Sesudah Menelurkan Karya Penyair Mati ?

 

Sepucuk prologue: blalang_kupukupu dan musyahabah puisi

” Sesudah menelurkan karya, penyair mati”, begitulah kira-kira pusaran badai mitos yang begitu kuat mengepung dan menghuyung-huyungkan pokok fikiran penyair, umumnya di Indonesia. Meski banyak faktor yang menjadikan penimbang terpinggirkannya puisi dari dunia publik. Toh, sang maestro Chairil memang bersabda bahwa puisi atau sajak yang jadi adalah sebuah dunia. Dunia yang memiliki denyut dan gerak kehidupan sendiri.

Menilik buah pemikiran Tardji di Isyarat-nya, penyair juga, sebagai kreator dunia sajak jadi, tidak bisa tidak dan tak boleh lepas dari realitas. Sajak adalah dedahan-dedahan warna-warni realitas, baik yang mencengangkan ataupun yang sudah lazim hidup berlari-lari, di pemukiman masyarakat. Dengan kepiawaian sang penyair, warna-warni pelangi kehidupan itu, dieram dan dijadikan telur yang siap menetas dan menjelma seekor anak ayam. Pada tahap inilah penyair harus bekerja ekstra keras, hingga berdarah-darah. Lantas apakah anak ayam yang baru menetas tadi, dibiarkan saja berkeliaran sendiri ?

Menyimak geliat tubuh sejarah sastra tanah akhir beberapa dekade lalu sampai sekarang, umumnya, masyarakat acapkali berprilaku tidak adil sebagai juri untuk memposisikan sajak dan pesajak dibanding karya sastra lain. Sebut saja novel dengan novelisnya, cerpen dengan cerpenisnya. Meski mereka (syair, cerpen dan novel) lahir dari rahim inang sastra kandung yang sama, toh si novel dan cerpen lebih dimanja masyarakat di banding si syair.

Mengintai kupu-kupu sajak dengan warna-warni sayapnya yang unik dari balik semak-semak keingin-tahuan memang memiliki keasyikan tersendiri. Namun ini hanya berlaku bagi segelintir kecil kaum dari himpunan semesta masyarakat kita. Mereka lebih suka mencicipi produk sastra instan yang tidak rumit untuk dikunyah gigi, ditelan dan dicerna ususnya. Walau ini satu sudut pandang kacamata, maka tidaklah heran di tubuh masyarakat lebih banyak bertumbuhan bulu-bulu sajak semisal Taufik Ismail dan WS Rendra dibanding Sutardji ataupun Sapardi. Meski boleh untuk disimpulkan kalau mereka ini adalah penyair yang lahir dan hidup pada bentangan tangan waktu yang nyaris sama.

Tipe dan gaya kepenyairan yang mereka usung memang menunjukkan jarum kompas yang jauh berbeda. Taufik dan Rendra lebih banyak berkubang pada sajak-sajak pamflet yang dirasakan lebih menyuarakan lengkingan kerongkongan masyarakat yang sudah kering dan kepayahan meneriakkan nasibnya dibanding Tardji dan Sapardi yang sajak-sajaknya lebih bersifat kamar yang lebih sering memproklamirkan “Aku” pada larik-lariknya.

Citra sajak “Aku” yang sudah terlanjur dicap sebagai individualistis yang sangat angkuh dari penyair oleh masyarakat menajdikan maestro-maestro penganut aliran ini lebih terpinggirkan dibanding mereka yang mengusung syair mimbar. Meski ini adalah pilihan dari si penyair itu sendiri, tapi untuk dinamika masyarakat sekarang ini, ada baiknya penyair-penyair mimbar terutama kamar lebih membunyikan alat musik sajaknya yang sudah terlanjur dicap sunyi.

“Sesudah menelurkan karya, penyair mati” kiranya perlu dikikis perlahan-lahan dari benak masyarakat dan penyair itu sendiri, sehingga sajak dengan planet uniknya mampu disejajarkan kehadiran dan perannya di tengah ruang orbit publik. Dinikmati seluas-luasnya waktu, ruang dan disegala jenis kesibukan aktivitasnya.

Penyair yang langsung menafsirkan sajaknya bukanlah suatu dosa. Walaupun penikmat sajak banyak berhak untuk setuju, atau tidak setuju atau malah abstain dari nilai-nilai tafsir itu. Penyair memiliki kacamata sendiri, begitu juga mereka, mengantongi teropong sendiri pula.
Setuju atau tidakkah ?
Terserah Anda. Bukankah keputusan selalu diikhtibarkan sebagai dua sisi mata uang ?
Salam cipika-cipiki:)

dari TeropongPUISI:Musyahabah-Puisi KUPUKUPU

asharjunandar.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: