Firdaus, Sang Pelacur, 1
Akhirnya dari kegelapan inilah silogisme itu bekerja
Logis bagi yang melihat bahwa keruh itu
Adalah jernih air karena aliran
Semua orang hakikatnya pendurhaka
Kecuali mereka yang yakin terlahir dari kegelapan
Bersikap biasalah kepada cahaya
Gelaplah yang membuatnya bermakna
Dan kau akan tahu berapa nilai angka mata
Seperti aku selalu berjumpa keramaian
Di jalan-jalan
Di kedai kopi
Di pengajian
Di pelacuran
Di mana saja, aku rasakan mereka melihat
Hanya dengan tubuh saja,
Tubuh yang dipantulkan cahaya sebagai garis sosok
Bervolume,
Berlainan memang bobotnya
Dan reaksi mereka dengan logat tubuh juga
Begitulah cahaya bekerja
Seperti dua garis lurus bersilangan yang dikenalkan guru
Kepada murid bodoh yang sedang belajar,
Sebagai sudut
Karena itulah
Lingkaran penuh dinobatkan sebagai sudut sempurna
Dengan tingkat derajat tertinggi
Atau sebut saja, bukan sebuah sudut lagi
Dan kegelapan itu
Seutuhnya, lingkaran yang dipecah
Jadilah sudut-sudut cahaya
Dengan derajat berbeda-beda
Maka manakala aku berjalan
Dan mereka memperhatikan
Kepalaku kudongakkan
Tolollah yang mau menolehkan muka
Ke orang dungu,
Apalagi duduk saja di bawah lampu
Berharap aku atau angin sedikit menyingkap rokku
Rawamangun, Sabtu malam, 05042008
Firdaus, Sang Pelacur, 2
Mahluk tolol menjijikkan itu bernama lelaki
Makin mahal jas dan mengkilat sepatu dan rambutnya
Maka tambah tolollah dia,
Sekali kau menolak, dia akan termakan harga
Maka dia akan bertanya
Sebutkanlah hargamu, sebutkan hargamu
Dan mari, naik ke mobilku,
Kan kutunjukkan cara mengunci pintu
Dan bagaimana rasanya terlentang di busa
Yang nyaman
Di atas karpet Turki
Dan pasti ada anggur Mexico
Maka, dalam kemabukannya sebutkanlah harga-hargamu
Harga jemarimu, bibirmu, jenjang lehermu
Ranum dadamu, lancip perutmu,
Sintal pinggulmu
Dan harum kulit dan rambutmu
Sebutkan harga kutang dan celana dalammu
Setinggi-tingginya langit dan bumi
Berjarak angka
Dalam sejarah selalu ada tirani birahi
Dan pahlawan
Meski menjanjikan tiang gantungan
Selalu ada yang hidup
Dan tak akan pernah sanggup mereka matikan
Selalu ada yang mengguncang dada tuhan
Rawamangun, Sabtu Malam, 05042008
Firdaus, Sang Pelacur, 3
Kepada siapakah bisa kupercayakan tubuhku
Di luar hujatan pelacur?
Kepada ayahkah yang pura-pura mengelus rambut
Dan mengecup keningku ketika dulu hendak tidur,
Selain dia mengelus dan mengecup Harapan masa tua
Yang disisipkan di bawah kulitku
Kepada ibukah yang mendongeng dan menuturkan budi
Selain pelengkap kesantunanku nanti
Dihadapan adat, budaya atau agama suami-mertua?
Kepada kekasihkah yang berjanji sampai mati akan setia?
Tapi siapakah yang mau dikubur hidup-hidup?
Kepada tuhankah yang telah membangun pasar
Bahkan seharga surga?
Di dunia ini, sebenarnya siapa yang tak jadi pelacur
Sebenarnya?
Rawamangun, Sabtu Malam 05042008
Firdaus, Sang Pelacur, 4
Pernah benar aku mempercayakan hidup seseorang
Yang hidup dalam tubuhku,
Kepada petuah,
Kepada tangan yang katanya,
Sanggup merangkul dengan kekuatan yang melebihi
Apapun,
Apapun kekuatan di dunia ini
Dengan gaun panjang dan cadar yang menutupi dada
Kuterjemahkan kepercayaan itu
Dengan ke luar masuk kantor kehidupan
Sesuai jam kerjanya
Aku membaca, merenung, berfikir,
Dan sendiri dengan tegas berkata tidak kepada malam
Dan gerombolannya
Dan aku, kemudian terlelap
Bantal itu, hangat, Dada seorang pria
Dengan timbunan prinsip cita-citanya
Aku bermimpi ada matahari yang lebih besar diameternya
Dan kekuatan sinarnya,
Kubiarkan dia menyerap energiku, panasku
Kusatukan sengatanku, ke pusat inti tungkunya
Agar gelap yang berlapis ini
Mengelupas, sebagaimana nanti kulitku
Yang keriput,
Juga kursi goyang yang tenang
Mengelupasi sekat-sekat kegamanganku
Seseorang yang bungkuk,
Dengan tongkat mendekat dan tangannya
Menyerahkan semangkuk susu
Lalu kami berbagi tempat duduk
Dan mengarahkan mata ke luar jendela
Di mana Nil, masih bercorak dengan aliran dan baunya
Lekas pergi lekas juga datang yang lain
Dan ketika hari redup
Dipapahnya tubuhku ke pembaringan
Dan ditariknya selimut
Pernah benar aku mempercayakan hidup seseorang
Yang hidup dalam tubuhku,
Kepada petuah,
Kepada tangan yang katanya,
Sanggup merangkul dengan kekuatan yang melebihi
Apapun,
Apapun kekuatan di dunia ini
Tapi musang tetaplah musang
Sebangsa serigala yang tak akan pernah merubah seleranya
Terhadap domba
Dan malamlah yang kembali menjambak rambutku
Dari belakang
Dari lilin yang telah menyala terang
Rawamangun, Minggu Siang, 06042008
Firdaus, Sang Pelacur, 5
Percayalah, siapapun mereka, pusat kenikmatan saraf itu
Berpusat dan bersarang di sini,
Di tubuh ini
Mekanisme surga adalah mekanisme biologis Sang pencipta,
Maka Tuhan-lah tubuh ini
Surga itu sendiri
Siapapun mereka, seperti aku punya paman
Di Al-Azhar, mulutnya yang bercerita ayat-ayat penciptaan
Hawa,
Tangannya menempel di pahaku saat aku dipangkuannya
Ibuku menyisihkanku dari tatapan ayah
Teman-teman asramaku mencuri-curi bunyi desah nafasku
Saat jam malam tiba
Suamiku, Syekh yang berdoa di meja makan
Dan mengaminkan di atas dipan
Sharifa, Bayoumi, Fawzi, Ibrahim, Sang Polisi
Bahkan Pangeran itu,
Tersungkur dihadapanku dan mengemis pada tubuhku
Pencapaian tertinggi manusia sebagai hamba
Adalah pembangkangan Adam di Surga karena Hawa
Dan penggantungan diri itu sendiri adalah ketika terputusnya
Serat birahi
Mereka semua menindihku, dan kenikmatanpun bertanya:
Nikmatkah aku mengecapinya?
Bagaimana kenikmatan dapat mencicipi kenikmatan
Tapi seperti surga yang jadi pembohong terbesar tuhan
Kepada manusia,
Kusuruh juga tubuh itu mengiyakan iya
Dan tambah menurutlah mereka
Dan ketika pencarian atas halusinasi yang ada telah tertemukan
Hanya satu yang kau ingini segera:
Tiang gantungan atau apapun jalur itu
Jalan untuk menyumpal pintu
Setidaknya, bila kau tak mampu melenyapkan
Pertemuan sel telur dan sperma
Ketakberharapan dan tak berharap pada apa-apa
Karena itulah para budak itu memanggil nama tubuhku:
Firdaus
Kenikmatan yang wajib terlunaskan kematian
Rawamangun, Minggu Siang, 06042008
Inspirated by Perempuan, di Titik Nol
Nawal el Saadawi