Kenangan Pada Seekor Kijang Betina
Dari pintu depan ke pintu yang terbuka, dalam tiap jengkal ayunan langkah, diam-diam jeda persidangan, yang buru-buru dikunci pintu ke pintu belakang. Udara padat dan aroma keringat, dari ranjang ke ranjang panggangan dan sahutan loceng yang hingar api di minggu basah, kini akulah yang paling diburu ujung panah gelisah dalam rebah. Anggun gemulai pijakanku paling rekah, terpancar mata kaki Aphrodite masih terpejam, bagai kijang aku diintai dan dikepung. Tanduk yang bercabang menjulang. Liat daging matang menantang, dari busur melesat anak panah dada mereka yang terguncang-guncang raungan lonceng parau di minggu basah. Kabar musim gugur mengguyur ranting belumlah terdengar pucuk rerumputan. Dan aku dalam kawanan malam: Delapan belas piala kabisat yang tinggi-tinggi diacungkan.
April 13, 2009 pada 12:35 pm
“Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.” – Sahih Muslim
moga2 bermamfaat ya adikku sayang…
i miss u here…my bro’