Lapiazza
: Veny
Metal detector mengingat-mengingat
sekian titik bunyi dan noktah merah
Dan kau mengerling tajam, padanya
Pada spot of god yang baru kau tangkap:
Bagaimana menuliskannya. Di notesmu
gambar jari gemetar, pias ampas coccolate ace,
setawar dinding kaca
Selingkar bundaran aspal tanpa lampu merah
dalam metal detector otakmu:
otot-otot sorot mobil menerobos
ringkih rintik-rintik detik jam putihmu
“Kau putih, sebagaimana kau benci:
matamu putih, sebagaimana barisan gigi,
hulu-lalang pasangan, pada asbak kertas
kotak kita jaring: tataplah aku”
Seperti pawai gaun, coraknya, warnanya,
mengalir deras ke tas-tas plastik hitam,
saat pintu-pintu etalase toko terkunci,
yang setia, kau tahu, hanya kurva patung
Bias figura colak mata kantuk
diseret pulang, penuntun
lapar yang menyuap gelas-gelas kosong
Di prisma kamar, lagi kau lempar
lembar-lembar persegi notesmu,
“Tentang chapter 11, sesi les kepribadian,
matamu, matamu kutanam blink di sana
Di sudut bangku panjang kalau kau sempat duduk
teduh menyalin gema loceng,
dan selengkung menara, ingatlah kataku
ingat lengkung alismu, tentang sabda bahagia:
Kerling huruf-huruf yang menata
kata: the spot of god, chapter pertama
kita: tataplah aku sebagaimana kutatap kau
Di ujung degup kita”