Hijau Pucuk

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 24, 2010 by asharjunandar

Sesudah usia tak lagi sesegar hijau pucuk Niscaya dia akan lebih tekun diberanda itu Menatap ke pintu pagar yang terbuka, Seperti kaca mata yang dilepaskan perlahan Dan diletakkannya di atas sebuah kitab Pada pagi yang bening seperti jidat bayi merangkak Seseorang pasti akan tersenyum melihatnya Yang belajar menyuapi dirinya sendiri Dengan sendok plastik kecil Yang juga bahan untuk membuat kembang lili Yang terus mekar di atas meja persegi Di depan kursi goyangnya. (Tapi bagaimana kembang ini mekar Tanpa merangkak dari putik dulu?) Kepalanyapun bergoyang –goyang tak habis fikir Bagai bandul jam peninggalan Buyutnya, Bila dulu dia tidak merangkak mendekati si pembuat Kursi goyang itu, tentu orang itu asyik saja Tanpa menghiraukan sendok kecil yang digapit Jemarinya, Dan rasa aroma rotan yang menguap ke udara itu Kini, membuat kambuh sakit kepala dan asmanya (Tapi bagaimana kembang ini mekar Tanpa menebarkan aromanya?) Si pembuat kursi goyang itu sendiri sempat Terpingkal – pingkal tertawa ketika tiba – tiba Aroma sedikit beraroma itu dulu Ternyata berasal dari sela dua kakinya Yang sekal menggemaskan “Sekokoh inilah nanti pangkuanmu Sampai – sampai para perempuan Terlelap di atasnya!” Dia hanya manggut –manggut Dengan bubur berserakan dilengkung Bibirnya, persis seperti sebuah pagi Yang beningnya sebening pucuk – pucuk Lili di depan kursi goyang yang didudukinya, Pada sebuah pagi, Ketika usia tak lagi sesegar hijau pucuk Dia ternyata jauh lebih tekun di beranda itu Menatap ke pintu pagar yang terbuka, Seperti kaca mata yang dilepaskan perlahan Dan diletakkannya di atas sebuah kitab Di atas seonggok pangkuan, Karena dingin Yang pula sudah tak tertahankan Belulang, Seakan –akan: “Sekokoh inilah nanti pangkuanmu Sampai – sampai para perempuan Terlelap di atasnya!”

Sang Pengunyah Tembakau

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 21, 2010 by asharjunandar

Patutlah dia bertahniah kepada pelaut tua itu,

yang dalam kesepian laut dan segala bentuk lekuk ombaknya

dan misterinya, diapun yang suatu ketika, yang hanya burung hering

yang mengetahui waktunya, dengan tanda tanya yang dia bawa

ke dalam peti matinya, menuliskan sepucuk surat

kepadanya:

“Kepada Saudaraku,

Karena aku sudah lebih dulu mencicipi suatu rasa

Yang diharamkan dogma manusia, dengan rahasia kutuliskan

Sisa – sisa aroma yang tertinggal di dalam benakku,

Ketika aku sudah tersadar, benar – benar tersadar

Dan kembali kepada duniaku, yang sendiri

Dan terombang – ambing dalam perjalanan menuju

Benuamu, yang jauh, di suatu daratan

Ketika aku tersesat dan terdampar karena sauh

Yang dicompang – campingkan topan,

Di suatu senja yang mungkin hanya tersaji di surga

Mereka menggotongnya dengan langkah damai

Mengarah kepadaku, tanpa basa – basi ala kita,

Manusia yang sudah merasa bermartabat dengan

Kemanusiaannya, mengaruniakan dara perawan itu

Kepadaku, dengan isyarat mereka, kumengerti akhirnya

Setelah dia rebah, dan menaburkan aromanya di sekitar

Penciumanku, yang keparat….

Seakan – akan dia berseru lewat matanya yang sayu

Dan mengundang, setubuhilah Aku diawali suatu

Proses pemamahan lidah api yang merah seperti darahmu,

Kemudian akan kau rasakan gulatan dan geliatku

Menyatu dengan darahmu, yang hidup sampai kau

Melupakan ubun – ubunmu, dan yang melahirkanmu

Dan segala yang kau bawa, dalam pengembaraanmu

Kau serahkan kepadaku”

Begitulah, kudapati  diriku, di suatu pagi

Dengan jemari bergetar, menuliskan kalimat ini kepadamu

Mungkin terlalu singkat, dan aku sungguh tak tahu, hendak kupanggil

Siapa Dara dengan wajah kemerah – merahan, seperti nyala api

Yang menghabiskan nafasnya dalam ingatanku itu, tapi

Kurasakan darahku berdesir kencang, ketika kutemukan suatu nama

Yang paling tepat untuk mengenangnya dan menyampaikan kepadamu

Dalam suratku, yang mungkin akan usang, dan kau lupakan

Setelah tahu rasanya, sebagaimana aku, pelaut tua,

Yang pula renta karena apa yang senantiasa hidup dan mengembara dalam

Kepala kita, “

Patutlah dia bertahniah kepada pelaut tua itu,

yang dalam kesepian laut dan segala bentuk lekuk ombaknya

dan misterinya, diapun yang suatu ketika, yang hanya burung hering

yang mengetahui waktunya, dengan tanda tanya yang dia bawa

ke dalam peti matinya, suatu ketika, sebelum dia tahu rasa sesungguhnya

menghitung dengan jari, berapa kali mengunyahnya, berapa kali

dia sudah terkunyah olehnya, olehnya.

Surat Kepada Diri Sendiri, 1

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 23, 2009 by asharjunandar

Bila kemudian, gumpal goresan ini

yang mengiris segalanya, dan segala yang terbatun

di dadamu seperti gelepar daun aru

di semak batu, aku juga luruh. Kau tahu lidah

putri malu di ambang senja yang meradang,

begitu kejam mengiris-iris merah hati kita

sampai darah tercerai dari tetesan, seperti

kenangan kepada ingatan.

Maka aku pergi menyusup ke dalam sunyi

yang lebih gelap, ke dasar desir yang lebih

liat dan lindap. Juga yang mendenyutkan nadiku

yang rentan, dan jiwa, padang manakah yang paling

rimbun dari mereka? Bahkan tidak juga masing-

masing dari benua denyut kita. Entah, jika dengan ini surga

berkenan meluaskan pintunya, atau bila

juga kulewatkan surat ini, kutahu saat,

orang-orang yang kita kenal baik setengah

kenal kita juga, atau yang hanya menaruh

iba pada kisah hijau kita karena mereka bertelinga

dan telah berlalu cerita: kisah pengembara

yang ditinggalkan kereta malam di stasiun mimpinya.

Manusia begitu naif jika dinamai pendurhaka,

maka kutulis juga surat ini, di antara berat

air mata yang tetap kujaga di rongganya. Di antara

terang, temaram dan gelap yang purba,

hanyalah riak yang ingin kusimak,

risik-risik kecil masa benih kita yang jatuh

bagai rintik hujan, ketika mereka berkejaran di antara

langkah dan peron kereta, dan jeritan yang berulang

ulang; gema yang memanggil-manggil nama kita

dari balik kaca. Yang berdiri dan yang bersembunyi

di balik dinding batu. Layaknya barisan duri

di selintang tungkai dahan putri malu,

ketika kertas itu kau lipat, dan yang lekas

terkemas kembali adalah tumpukan baju

di balik pintu.

Lama..lama…lama, tapi kembali

Posted in Mr.Blalang In Diary on Juli 23, 2009 by asharjunandar

Rasanya, blalang sudah lama banget tidak menyentuh blog ini lagi, tapi entah kerinduan apa yang datang mengundang, di tempat kerja, saat yang lainnya pada sibuk sendiri dengan aktivitasnya, blalang, ingin kembali menanam sajak di blog ini, hiks…., beberapa nama telah hilang, facebook memang asik, hirup pikuk dengan bla bla bla fenomenanya, tapi, blalang rasa, ada keasyikan tersendiri untuk kembali ke secarik halaman bolg.


seperti pulang kembali ke ruang kamar sendiri yang temaram, mungkin sejenak diam, merenung, atau hanya sekedar menghela nafas, untuk kembali tenang….

Radu Negru

Posted in ShorTime In HeaVen on Mei 8, 2009 by asharjunandar

Setelah cincin-cincin rantai terurai.
Kemudian putus. Dan wajah
menyeringai di balik topeng:
Segelar upacara bulan. Diam-diam, kau
tanggalkan lepah kayu. Dan menuruni
gunung. Suara siapa yang sayup-sayup
terdengar? Di balik lapis tembok tinggi retak.

Hilir pemakaman.

Dalam lapar sangar, di lorong-lorong tikus
angin terkapar. Siapa lagi yang mengejutkanmu
dengan dering kunci?
Dan perlahan mengelus pintu?

Panas utara yang mengukus tirai jendela.
Jendela kaca. Dan jari awan yang mencengkram.
Gelap. Sumur tua, dalam muak,
rapat-rapat menyumbat lubang hidungnya.

Inilah kota tanpa tuan. Gerbang
yang patah. Dan jalanan yang dikepung
semak ilalang. Persimpangan, masihkah
kau peram perempuan dan bocah
dalam kain gendongan, yang dua-duanya
kau kecup keningnya, dalam haru?

Dalam buntalan air mata, di pekarangan
belakang. Akasiakah yang hendak masih
kau tanam? Dan sepasang ayunan kayu
di dekat sudut barat pagar bunga?

Di hadapan meja dapur itu, selain termangu,
apa lagi yang ngiang di dinding kapur. Bilapun kau
dengar desis miris selinting tembakau.

Inilah kota yang tak bertuan. Dimana rindu ibu
berkhianat kepada pelukan.

Meskipun tawamu putih. Walaupun
senyummu lirih. Biarpun tangismu
perih. Dipilin angin. Di sini.
Lilinlah yang selalu mengabarkan
dingin. Dingin dinding. Merinding.

Anekdot Albuginea

Posted in ShorTime In HeaVen on April 29, 2009 by asharjunandar

Sekeluar surau ini, kukira. Di sanalah pasar teringar kita, pada tapal sandal yang hendak lekang. Pada tali jepitan yang mulai renggang: Apa yang tumpas atas ampas debu? Hilir mudik seseorang yang berdiri. Berujar: “Di mimbar, di mimbar….” Dan sila kita menghadap ambal: Putih yang putih sebagaimana putih. Tetaplah putih: Dinding dingin yang putih: Selepuh siar sabit ubun-ubun surau ini. Kukira di antara kita yang membeli pulut doa, lalu tungkai kaki ditimang-timang timbangan sandal bebal ini, yang paling riuh hanyalah desah yang lenguh di sela mayat daun bergelimpangan. Dalam cengap ceri matang : Camar buta meracik sarang di celah patahan dahan untuk anaknya. Pada gigir trotoar yang selumit liur, masih basah selinting hujan di pangkal paha. Dihijau kuduk perdu, angin masbuk akan terus membubus debu. Selecut mimik di luar pagar surau subuh ini, kukira mengurapi kurus tengkuk kita yang tandus. Yang kita duga: Kudus. Parau. Suara. Mengigau igau. Di luar pagar surau subuh ini.

Datos, Kapal Sutera

Posted in ShorTime In HeaVen on April 21, 2009 by asharjunandar

Sebab yang selamanya mengerling

adalah malam,

dan kau pada bingkai tetaplah Kau

yang termangu warta warna:

Selingkar lukisan kalung bermata rubi

Benua Barat. Ya, kusandarkan kapal

di celah dermaga. Dan segulung sutera

di hampar liat cermin basah:

Adakah lagi gelisah yang lebih rekah

antara redup,

dan desah yang menyusup hidup ?

Sebab yang selamanya retak

adalah malam. Digiring panah aku berburu

Dan busur yang meregangi tubuhku

Di matamu yang ombak,

tengah merumput rusa belia itu

pada tindik jendela. Kamar sekubik geladak

Kau tahu yang kau ingat sudah:

Selain desau keringat ,tak ada lagi

kemarau gerabah

Sebab yang selamanya mengerling

dalam gigil fajar memanggil

kemudian terguling, adalah malam berarak:

Ringking peluit menarik jangkar

Merangkak kapal

melayati lautan lahad gelap. Dalam bulan

retak

pada lajur-lajur angka,

yang juga tak bertapal. Matamu

yang ombak