Arsip untuk Sampiran kategori

Larik 84

Posted in Sampiran on Maret 24, 2008 by asharjunandar

Akan lebih banyak lagi hal yang tak akan pernah tertulis
Di buku itu
Tentang malam-malam yang kau kutuk
Dengan mimpi-mimpi
Tentang siang-siang garang yang menggertak
Fikiranmu
Tentang jalan-jalan yang berliku terjal
Mendaki, melembah
Di dasar ingatanmu
Tentang jemari manis kekasih yang membengkokkan
Cincinnya dengan martil batu

Baris demi baris akan kau susuri dengan bantuan
Jari telunjukmu
Di depan sebuah meja kerja yang keriput kakinya
Di atas kursi kayu yang menderit suaranya
Kacamatamu memisahkan lembar yang membuatmu tertawa
Juga lembar yang tangannya angkuh menarik kerah baju
Airmata
Serasa lampu melupakan jabat tangan sobat lama
Sudikah pemantik yang menyulut rokokmu
Kembali memamerkan lekukan apinya

Akan lebih banyak lagi hal yang tak akan pernah tertulis
Di buku itu
Kau berharap,
Seandainya hari itu, kau tak pernah melewati pagar sekolah
Tapi benarkah hipotesa para ahli
Bahwa si gila, utuh raib segala ingatannya ?

hakcipta pada asharjunandar

Larik 89

Posted in Sampiran on Maret 24, 2008 by asharjunandar

Ciuman-ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Di gurat bibirmu
Kembali meminta hak nyawanya
Kau terlalu banyak mendabih leher bintang
Dengan sendok pisau
Dan garpu di atas piring desau
Hingga ke sudut pembuluh malam
Ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Kau anak tirikan
Berapa ratus kafe yang telah kau tandang
Bunga penghias dan tampak meja
Adakah menambah korelasi rasa

Dan sepasang kaki lain di bawah meja
Yang duduk di hadapanmu
Bermain mata kepada kasir yang menghitung
Lembaran kertas berwarna
Setelah pesanan selesai dihidangkan
Dan ke lambung dibenamkan
Ciuman-ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Di gurat bibirmu
Masihkah mengembun aroma anggur
Yang membuatmu bergadam-jam
Mengisahkan dosa yang menggelisahkan
Sesuatu yang kau semayamkan
Di bawah lanskap lidah memabukkan
Sesuatu yang terus menuangkan lembur
Ke gelas aorta musim gugur

Dan pada taplak meja kembali
Kau pertanyakan:
Adakah ciuman itu meninggikan
Nilai korelasi rasa
Pada Sang Rasa yang Menciptakan
Pada Sang Rasa yang Menelan

hakcipta pada asharjunandar

Larik 80

Posted in Sampiran on Maret 19, 2008 by asharjunandar

Gerimis siapakah yang paling menggemaskan gelisah?
Selain butiran air, yang belum sempat
Mendarat
Lalu dirampas angin matahari
Di tengah sawah kemarau dan tanpa dangau
Si bocah belajar menaikkan layangan sendiri
Telanjang dada telanjang kaki
Adalah keirian nabi-nabi
Si bocah membiarkan lintah Lumpur mencukur
Bulunya
Hanguslah kulit, rontoklah rambut
Pertarungan buritan angkasa dengan kerangka bambu
Hanya disekati seutas rahasia benang
Gerimis siapakah yang paling menggemaskan gelisah?
Kecuali awan yang terlanjur memuntahkan tanda

hakcipta pada asharjunandar

Larik 72

Posted in Sampiran on Maret 15, 2008 by asharjunandar

Ketika dia memintaku, menyalakan API kata-kata yang dulu membakar
Rimba hati, sebuah kapal kayu yang sudah lebih dari dua pertiga pelayaran
Ke pulau
Yang telah dikenalkan kompas dan peta
Karam kandas, bukan karena gunung gelombang yang semula padat zat
Lalu mencair
Bukan pula karena awan es yang bermula beku
Kemudian dibangunkan sangkakala guntur
Lalu ditembakkan petir dari laras senapan badai
Membabibuta, mengenai batang rayap dan kain lusuh sauh
Ketika dia memintaku, menyalakan API kata-kata yang dulu membakar
Rimba hati, asin air laut beraroma bensin
Selincah loncatan kilat berkelebat, menguap
Dari bawah menyambar kemudi kapal
Seperti gerombolan penyamun yang sedang dahaga birahi
Di satu malam jahannam menemukan perawan yang kesasar
Sewaktu pulang
Sebentar lagi padahal akan menuang lalu menegak susu si calon suami
Sebiji deklamasi seorang bujang

hakcipta pada asharjunandar

Larik 46

Posted in Sampiran on Maret 6, 2008 by asharjunandar

Bila nanti telah melingkar dasi kupukupu
Di krah leher tuxedo-ku
Tetaplah kau dari dapur saban pagi
Mengingatkanku akan pahitnya kopi
Pagi terkadang membunuh subuhku
Terkadang subuhku menaburi bunga melati
Di pusara pagi
Di week end, mereka lebih sering lagi
Terkapar di teras depan pintu
Tanpa sadarkan diri
Jauh sebelum bibir pagar, kan kau cium
Bau wiski
Bukan karena kepada tetangga malu
Lekaslah ke ranjang kau seret badanku

Bila nanti telah melingkar dasi kupu-kupu
Di krah leher tuxedoku
Jutaan file kantor seperti instalasi pembuluh
Otakku yang mencandu DjieSamsu
Ingatkanlah aku akan malam jumat yang biru
Saat dengan Basmalah, kupinang kau
Jadi jam dinding di detak jantungku
Berteriaklah lantang suaramu
Hingga pecah gendang telingaku
Bila malin sudah memeras darah ibuku
Yang kubutuhkan hanya air susumu

hakcipta pada asharjunandar

Larik 43

Posted in Sampiran on Maret 6, 2008 by asharjunandar

Berjuta kali kukatakan padamu
Jangan letakkan jam beker itu di atas meja kerjamu
Lampu harus sedikit kau kurangi intensitasnya
Angin malam, jangan leluasa ke luar masuk dari jendela
Bila nanti kau mimpi ketemu ular atau hantu
Tak ada lagi jemari ibu yang mengguncang-guncang tubuhmu
Seperti lorong gelap yang teramat sempit
Dan panjangnya sejengkalku di tengah tubuhmu
Ketakutan selalu hinggap pada malam pertama dan menunggu
Yang akan terjadi di kamar ini
Bukanlah pelayaran bukan pula pendakian kurcaci
Di kamar ini cukup tertera dialog antara meja dan kursi
Dan kaca yang harus kau gantungkan di sebelah kiri
Maka pintu tak akan pernah mendengar derit-derit ranjang lagi

hakcipta pada asharjunandar

Larik 42

Posted in Sampiran on Maret 6, 2008 by asharjunandar

Angin dengan muka masam akhirnya turun ke daratan
Sulur besinya hendak merantai kaki-tangan orang-orang
Yang merintih dalam rindu arang
Ke neraka diseretnya terbang
Di tungku neraka, rindu akan dipanggang
Jadi dendam
Kemudian dituangkan ke gelas-gelas hitam
Di tengah-tengah perjamuan dengan kaisar setan
Orang-orang yang sudah duluan menghuni malam
Berjejer serampangan di hadapan hidangan
Angin dengan muka masam berkostum koki gadungan
Menaruh nampan penuh babi panggang
Dan cangkang kura-kura bakar
Orang-orang meraup, memamah makanan
Dengan kaki, lidah, tangan
Terserah tak ada larangan
Rindu yang sudah jadi dendam ditegak melebihi arak
Perjamuan masih setengah jalan
Orang-orang baru belakangan belum kebagian
Angin kembali memburu orang-orang yang merintih
Dalam rindu arang
Di neraka, hanya tuak dendam yang bisa mengenyangkan
Menyempurnakan

hakcipta pada asharjunandar

Larik 40

Posted in Sampiran on Maret 6, 2008 by asharjunandar

Di dadaku berkumpul gerombolan tikus comberan
Yang tak mau mendandani dirinya
Di depan kaca
Mereka selalu megais-ngais keju di tong sampah
Tetangga sebelah
Dan bila hujan malam tiba
Mereka mabuk sampai pagi sepuasnya
Jejantan dan bebetina sama panjang rambutnya
Terjuntai sampai setengah ekornya
Yang buncit mungkin sedang mengandung
Bayi kumpul kebonya
Atau karena kekenyangan pada tiap pesta

Kemana saja aku pergi kubawa mereka
Dalam bungkusan dadaku
Terkadang mereka patuh berdiam di sarangnya saja
Di lorong-lorong pembuluhku yang amis darah
Bernanah-nanah
Terkadang mereka gerah dan ke taman-taman bertamasya

Di dadaku berkumpul gerombolan tikus comberan
Yang betina dan jantan tak mau mendandani dirinya
Di depan kaca
Aku sedang membantu mencarikan masing-masing
Pasangannya

hakcipta pada asharjunandar

Larik 39

Posted in Sampiran on Maret 5, 2008 by asharjunandar

Di tanah lapangan gelap ini, aku menunggu bulan
Tiba dan menunjukkan perutnya
Awan setebal batang beringin
Kerasnya sekukuh pagar baja istana
Pepucuk rerumput kering sekarat
Kuracik jadi jarum karat
Dengan gambar ular akan kutato perut bulan
Dan naga yang sedang bersenggama
Barusan di balik belukar rerawa kudengar desisnya
Yang putus asa mencari mangsa
Seakan jangkrik meledek
Bisanya telah menjadi kegemaran para wanita

Di tanah lapang gelap ini, aku menunggu bulan
Satu-satunya perawan yang masih perawan
Dan rahasia aman terjaga
Aku ingin meraba vaginanya
Apakah dia akan merasakan gairah yang berbeda
Ketika jarum sekarat ini mengoyak pembuluhnya?
Aku tidak akan berkata dua kali pada malam
Aku menunggu bulan disini untuk mengawininya
Dengan mas kawin ular dan naga yang bersenggama
Tertera di kitaran pusarnya segera

hakcipta pada asharjunandar

Larik 35

Posted in Sampiran on Maret 5, 2008 by asharjunandar

Satu waktu kutahu Akan berlalu kau
Diam-diam beringsut
Dari bawah selimut dan memadamkan lampu
Malam yang buta ditandai subuh
Dimana ceceran jejakmu masih tumbuh
Hujan kau biarkan mengukur lekuk tubuhmu
Lalu segurat lukisan tertinggal di sisi pagar
Disamarkan rerimbunan duri mawar
Pagi menyemburkan udara ke kamar diam
Lewat gerah gorden jendela
Aroma rambutmu yang masih basah
Hinggap juga di saraf hidungku
Dua juta mil kau dari titik nol selimut ini
Ditandai peluh yang diterbangkan angin
Entah darimana datangnya
Dengan mata berkaca-kaca aku menyedu
Dua gelas kopi
Dan hati-hati kuletakkan di pinggir meja
Di samping ranjang kita
Berjuta malam yang telah terkaparkan
Oleh aliran desahan menyerupai gelombang
Mengukur angkuh karang
Pelayaran yang sangat menegangkan
Dan menggairahkan
Di pulau yang kau sudah menuju
Berenang sendiri disambut tiang dermaga
Adakah menara lampu
Yang duapuluh empat jam menyala
Dan gelitik rimbunan duri mawar
Di bibir pagar
Serupakah bagimu podok yang ditandai
Wangi belukar melati
Subuh yang telah diusir pagi musim semi
Aku masih menyedu dua gelas kopi
Dan selalu kuletakkan di meja dengan taplak
Yang kau rajut dulu bermotif hati
Di bibir ranjang ini

hakcipta pada asharjunandar