
Tak kusaksikan lagi kebersahajaan
di hamparan gelombangmu
yang dibangun angin datang
Hikayat singkat lekat
pada sebongkah semen padat
menancap kuat dalam benakku
Dan kembali berputar
tikungan-tikungan tajam
menanjak-menurun itu
di arloji lengan kiriku
Kawanan pucuk cemara
menarik mereka yang resah
di cekung sampan
beberapa jam hingga ke tengah
Dan tidak batu hitam
tempat aku
kembali tafakur menyapu seluruh
tubuhmu
“Ketengah-ketengah” beberapa suara
berseru malu-malu merayu
Selain perkataan seseorang
yang sempat meminta pelukanku
dari belakang,
aku sudah tak mengerti perkataan
manusia
Dan sepasang bibir yang basah
semalam,
mengingatkanku segalanya
Petak-petak sawah
yang tertata pasrah,
jejeran kedai bandrek-indomie
dan ladang stroberi yang dipetik sendiri
Kubetulkan letak rambut kusut
Tumpukan merah marun
yang tak seutuhnya tergambar
di spion sebelah motornya
Dan sepasang bibir basah
semalam
adalah desah nafasmu yang resah
Dalam buntal kabut
Kutunggu mereka menyerabut
Tercabut matahari
yang namanya belum tersebut







