Tuhan Kertas Bersegel

tuhan kertas bersegel1
bila engkau merasa kepiting waktu begitu lamban berjalan
dan awan gelap dajjal mengepung ruas-ruas kuku kakimu
yang kau duga bergelayut kalung dosa,

kurasakan juga hal itu dulu

kala sirna embun pagi di labirin malam
kelakar akar serasa liur setan mengulum
bibir bir-bir, senikmat zam-zam
syair link in park sesyahdu zikir
di kuping gendang,
menggelandang

kumaknai semua itu dulu

ketika kita, homosapiens dirantai fikir
sekaliber sarjana di lantai pesta musafir
lumpuh benalu pada mutualisme inangnya

persetan dengan sarjana

anjing itu pula, menyemat toga
di ekornya

bila engkau ingin berhenti melakoni manusia,
kurasa dosa
mampu membantu kita
menemukan jalan, keluarnya

2
tapi apalah….

dua gemerincing daging pemuncrat muatan ruh kita
dari liang, di altar doa-doa darah, mereka
menuhankan tuhan kertas bersegel itu, membabi buta

satu kembang sujud yang kan berlabuh pada bangga,
mereka kira, itu tuhan penggali gorong-gorong tikus kita,
yang nyenyak-lelap, di balut selimut hangat

tapi apalah …

anjing berkaki tiga juga,
dengan air liur, mengamini kotoran ijazahnya

bila engkau ingin berhenti melakoni manusia,
kurasa dosa
mampu membantu kita
menemukan jalan, keluarnya

3
sekarangpun,

meronta-ronta insangku
dalam trumbu batu
dalam aquarium tanpa air
dalam kristal renung debu,
tak mencair

bila engkau ingin berhenti melakoni manusia,
kurasa dosa
mampu membantu kita
menemukan jalan keluarnya

4
kala hujan jas dan toga menggenangi pulau dadamu,
akulah rahib yang menggeletarkan lonceng hantu
di punak-punak menara awasmu,

lembar pengakuan itu adalah neraka
pemborgol mata,
dua lengan kita

bantulah selancarmu lolos dari terjangan
gelombang tahayul banci itu

sebab roda hidup itu, adalah terminal asing,
hingga pecah kulit bannya

jangan terhipnotis lekuk tanda tangan
rektor dan dekan

mereka juga makan nasi,
digoda ifrid,
digrogoti rayap picik hati,
dan
takut mati

bila engkau ingin berhenti melakoni manusia,
kurasa dosa
mampu membantu kita
menemukan jalan, keluarnya

5
berbahagialah manusia minus sekolah
berbahagialah diiris nyeri bodohnya
seraya menangisi luka
nasib menganga

insangku masih terus meronta-ronta
dalam timbunan kristal,
tak mencair
Catatan Kaki: Puisi ini ditulis blalang untuk kelulusan kuliah Bang Mogx nanti. Memang hal-hal buruk dan menyedihkan telah kita jalin dalam rahasia perantauan, jauh dari tali kasih ibu-bapak. Tapi toga dan izajah sarjana sangat membanggakan mereka. Sepenuhnya, itu tak menjamin hidup kita nanti. Blalang merasakan itu kini, dalam gelombang keterpurukan yang hampir menenggelamkan. Hayo, bangkit Bro…Engkau harus jadi sarjana untuk diri dan hidupmu sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Cukup untuk dirimu sendiri. Itu saja sudah lebih dari cukup.
Puisi ini rampung, 8 juli 2006, 15.05, Gotong royong Buah Batu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: