Keselatan yang jauh, kami akan menuju. Kami dengan helai-helai bulu kami, para betina kamiadalah lumbung, muara oase, matahari akar-akar ilalang. Ke selatan yang jauh, tercecer helai-helai bulu kami. Menebal empat tapak kaki kami, meretak tanduk-tanduk kami. Kami simpan angin dan hujan untuk budak-budak legam, untuk kalian, Ke selatan yang jauh, kami ikat biji-biji kelamin kami Kami tundukkan kepala-kepala kami, ke selatan yang jauh, Kami gigit lidah-lidah kami, kereta-kereta besar beroda empat kami kitari dalam tertib baris-baris kami Ke selatan yang jauh, sembelihlah kami di malam-malam bulan Panggang di tungku-tungku dan anggur tuangkan ke selatan yang jauh, kami selalu ingat rute pulang
Ke Selatan yang Jauh
Posted in Sinopsis Musim Gugur on Februari 27, 2009 by asharjunandarThe Last Snow
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 25, 2009 by asharjunandarSeandainya kau tahu bagaimana aku dan yang lainnya berasimilasi
Tanpa harus mempertanyakan siapa diantara kami yang laki yang perempuan
Dengan sadar yang melingkar di luar kuasa kami, kami berkembang
Dan bangsa-bangsaku, dengan tanda fisik yang sama, ke bumi harus diturunkan
Tentu kau berterimakasih kepada tuhanmu, yang tak pernah kau tampak
Berterimakasih kepadaku dan beberapa ratus teman yang tanpa mempertanyakan
Mengapa harus hinggap di sela mantel hitam tebalmu,
Ketika malam setengah matang telah memasuki alam fikirmu
Kau rasakanlah kini dingin yang menebal dan bisu
Lewat hembusan udara dari saluran mulutmu dan dua siku tangan yang kau
Lekatkan ke dada, tangkaplah kehangatan yang ganjil
Dari rentetan pendaratan tubuh kami yang terlihat acak
Tersembunyi irama yang menggetarkan, yang telah berbunyi lama
Jauh di dasar ingatanmu
Ketika kami turun, bocah-bocah di taman yang dijaga sebatang akasia meranggas
Berteriak dalam girang “ salju, salju, salju”
Yang berselang lima menit kemudian, bahagia bocah itu direnggut
Panggilan ibu mereka, dari mulut jendela berdebu,
Dari pintu rumah yang telah terlalu lama terkunci dari dalam
Sebentar terkatup, untuk kemudian terkunci lagi
Seperti sebuah defenisi yang tertera jelas, menerangkan kata penjara
Di sebuah kamus bahasa kecil mereka
Eks “Seakar Sumsum”
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 18, 2009 by asharjunandarYang takkan tergantikan,
Ya sudah!
Tak akan pernah tergantikan!
Pesan singkat kau kirimkan kepadaku
Dan dia bukanlah sesuatu
yang bersuara
Kau telpon aku?
Ya, aku di kamar
mencari baju, menyemprotkan Stella,
meraih kunci, menuruni
anak tangga, melonggarkan
gembok pagar…
Ya, kau di sana,
berdiri mengingat-ingat kata pembuka
Ketika kuraih, tanganmu
kulekatkan ke jidatku
Di kamar ini, kusilangkan kaki di lantai,
temanmu menyalakan api,
dan di atas tumpukan bukuku,
kau letakkan sarung dan sajadah,
kita bertiga, kau ingat?
Dua puluh tujuh tahun nyaris
lipatan mereka, begitu-gitu saja
Dan gerak jarum panjang jam
setengah melingkar, kembali kau sterilkan
telepon genggamku
Setahun yang silam adalah tahun kita
Kau lengkapkan dua nyawa angka
ke lekat telinga dan gerak jarum panjang jam
setengah lingkar, ya…
Kembali kita turuni anak tangga
Ke pagar…,
Yang takkan tergantikan
Ya sudah!
Tak akan pernah tergantikan!
Selembar pelukan, meski itu
Dengan kita, lagi tak saling bertatapan!
Andromeda, II
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 17, 2009 by asharjunandarBaiklah, pertama-tama, tapakku yang kusuruh lebih dulu mendapatimu. Memang sudah waktunya tittle opening episode kedua. Kau telah menyedu dua gelas kopi. Skrenario itu pasti diantarkannya. Tapi matamu baru terbuka. Baiklah, kedua, kutambahi tungkai kakiku. Di sofa itu, tegap sudah cabang telingamu. Yang baru muncul baru font Judul saja. Oke, kukirimkan sekarang dua tangan yang menggenggam usus, jantung, perut dan pembuluhku sekaligus. Dan lihat, tanpa sabar, kau bakar rokokmu. Dan kuingatkan kau, bukan? Sisakan buatku. Tak mengapa. Karena kau mulai menggaruk-garuk kepala, kupaketkan leherku juga segera. Wah, “Cerita apa ini?”Katamu. Tapi baiklah. Ibunya yang keterlaluan kepada kaca. Ayahnya raja yang impoten. Dan yang tersisa, tentu saja Dia. Sebagaimana dewa-dewa pedalaman Afrika purba…., bisa kau tebak, Dia anak yang berbakti, bukan? Dewa-dewa itupun masing-masing rakus mengunyah daging polosnya. Tapi potongan tubuh itu kemudian tidak memuaskan sistem pencenaan mereka. Akhirnya, diam-diam, satu per satu dubur mereka memuntahkannya di etalase angkasa. Mereka duga gelap itu dungu. Makanya kau harus belajar aritmatika. Kumpulan sudut itulah yang akhirnya menata sisa-sisa pendarannya. Dan kau, bagaimana bila kemudian ternyata potongan tubuhku ini dipaksa masuk ke tabung tanah lalu tertutup? Apakah kau mau menonton filmnya, sebagaimana mini seri Andromeda?
Di Antara Dua Regang Gasing Dadamu
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 10, 2009 by asharjunandarAku akan memohon padamu
Setelah kau nyaris tumpas
Bergegas deru, hendak tumpah
tautan kelingking ini
Di pinggir rima besi hijau kecil
kutarik kau kembali,
sedepa dari uap rambutmu
yang kuhirup,
Aku tertekuk; berlutuk
Bergegaslah, hai kotak kecil
malu-malu liur di saku belakang
jeansku
Lingkar kecil mata logam ini
selingkar besar mata roda putar
Hai kerlip sewarnarupa isak senja
Lebarkan: reruas punggung telinga
dibalut blues pink berenda
“Malam yang putaran poros
mata roda besarnya
berhenti di tapak kakiku,
kukupas kau sekelumit ari saja
Lekatlah lebih kental kulitmu
ke pangkal leherku

Dan di antara dua regang gasing
dadamu,
kikis habislah labirin jantungku!”
Bayonet Bit
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 9, 2009 by asharjunandar
Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Kau ingat mimik kaca toilet itu! Dari tasmu kau keluarkan lipstick merah Dan seseorang yang barusan menyeka buih tequila Kepada tisu basah bibir siapa yang lagi berdusta? Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Kau pacu dua bandul dadamu yang bermuatan serbuk putih Lihatlah asap! Sesuatu yang hendak digapai Setengah kepalan yang mencekal cangkir bening ini Kepada pintu masuk kau masih sempat berkata: “Aku pasti kembali memasukkan tubuhku, ke mulut lagu serigalamu!” Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Bit itu memburumu seperti putaran balet Russian rollet Bayonet siapa ini? Apakah ini memang bayonet? Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik
Nova
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 6, 2009 by asharjunandar
Nova, dimana kini kau Nova?
Peta ini dicerna lambungku
di landai pekik malam
lonceng Viadolorosa
Ketika air mata saja sekarang
yang mendengung laron
di pangkalan bangku panjang hitam
Gereja Beatitudes Bethsaida,
sebuah dari delapan gerbang kota
berkelit dari bias konon yang tersurat
Lekuk-lekuk bata lorong-lorong ini
Sesak serapah beranak-pinak, Nova
Seperti cabang kanak-kanak kita
yang memilir ranting-ranting tawa
Terlalu sulur-sulur kita bermain pasir
di ladang-ladang gandum usia
Selekat akarnya, mutualisme hara
Nova, dimana kini kau Nova?
Kalau pengembaraan angin ini
Sejengkal saja
Sheila: 1000 Tahun Kesunyian Mata
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 3, 2009 by asharjunandar
Akan kau temukan aku
Dalam helai-helai rambutmu yang berponi panjang
Dilingkari selendang merah bermotif bunga,
akan kau ingat sorot itu
Yang berkata padamu: sabarlah, dan tunggulah
Seperti binar dua bola matamu
yang melesat cahaya, akan kau dengar kembali langkah
Dan kau hirup aroma dua lengan
yang mendekapmu di sudut belakang kafe itu
Di ujung mungil hidungmu,
sejentik jejak elusan, masih menanti ujung telunjukku
Qashqavi
Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 2, 2009 by asharjunandarYang kau rinci Qashqavi: Dengungkanlah pengaminan
pada Khamenei:

”Yang sudah membeli baju dan memakainya
dengan mendongkak kepala, maka telanjanglah.
Lebih-lebih yang berbilang umur mengetuk
lumbung emas-perak mereka, mengemislah
dan kembali berbahagia dalam papa
Berbondong-bondonglah kalian membawa apa saja
runtuhkan tembok-tembok tanah Kanaan!
Ingatlah, tiga kali mereka terusir, yang terkutuk
Ingatlah, Yang penyayang Ibrahim bukanlah yang terdiam,
bukan pula janji yang terkantuk-kantuk!”
Yang kau rinci Qashqavi: Lebarkanlah corong radio
ke segenap penjuru benua, angin yang melansir
berita 3000 tahun diaspora, yang mengucur
lacurnya ke anak-cucu kita:
“Segelintir semut telah mendengar derap kuda Sulaiman
dan pasukannya, di lekuk lembah kemenangan
Mereka beriring minggir tanpa bisik yang sia-sia
Tanpa pembantahan seonggok bangsa!”
Yang kau rinci Qashqavi: Ini bukanlah konon purba
di gorong-gorong lembah gegunung Yudea!
Lebih dari 170 Tahun Perjalanan 170 ton Air Mata Ini
Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 28, 2009 by asharjunandar
170 ton, entah seberat itu bobot air mata yang hendak kalian
antarkan kepada kami dari seberang benua,
lewat peta, sempat kami perlihatkan kepada anak-anak kami,
kalian di sana, khusuk berdoa, di bawah malam,
di atas tanah yang terus digemburkan matahari
170 ton, lebih lagi
tanpa sempat mematok skala, karena yang tersisa dalam
benak kami hanya jengkal dan depa, sepuluh jari
yang meraup pasir, batu, liat tanah merah,
lebih dari 170 ton air mata yang hendak kalian antarkan kepada kami
air mata-air mata itu air mata kalian, 170 derajat celcius panasnya
setelah sampai ke puing-puing kota kami, 170 tahun lebih
derajat panas ini telah merebus Aqsa yang kami cintai
170 ton gadam telah menumbuk-numbuki dinding-dinding rumah kami
dan 170 ton air mata yang kalian antarkan ini
menguap saja dihisap pori-pori pung-puing kota kami
tapi biarlah, dalam malam yang tak seorangpun di antara kalian
mendengar,
170 lebih bintang telah kami nyalakan di mimpi-mipi anak kami
lebih dari 170 tahun perjalanan 170 ton air mata ini