Sang Pengunyah Tembakau
Patutlah dia bertahniah kepada pelaut tua itu,
yang dalam kesepian laut dan segala bentuk lekuk ombaknya
dan misterinya, diapun yang suatu ketika, yang hanya burung hering
yang mengetahui waktunya, dengan tanda tanya yang dia bawa
ke dalam peti matinya, menuliskan sepucuk surat
kepadanya:
“Kepada Saudaraku,
Karena aku sudah lebih dulu mencicipi suatu rasa
Yang diharamkan dogma manusia, dengan rahasia kutuliskan
Sisa – sisa aroma yang tertinggal di dalam benakku,
Ketika aku sudah tersadar, benar – benar tersadar
Dan kembali kepada duniaku, yang sendiri
Dan terombang – ambing dalam perjalanan menuju
Benuamu, yang jauh, di suatu daratan
Ketika aku tersesat dan terdampar karena sauh
Yang dicompang – campingkan topan,
Di suatu senja yang mungkin hanya tersaji di surga
Mereka menggotongnya dengan langkah damai
Mengarah kepadaku, tanpa basa – basi ala kita,
Manusia yang sudah merasa bermartabat dengan
Kemanusiaannya, mengaruniakan dara perawan itu
Kepadaku, dengan isyarat mereka, kumengerti akhirnya
Setelah dia rebah, dan menaburkan aromanya di sekitar
Penciumanku, yang keparat….
Seakan – akan dia berseru lewat matanya yang sayu
Dan mengundang, setubuhilah Aku diawali suatu
Proses pemamahan lidah api yang merah seperti darahmu,
Kemudian akan kau rasakan gulatan dan geliatku
Menyatu dengan darahmu, yang hidup sampai kau
Melupakan ubun – ubunmu, dan yang melahirkanmu
Dan segala yang kau bawa, dalam pengembaraanmu
Kau serahkan kepadaku”
Begitulah, kudapati diriku, di suatu pagi
Dengan jemari bergetar, menuliskan kalimat ini kepadamu
Mungkin terlalu singkat, dan aku sungguh tak tahu, hendak kupanggil
Siapa Dara dengan wajah kemerah – merahan, seperti nyala api
Yang menghabiskan nafasnya dalam ingatanku itu, tapi
Kurasakan darahku berdesir kencang, ketika kutemukan suatu nama
Yang paling tepat untuk mengenangnya dan menyampaikan kepadamu
Dalam suratku, yang mungkin akan usang, dan kau lupakan
Setelah tahu rasanya, sebagaimana aku, pelaut tua,
Yang pula renta karena apa yang senantiasa hidup dan mengembara dalam
Kepala kita, “
Patutlah dia bertahniah kepada pelaut tua itu,
yang dalam kesepian laut dan segala bentuk lekuk ombaknya
dan misterinya, diapun yang suatu ketika, yang hanya burung hering
yang mengetahui waktunya, dengan tanda tanya yang dia bawa
ke dalam peti matinya, suatu ketika, sebelum dia tahu rasa sesungguhnya
menghitung dengan jari, berapa kali mengunyahnya, berapa kali
dia sudah terkunyah olehnya, olehnya.