Keselatan yang jauh, kami akan menuju. Kami dengan helai-helai bulu kami, para betina kamiadalah lumbung, muara oase, matahari akar-akar ilalang. Ke selatan yang jauh, tercecer helai-helai bulu kami. Menebal empat tapak kaki kami, meretak tanduk-tanduk kami. Kami simpan angin dan hujan untuk budak-budak legam, untuk kalian, Ke selatan yang jauh, kami ikat biji-biji kelamin kami Kami tundukkan kepala-kepala kami, ke selatan yang jauh, Kami gigit lidah-lidah kami, kereta-kereta besar beroda empat kami kitari dalam tertib baris-baris kami Ke selatan yang jauh, sembelihlah kami di malam-malam bulan Panggang di tungku-tungku dan anggur tuangkan ke selatan yang jauh, kami selalu ingat rute pulang
Arsip untuk Sinopsis Musim Gugur kategori
Ke Selatan yang Jauh
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Februari 27, 2009 by asharjunandarBlack the Great
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 20, 2008 by asharjunandarBila pengisyaratan pangkal kalimat itu:
“Seperti mentari”, mentari itulah kelopak mata
Terkatup di punggung gunung, atau
Di titik persfektif cakrawala
Siapa saja yang hendak memanggul sinar,
Seseorang telah mengumpulkan kayu bakar
Api memiliki species lidahnya sendiri
Dan bila percikan liurnya padamu tak mengarah
Antara dingin dan panas, bagaimana kau mengelus
Kulit gelap ?,
Bila pengisyaratan pangkal kalimat itu:
“Mentari adalah Subjek,
Di ikuti keterangan tempat:
”Di dalam lorong gua batu”
Telah terkutuk, yang pertamakali berkata:
“Pintu !”
Dan Kau?
Adalah belantara !
Dan segala penghuni usus buntunya
Rawamangun, Kamis malam, 19062008
Coordinat Prima Causa
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 17, 2008 by asharjunandarKau dipertemuan titik mana sesungguhnya?
Aku tahu kau di luar sana, tapi entah dimana
Sudah kucoba menghitung posisi berdirimu,
Tapi entah kau di koordinat cartesius berapa
Kau biarkan Newton mendekralasikan skala gravitasi semesta,
Kau tunjukkan Einstein jalan setapak ke mulut gua
Relativitas angkasa,
Dan kau perkenalkan dirimu kepada Adam sebagai angka pertama
Dan aku masih di titik sumbu dua garis persilangan
Tegak lurus ini saja
Kau di kuadran mana sebenarnya?
Biar kutranslasikan diriku ke titik pencerminannya
Kau dipertemuan titik mana sesungguhnya?
Kau dipertemuan titik mana sesungguhnya?
Tolong, ajarkan padaku turunan rumus-rumusnya
Angka satu mutlak itu, bagaimana mencarinya
Rawamangun, Senin malam, 16062008
hakcipta pada asharjunandar
Di Saksikan 19 Malaikat Penjaga
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 16, 2008 by asharjunandarKiri, kanan, putar sedikit, lalu turunan curam
Sebelum kau bertemu tanjakan, ke kiri lagi
Pasti kita akan bertemu di neraka,
Kamarku tanpa pintu ditandai, tiga jendela
Bila beruntung, kau akan lihat, aku sedang bersenggama
Dengan gurita, tanpa busana,
Disaksikan 19 malaikat penjaga,
AKU di sana
Di atas ranjang api mengucurkan keringat nanah
Ya, AKU di sana
Rawamangun, Sabtu pagi, 14062008
Air mataku, Untuk Jantungmu
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 16, 2008 by asharjunandarRajamlah punggungku, sebuas gerigi ujung cambuk apimu,
Setajam belatimu, sayatlah kulitku, Kunyah daging haramku
Segemeretak grahammu, Selahap Catrinamu hirup darahku
Lumat aku sampai ke bulu-bulu kuduk,
Tapi sisakan hidangan itu satu, air mataku untuk jantungmu
Rawamangun, Jumat malam, 13062008
Lubang Pembuangan
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 12, 2008 by asharjunandarKe palung, ke palung, ke palung aku mencari-Nya,
Gaya bebas, gaya kupu-kupu, aku bolos terus di jam
Olah raga sekolah,
Tembakau dari ganggang kukunyah-kunyah,
Asapnya kutambalkan di kerak pori-pori darah
Selain Vas Goda Gama, siapa lagi yang berhak angkat bicara
Pada peta?
Ketika bulan menguras malam,
Kepiting-bintang laut di cekungan pasir mengemis jaring
Selain Titanic, ke palung – ke palung,
Yang terdalam, kumau dicerna di giling oleh pusaran
Seperti intensitas cahaya yang menurun suhu tubuhnya,
Ke palung, ke palung, kususuri lubang pembuangan-Nya
Rawamangun, Rabu Malam, 11062008
hakcipta pada asharjunandar
Percakapan Gelap
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 11, 2008 by asharjunandarKarena wajah yang berlawanan arah dan berjauhan
Percakapan ini begitu ringan
Seperti membaca tulisan sendiri untuk diri sendiri
Seperti sudah mengetahui detik terakhir menghembuskan
Udara ini,
Silih berganti mendengarkan,
Kemudian tiba-tiba sama-sama terdiam
Dalam ruangan berlampu yang sama-sama padam
Sama-sama tanpa helai kertas skrenario di tangan
Percakapan ini begitu ringan, setipis kapas terterbangkan
Rawamangun, Rabu malam, 04062008
hakcipta pada asharjunandar
Dua Gambar Kembar
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 10, 2008 by asharjunandarHanya dua hal yang ditanyakan bocah perempuan berusia sepuluh tahun itu padanya,
Bocah yang gemar berdiri rileks di ambang jendela berlatar laut
Dan segala misterinya, seakan dia sedang mementaskan satu babak
Drama, dan titik pertemuan antara dua garis diagonal dari ke empat titik sudut rongga persegi itu jadi titik pusat dari segenap cosmos cerita
Mimik dan gerak geriknya polos, alamiah kata penemu bakat,
Dua tanya original:
“ Ismael Adalante Ismael Prof. Bartledoom?, sadarkah Anda isyarat
Yang dituntut dari sebuah nama?”
Dan,
“Sirkus Bosendorf, sungguhkah Anda sudah benar-benar pernah menyaksikan pertunjukannya, di musim yang terus berputar, seperti
Jarum jam?”
Maka, untuk dua gambar kembar yang terpajang di dinding kamar ujung
Koridor itu, begitulah mereka menjelaskan rahasia goresan dirinya,
“Dan lupakanlah, bahwa namaku adalah Dira”
Rawamangun, Sabtu pagi, 07062008
Inspirated by “Ocean Sea”, sebuah novel Alessandro Barrico
hakcipta pada asharjunandar
Sampai Ke Batas Limit Tuhan, 3
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 9, 2008 by asharjunandarHampir tiap detik, ada saja orang yang datang kepadaku
Mereka tiba membawa tatapan yang berbeda di bola matanya
Ada pandangan bahagia, curiga, benci, marah, pasrah, lelah,
Atau pandangan yang sama sekali tanpa makna,
Dan bermilyar warna lagi yang hanya aku yang mampu membaca
Seakan tak cukup sampai disitu, pandangan itupun menuntut hal lain,
Maka dari mereka, ada yang berjalan ringan menyusuri garis kulitku,
Ada juga yang hanya duduk mematung, membenamkan diri,
Berdiri, bersedekap, atau cuma tidur-tiduran saja,
Mereka ada yang sekali seumur hidup saja bertemu denganku, beberapa kali,
Berulangkali, seperti kecanduan, atau sama sekali tidak pernah,
Mereka memiliki hasrat kata dan lidah jiwa yang hanya aku saja mengerti ucapannya
Seperti hendak mengungkapkan satu rahasia yang paling rahasia
Dari dirinya, yang mereka sendiri terlebih lagi tidak pernah menyadarinya
Dan mungkin karena itulah mereka membiarkan saja liurku yang asin
Menyentuh ujung jari kaki mereka, yang bercampur pasir,
Seperti sebuah ritme tarian ranjang,
Mulanya asing, ganjil, mendebarkan, kemudian mereka kian ingin
Dibawa terbang, menuntut lebih, pada sebuah perlakuan yang bercampur
Antara kelembutan dan kebuasan,
Melebihi kejujuran apapun yang sanggup untuk diungkapkan
Lebih tepatnya, sebuah kepasrahan
Yang sesudah itu, tak akan pernah lagi ada, di belahan dunia namapun juga
Rawamangun, Minggu malam, 08062008
Inspirated by “Ocean Sea”, sebuah novel Alessandro Barrico
hakcipta pada asharjunandar
Tuhan Tidak Sedang Melempar Dadu
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 6, 2008 by asharjunandarTuhan memang tidak sedang melempar dadu
Tapi Dia sedang ingin menonton permainannya
Makanya Dia mengurung kau dan aku di satu ruang dunia
Dan Dia duduk tenang di luar lingkar arena
Menyimak kita, sampai dentang lonceng masa menggema
Sepuas Dia sendiri membeli tiket penciptaan-Nya
Rawamangun, Kamis malam, 05062008
hakcipta pada asharjunandar