

Di sela-sela lubang kecilku

Dari mana engkau pertama kali keluar

Dan menangis, yang kuartikan

Panggilanmu padaku: Ibu

 

Akan kuajarkan padamu

Segala tipu daya yang pernah menipuku,

Anakku

 

Dalam doa, yang takkan sempat teraminkan lagi,

 

Dulu, sekarang, dan nanti

 

 

hakcipta pada asharjunandar

Aforisma Bongkar-Pasang Kita

Posted in runegreen on September 18, 2008 by asharjunandar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Luruhkan satu persatu belulangmu.

Mulai dari batok kepala, leher, tengkuk, sampai ujung jari induk kaki.

Seperti rontoknya mendung meracik-remas patung hujan,

siapa pula yang tak berbondong-bondong menciduk mereka

dari museum yang penjaganya ketiduran.

 

 

Luluhkan satu persatu belulangmu, biar kutangkap sesendinya dan dalam mempertanyakan kususun kembali formulanya.

 

Kau berbicara, berarti mempertanyakan posisi apa saja.

Dan membuatmu duduk manis di situ,

di sebuah bangku jauh lebih rumit daripada menggotong berton-ton patung penghuni museum fikirku.

 

Seperti empat kaki kursi, kadang kita betah dalam diam, meski digaruk beragam pertanyaan. Kau dan aku dibesarkan oleh museum kesunyian, yang tak pernah dikunjungi pengunjung, dan tanpa jam tutup, untuk kalimat yang masih betah memandang kita, depan berhadap-hadapan, di sepasang kursi yang sudah mulai kakinya goyang.

 

Siapakah yang telah sanggup menjinakkan seekor binatang liar di dalam rimbanya?

Siapakah yang menjinjing tas berisi buku petunjuk ke hutan?

Siapa yang mandi sembunyi-sembunyi di sela bebatuan?

Siapa yang selanjutnya tanpa matahari sanggup mengeringkan badan?

 

Siapa yang berkata kenyang di tengah pemukiman kampung?

Senapan siapa yang bersorak ketika mendapatkan babi buruan?

 

Siapa yang sadar disini perhitungan jumlah dengan pengurangan?

 

Siapa yang membakar, kemudian memadamkan?

 

 

Luluhkan satu persatu belulangmu, biar kutangkap sesendinya dan dalam mempertanyakan kususun kembaliformulanya.

 

 hakcipta pada asharjunandar

Antonim Kekal

Posted in runegreen on September 15, 2008 by asharjunandar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kau hendak membangunkan dan membentangkan jarak

antara kau dan aku.

 

Seperti lautan dan daratan yang dipisahkan garis pantai.

Betapa tipis sesungguhnya perpisahan

yang bertentangan apapun padanan antonimnya,

hakikatnya adalah sinonim yang bersembunyi dalam rahasia,

 

Airku yang bergerak tetap mendatangi pasirmu yang berserak.

Sebagian kutinggalkan dariku, sebagian kau kubawa bersamaku

 

Langit akan tetap diam, sebagaimana Dia

Sebab ketinggian yang menegaskan jarak

Sedang kau dan aku di kerendahan yang dihujani awan hitam

Berarak

 

Kau boleh diam dalam segenap semedimu yang rimba

dan panjang,

atau sesekali kau murka dengan meledakkan lava

dari pucuk-pucuk putingmu yang bertebaran

 

Akan kupadamkan dengan luapan anak-anakku

yang merindukan percik kembang api,

ketika mereka kehilangan peta, menuju muaraku,

yang dipertegas garis pantai,

pertemuan sebagian kau dan aku

 

Antonim kekal, yang selamanya memang akan begitu

 

 

Rawamangun, 15092008

 

N-1

Posted in rajawaliarok on September 12, 2008 by asharjunandar

Air kencing menjijikkan ini

 kubasuhkan ke lima anggota badanku

agar sampai ke kerak neraka manimu

yang paling arang

Kesatria Rama Berkuda Putih

Posted in runegreen on September 11, 2008 by asharjunandar

 

 

 

: bk & rk

 

/1/

Sinilah nak,

hari sudah larut malam

dan

setengah kantuk menghimpit badan.

 

Melingkarlah di perut ibu,

seperti dulu kau menghisap jempolmu

di dalam rahimku,

dari tali darah itu kau kususui,

dalam posisi ayunan timang-timang,

anakku sayang.

 

Kenailah bulu tanganmu

yang mulai setengah matang,

ke pori-pori dua payudaraku.

 

Beginilah terasa lingkar tanjakan hidup,

tampak lembut,

sesungguhnya ditumbuhi sesemak lubang halus

juga teramat dalam,

kapan saja mengangkangi matahari kakimu

yang sepasang dan berseberangan.

 

Sinilah nak,

hari sudah mengentalkan pigmen rambut ibumu,

yang masih perawan.

 

Dalam diari

pelepah halamannya luruh satu-satu seperti usiamu,

bacalah halaman terakhir saja,

dimana kesimpulan kasih sayangku

kusalin untukmu

dengan tinta darah dan pena airmata.

 

Sinilah nak, peluk ibumu,

biar kau kupeluk,

dan kita saling memeluk-terpeluk oleh kantuk

yang dipeluk oleh dia yang tak pernah kantuk,

 

Sinilah nak, kemari.

Ukur demam kesunyian ibumu

yang tiada tertera di thermometer apapun,

di dunia ini, selain di meteran hatimu.

 

 

/2/

Bunda,

hari memang sudah larut di pelupuk mata yang kantuk.

Tapi aku kesatria, kini dan kelak

di gerbang istana kita yang tanpa punggawa,

 

Izinkan, aku terus melanjutkan pelajaran berkuda.

Kuda-kudaan kayu peninggalan ayahanda, masih mengerlingkan

mata kekuatan derapnya yang jantang petir,

meraung sampailah ke puncak Sinai musa.

 

 

Bunda,

hari memang sudah larut di pelupuk mata yang kantuk.

Tapi pedal ini berayun ayun mencipraki gadam si ekor panjang,

yang bulunya tebal putih seperti kucing kesayanganmu,

yang bermain di sela kakimu yang jenjang,

seperti badanku yang ditegakkan kurus tulang,

kuingat di peti inilah, daud menitipkan sebilah pedang

kepada sulaiman.

 

Di peti yang kini terbuka penuh,

di ruang hatimu yang benderang sungguh.

Ketika dulu dayang-dayang berebut hendak memandikanku,

dan jeritku menuntunmu turun dari singgahsana itu.

 

Bunda,

tak kujemput siapa-siapa, selain kehidupan,

yang katamu mendebarkan sekujur badan para panglima kita,

Mereka hendak kutaklukkan,

dan bersama derap kuda jantan putih ini,

kutancapkan bendera rambutmu di bukit yang paling tertinggi,

di jagad ini,

 

Sebelum kau pejamkan kelopak matamu yang suri.

 

 

/3/

Aku tak meminta apapun anakku sayang. Kau kenyang, laparkupun hilang. Tapi ingatlah suapan tangan gemetar ini, yang sudah menyapihmu selama selebas lingkaran, ada delapan arah yang tak lagi pernah tersilangkan.

 

Katamu, kau haus sayang. Kuberikan susu yang paling susu tuhan. Katamu kau menggigil, kulingkarkan selimut yang paling sutera adam.

 

Aku mengeja huruf demi huruf namamu sayang, dalam tiap nama yang pernah memperkenalkan. Kulantukan timang-timang doa kepada temali ayunan, lelakillah jadi lelaki kelana anakku, sayang.

 

Jadi lelaki terbumi, yang menentang langit yang menyombongkan tujuh lapisan topan.

 

 

/4/

Bunda,

aku kekar di sini seperti akar beringinmu,

merambat ke segala penjuru seperti randu,

yang dituntun angin musimmu.

Musim yang membangunkan semak di sekitar batangku,

 

Bunda,

tubuhku bercabang,

berdahan,

beranting berdaun,

berbuah hijau kemerah-merahan,

bagi anak elang yang hendak belajar terbang.

 

Kukenal senja seperti kau mengenalkan,

kujabat tangan malam seperti kau yang menyalakan bulan.

 

Kirimi aku terus humusmu ibu,

serapkan aku lewat pori-pori doamu

yang membuahi serbuk sari putikku.

 

Hingga buah ke buahku,

dipetik musim ke musimmu

Rawamangun, Senin 07092008

13 Sajak Kelana

Posted in runegreen on September 8, 2008 by asharjunandar

 

 

/1/

Di kamar beriman setengah matang ini, kemaren sudah kau saksikan berpotong gambar tanggung yang terus coba dihidupkan rekat lakban coklat muda tanggung. Beberapa buku yang sempat mencapai ratus, kau amati judul per judulnya dengan mimik serius kepulan asap. Kipas angin menderu, menderukan jantungku, sebab kau kuak sedikit sembulan dadamu. Bagaimanapun Jakarta dalam genggaman tangan waktu yang sepenuhnya beriman masih menyisakan hasutan setan yang setengah kepanasan. Seperti aku bangun sekarang, segala kejadian semalam, tanpa kusadari masih tetap terjaga di sepanjang malam.

 

 

Ketika kau rebah di bawah ceking badanku dalam satu ritual penyerahan. Hidup perempuan, katamu adalah tentang penyerahan saja kepada kepasrahan, sebuah totalitas geliat yang hendak mencapai satu titik orgasme dalam raungan yang panjang.

 

Dan kau lihatlah tirai merah yang bergelombang lurus ke bawah. Bergerak dipantulkan angin dari kipas angin,

“Ingin aku, memang, teramat ingin mampu kau taklukan” ucapmu. Ya, seperti aku sepenuhnya membenamkan kepala dan ikal rambutku, di sela jenjang leher putih dan pundakmu.

Di sudut kanan ranjang itu. Tiga kali kejadian yang membinarkan matamu, yang masih perawan perempuan.

 

 

 

/2/

Aku melarang keras satu kata pengandaian. Inilah fakta. Aku pemalas membersihkan spei ranjang berbulan-bulan. Dan kau diserang kawanan kutu kecil yang membiak di bawahnya.

 

Sebuah peringatan. Hanya untuk diingat di hari-hari berikutnya yang panjang. Dua bungkus rokok, tiga gelas kopi. Dan pagi menjelang siang ini, tanpa godaan itu puasaku kubatalkan sendiri.

 

Aku melarang keras satu kata pengandaian. Inilah fakta. Waktumu dan aku hanya beberapa kali tarikan isapan rokok ke dalam rongga dada. Untuk mandi, berfikir, berbicara, tertawa dan menangis serta mengusir segala dahaga kantuk yang menggeliat di perut mata, waktu dan aku hanya beberapa kali tarikan isapan rokok saja, ke dalam rongga dada.

 

Sebab itulah, kau atur isapan yang nikmat untuk mandimu, berfikirmu, bicaramu, tertawamu, tangismu, dan juga keharaman tubuhmu untukku.

 

Dalam sebuah kerling cahaya, yang masih sedikit menyala.

 

 

 

/3/

Aku ingin sampai pada sebuah kesudahan. Tanpa terimakasih kepada siapapun, selain engkau. Sebab terimakasihku hanya satu, dan cukup ditujukan pada engkau.

 

Terimakasih yang tak menginginkan kata-kata apa lagi. Terimakasih yang letih terkungkung di balik lipatan lidah.  Seperti keangkukan yang tak berbentuk. Digadam perih berkali-kali ayunan rantai asin, manis dan pahit, segala rasa yang curang. Aku ingin sampai pada sebuah kesudahan lingkaran. Dimana titik itu bermula, disiratkan kepasrahan saja. Seperti diammu yang lengang sesudah suara.

 

 

 

/4/

Kau telat malam itu, dan malamku mengatakan tak apa-apa. Aku sadari gerak-gerik tubuh perempuan yang banyak menuntut daripada lelaki. Mulai dari rambutmu yang bergelombang sampai ujung kuku kakimu yang dimanjakan tumit sepatu terbuka.

 

Kau bisikkan padaku:” aku disergap lapar yang suhu panasnya tak lagi biasa”

 

Dan kembali lagi tidak mengapa. Pelunasan kepada tagihan pembayaran adalah tugas lelaki malam. Aku tak menghitung apapun yang kau makan. Sebab telat sesuatu yang termaafkan. Tapi tidak untuk pemuasan lekuk perut perempuan.

 

 

 

/5/

Awalnya, kukira kau wanita yang asyik saja memilih lipstick di mall, cincin dan gelang. Dan ketika escalator hendak menurunkanmu kembali ke lantai dasar yang paling dasar, sebuah sedan hitam sudah menunggu.

 

Awalnya, kusangka kerlinganmu adalah prangkap bocah pada papanya yang meminta mainan.

 

Ternyata kau perempuan dengan rahim yang sudah layak melahirkan dan membesarkan seseorang. Seseorang yang akan menjadi seseorang, meski awalnya adalah sebuah kemiripan.

 

 

 

/6/

Yang kau pertanyakan, kapankah kejujuran itu mengatakan kejujuran?

 

Apakah ketika obrolan itu menguap di sebuah meja sudut kafe dengan pesanan yang telah tandas ke dasar perut kalian? Ketika tatapan tanpa sengaja di sebuah pemberhtian bis antar kota? Di hadapan hakim, penuntut, pembela dan si terdakwa?, ataukah satu erangan selepas pergumulan lima belas menit yang memungkinkan,untuk kalian menangkap satu tanda kehadiran sosok tuhan?

 

Ataukah kejujuran memang sudah memasuki liang kuburannya dengan orang-orang yang berebut memesankan nisan?

 

 

 

/7/

Lihatlah, kesegaran minuman bukan? Dirimu, sekarang bukan lagi sekedar air bumi biasa yang disuling oleh prose alam.

 

Dirimu sebuah kemasan unik yang diproduksi oleh berbagaimacam bahan berdasarkan ketepatan racikan komposisi seseorang.

 

Dan lebih kurasakan lagi kesegaran itu ketika mulut botolmu terbuka, dan kau basahi kerongkonganku yang kemarau meski darah hujan tiba, dari penghujung pembuluh yang menyempit juga yang rahasia.

 

Lihatlah, kesegaranmu diimpikan semua orang yang sanggup bermimpi pada buhul-buhul mimpi kehidupan.

 

 

 

/8/

Kau memang telah pulang, kembali kepada rumah ibumu, di rawa bambu yang ramai dan teduh. Membawa tubuhmu yang sedang tertuduh.

 

Aku simak curah hujan yang mulai berkurang rintiknya, sebab bola matamu sudah letih mengaya buih dan mengeramnya jadi mendung yang mengandung.

 

Kau memang telah pulang, kembali kepada rangkulan seorang bocah yang selalu kau banggakan. Sebab hidup berbuah bahagia ketika ada kisah yang selalu patut untuk dibanggakan.

 

Dan bila kau tanyakan dimana rintik-rintikmu yang tersisa, selepas aku memasuki mendungmu semalam, pagi ini aroma itu dihandukku masih menguap, menyapu segala kotoran kulit lelakiku yang dihadapanmu tergagap.

 

Sebab hidup patut berbahagia, ketika tubuh kering ini masih sempat basah oleh airmata.

 

 

 

/9/

Tenangkanlah yang harus kau tenangkan. Tenangkan hatimu berhadap-hadapan dengan masa depan. Matahari dimana saja bisa muncul seketika. Meski pandangan malam masih mengarah rongga jendela kamarmu yang lelap keletihan.

 

Kau kalungkan tirai putih sewarna jiwamu. Itulah yang utama bagi yang pasti datang. Seperti lonceng gereja menyambut ayunan kakimu, di minggu yang pagi yang ditumbuhkan aroma melati.

 

Semua orang memicingkan matanya ke timur yang ramah, sebab warna pagi mereka tetap pagi. Sedang kau malam yang berhadap-hadapan dengan matahari, bila porak-poranda jendela kamarmu itu, selanjutnya kau memekik: “Akulah pagi”

 

 

 

/10/

Aku baru bisa diam, jika bibir ini disumpal seseorang dengan ciuman lembutnya sepanjang hidup pada gorong-gorong lorong kehidupan.

 

 

 

 

/11/

Hari selalu letih, sayang, selalu kepayahan. Karena itulah para penyair menyairkan sajak-sajak cinta. Cinta yang sudah bangkotan dan keracunan. Namun ajal belum juga sudi bertandang.

 

Kita memamah nasi kebanyakan dari atas piring ini. Sesekali bolehlah kiranya dari atas pelepah pisang.

 

Di dekat sendang yang airnya mengalun ke hilir. Seperti sumsum tulang belakang ini, yang akhir ke akhir terkilir, akhirnya air maninya,

 

Hari selalu letih, sayang, selalu kepayahan. Karena itulah nira diracik menjadi gula merah. Merahnya yang melebihi darah. Darah yang mengentalkan rasa manis di lidah.

 

Hari selalu letih, sayang, selalu kepayahan di lidah-lidah kita.

 

 

 

 

/12/

Janji seperti itulah janji. Yang teringkari, jikau tidak untuk ditepati pada waktu yang lain, pada kesempatan yang lain.

 

Maafkan aku ikan. Dengan kekuatan sirip dan insang kau terlalu liar berenang-renang. Sedang aku butuh oksigen yang dihembuskan lembah dari sela dua bukit perempuan berambut gelombang.

 

Tapi pada tanggal yang tak kau kirimkan lagi beritanya lewat pesan singkat buih, di kolam itu, pasti akan kuselesaikan pesananmu yang mungil. Seperti satu danau yang menggigil di sebuah aquarium kaca.

Kau tampak manis memainkan sirip dan warna sisikmu yang putih, sedikit kenyal oleh cairan yang melicinkan segalanya. Termasuk kau riakkan diam air yang tak mengalir, tak bermuara.

 

 

 

/13/

Sekarung buku

Sekarung kisah

Sekarung luka

Sekarung darah

Sekarung pesta

Sekarung sudah

 

hakcipta pada asharjunandar

Enam Lengkung Lentera Telapak Tangan

Posted in runegreen on September 8, 2008 by asharjunandar

 

Siapakah yang telah menggiring malam,

yang sudah begini malam

di dalam cangkang tubuh kita?

Siapa pula yang berdosa

ketika seseorang

telah merasa dalam ladang dadanya

tertanam, hidup dan tumbuh benih tuhan

yang tak berupa?

 

Maka

kau dan aku menyaksikan perjalanan keterasingan itu

ditasbihkan bintang-bintang.

Tikungan ke tikungan.

Kaulah di depan, sebab kau perempuan.

Sebab yang di depan mengatakan:

ini singgahsana yang terpilih

untuk sang Magdalena.

 

Magdalena yang takzim menatap monoligh

di atas meja sudut kamarnya.

Dalam kesendirian,

dan bayangku yang terus menguntitnya

dari balik gaun panjang lelapnya.

 

Hikmatlah kami dalam doa-doa

yang dipimpin biarawan-biarawan

masing-masing hati kami.

Di saksikan gapura

yang berhadap-hadapan

dengan tiang berlentera enam.

 

Ada enam telapak tangan

yang menengadah

kepada penggambar lengkung garis malam,

 

Hendak dimanakah garis singgung suratan

akan terus dipertemukan?

 

Ya. Tugas kami hanyalah mengaminkan.

Hanyalah mengaminkan.

Seperti enam lengkung lentera

telapak tangan.

 

hakciptapada asharjunandar

Sekerat Daging Telur Kura-Kura dalam Liang Senyuman

Posted in runegreen on September 1, 2008 by asharjunandar

Di dalam temaram yang cegeng dan tak berkesudahan ini, belum pernah kudengar bunyi sebuah lonceng gereja. Belum pula kuinjak anak-anak tangga nadanya yang mendebarkan

Sebab keajekan merekalah, permulaan terompet pelayaran armada perang.

 

Hiduplah sebuah kedai remang, di pojok jalan berkicauan. Di silang lurus dua garis bersebrangan.

 

Dan berdiri angkuhlah seonggok tiang berlampu tiga warna.

Dan merahlah yang paling warna.

 

Pagelaran hanya pagelaran. Tikar plastik dihamparkan.

Kursi didudukkan. Dan selebihnya, kecamuk asap. Beradu gigi dengan pelepah kacang. Kerak kopi terpinggirkan. Yang manggut-manggut, manggut-manggut, yang terkekeh-kekeh, terkekeh-kekeh. Dan diapun turun malu-malu dari panggung yang dibisik matanya ke mata telingaku: sekerat danging telur kura-kura dalam liang senyuman.

 

Kemudian, sebelum berakhir acara sakral, siapa pula yang sanggup orgasme hanya dengan mencekal kemaluannya yang tak lagi malu-malu, hendak memuntahkan pelurunya dari balik benteng jeans, keangkuhan sebuah peradaban.

 

Akh, tak perlu siapa yang akan termangsa dan memangsa.  Di ngarai terjun matamu, aku telah berenang. Yang ricik hamparan daun lelumutnya, kudengar bunyi lonceng gereja.

Seperti kau melepaskan satu per satu kancing bajumu, dan kau terjun di muara lautan mataku.

 

Ya. Kau diam-diam saja. Seperti kita berdua digiring sesuatu, sesuatu memulai menapaki anak demi anak tangga nada itu.

 

Rawamangun,31082008

hakcipta pada asharjunandar