
disilang sengketa file-file dan dering beker samping monitor komputer ini
kau lebih sering menyeruak, memprovokasi pemantik api
memburu ujung tembakau penghabisan di antara telunjuk dan jari tengahku
tiga tangis bocah yang akan melengking tinggi dari dalam penjara
tempurung lututku, kian mengentalkan dedak kopi di dasar gelas jam-jam istirahat siang
yang meremukkan sum-sum saraf otakku
kau bercerita tentang bagan-bagan, grafik-grafik dan trend masa depan tiap rumah tangga
sedang tiang-tiang rumah tangga itu, adalah hanya antara kau dan aku
berserakan di pembaringan beberapa paragraph yang dibubuhi tandatangan
di atasnyanya,
di bawah lafas suara yang sesungguhnya tak ber-dollar sepersenpun juga
selain desah keringat kita, yang terus mengingatkan, bahwa kau dan aku
adalah empat tangan yang terbuka, menengadah dan saling terus meminta
bila ada sisa-sisa nasi santap malam pada dentang dua belas
tetap terujar terimakasih dari dua bibir ranggasku,
sebagai balas yang tak akan pernah berbalas
serupa mesin yang terus menggilas, menggilas dan menggilas