Seakan ludah di mulut memiliki
Kekuatan gaib,
Berkali-kali kau telan
Lalu kau muntahkan
Gurita itu sudah mulai mendekat
Tentakel-tentakel mereka
Membentuk dinding penjara
Yang merambat
Seperti ular yang mengintip
Percintaan adam hawa
Di surga
Kau masih berdiri memejamkan
Mata
Udara, debu, dedaun, matahari
Dan segala yang hadir di situ
Membelalakkan mata pada momentum
Bisu
Akan berbuat apa kau ?
Sedang darah telah letih
Kau ajak berkelana
Membayang kembali sesuatu
Yang akan mengantarkanmu
Ke satu pulau
Pulau yang hijau rimba
Tanpa penghuni selain
Angin yang menjanjikan
Bagi bocah yang gemar bermain
Layangan bambu
Dalam pejamanmu
Sayup-sayup bisa kau lihat
Deburan ombak yang tenang
Berdiri namun menyerupai tombak
Burung yang bersalto bebas
Bermain bola buih
Dengan betinanya tanpa cemas
Dan pasir, kau bayangkan
Satu istana kota berdiri megah
Yang gerbangnya terbuka
Menyambut kedatanganmu
Dan permaisuri di satu kamar
Di tengah aula besar
Sudah selesai mendandani
Ranjang dan sekujur tubuhnya
Di depan kaca
Kau rasakan getaran-getaran
Malam yang menyengat
Bagai lebah madu
Dan anggur kau tuangkan
Ke gelas kaca
Sebelum lilin menggantikan
Cahaya lampu renta
Lalu semuanya berkumpul
Mengitarimu
Perlahan membentuk
Satu lingkaran
Berputar seperti tornado
Pada akhirnya berwujud
Noktah putih saja
Sebelum raib entah kemana
Dan dari batas lengkung cakrawala
Satu titik bermula
Pelan muncul lagi
Seperti runcing hulunya
Serupa perahu kertas dulu
Yang tak terhitung pula
Kau mengejar-ngejarnya
Nuh ! ujarmu lantang menderu
“Baiklah: Maju satu- satu jangan
Semua sekalianlah yang memuakkan
Mari kita selesaikan
Secara jantan”
Serumu jalang
hakcipta pada asharjunandar