Satu tiang patung berdiri di sini
Dengan enam lentera oranye kunang-kunang
Kutarik badan ke tengah lapang pelataran
Marmer
Persegi yang diketupatkan tukang dulu kala
Berdiri pula plang “Jangan” berkapital merah
Semerah paras matamu,
Yang katamu:
“Telah lelah berjaga-jaga,
Sepanjang batas yang belum bertemu usia”
Berhadap-hadapan denganku,
Berapa lama kau sanggup bersila diintai cahaya?
Angin musim basah melekat di telapakmu,
Di siku,
Di raut yang terus disamarkan
Desis ular rambutmu,
Punggungmu mulai gelumai digoyang
Hembusan mulut malam yang masih menyimpan
Kata majemuk pagi di kerongkongan
Satu tiang patung berdiri di sini
Dengan enam lentera oranye kunang-kunang
