Ketika setengah mengeluh badanku
Pada tulang, akhirnya pintu ini
Mengalah juga kubukakan
Dan lampu, secerah senyum matahari.
Oh, matakukah yang telah salah ?
Di kamar ini mengapa perahu
Diduduk bersila bersama pejaman mata
“Selamat datang kembali
ke Dunia tubuhmu yang telanjang”
Sambutnya. Pelan
Ketika suaranya membuka pintu mata.
“Kau perahu siapa? Rasanya, tadi aku memesan
Pizza. ?”
“Aku juga ingin makan pizza. Lambungku sudah
Puluhan abad menahan lapar dosa.
Sejak air mata manusia tidak lagi menjadi samudra”
Tapi kau perahu siapa ?
“Kemarilah. Dan duduk di sampingku.
Akan kuceritakan masa dimana tiang-tiang layarku
Jadi batang-batang sejarah,
Bagi daun-daun cemara yang digugurkan
Angin, seperti angina juga mengantarkan
Sauhku, ke kamar ini
Ke sinilah, jangan bimbang.
Bimbang adalah lapar yang tak pernah terkenyangkan
Meski semesta ini berubah jadi hamparan jamuan
Aku: adalah perahu segala manusia,
Yang pada hari itu, gunung-gunung, kepalanya
Sujud diperintahkan, kemudian gelombang
Yang pendiam, di beri sayap dan kaki oleh tuhan
Melebihi elang yang menjangkau awan
Hari itu, Aku: adalah rumah angin
Bagi jiwa-jiwa yang dingin
Maka layarku jadi dinding-dinding
Yang menutup rapat segala jendela-pintu
Geladakku adalah dipan-dipan yang dinaungi beringin
Seperti pengelana padang pasir, menunggu matahari pergi
Akulah segala belulang kaki.
Belulang yang menegakkan tubuh mereka berdiri
Aku adalah udara yang memasuki rongga dada mereka
Tanpa permisi:
Dan mereka didalam tubuhku. Bertemu mimpi
Duduklah di sampingku.
Padamu: akan tuturkan
Bagaimana benteng-benteng dan istana itu
Di samaratakan seperti telungkupnya telapak tangan
Segeralah bersila dan matamu pejamkan
Dan biarkan. Lampu itu kembali padam
Kamar ini. Adalah sebuah kerinduan
Yang sudah teramat lelah dan jauh berjalan”
hakcipta pada asharjunandar