Arsip untuk Januari, 2008

Besok yang Masih Dalam Genggaman Peluang

Posted in kupukupu bersayap cinta on Januari 31, 2008 by asharjunandar

Ren, bila kau telepon aku:
Tak akan ada lagi ucapan
:selamat malam
Dan mimpi indahlah, sayang

Shincan dan cappuccino dingin
Di almari es Kaku sendirian

Daster silam bermotif bunga
Akan mencairkan kantukmu saja

Ren, di luar hujan rintik-rintik
Seperti jarum-jarum detik,
Adalah dosa besar
Melepaskan hati sendirian
Di gelap kamar
Berkeliaran

Sebab kesendirian
pengasingan
Bagi sunyi yang kesepian

Ren, Shincan dan cappuccino
Di almari es, tidaklah terlalu
Buruk untuk lambung kelaparan

Tahu bayimu butuh makan

Dan malam,
Dering beker yang mahapanjang

Rebahlah, Ren
Biarkan bulan jadi api

Besok yang masih dalam
Genggaman peluang
Pun, ada pagi di cangkang eram
Malam
hakcipta pada asharjunandar

Pemancing Cinta

Posted in kupukupu bersayap cinta on Januari 31, 2008 by asharjunandar

Siapakah yang memacing ikan cinta
Di permukaan,
Panjang talinya sampai ke dasar

Orang-orang sakit berobat di danau
Yang diam dan santun
Kepada orang tua pinus
penjaga legendanya

Siapakah yang memancing ikan cinta
Di permukaan,
Sambil bersila renung
Di atas batu
Tahu mendung mengantungi
Koin-koin hujan,
Jangan pernah percaya kepada angin

Angin adalah pengarang ulung
Yang menciptakan tokoh
Matahari dan bulan
Di satu ranjang

Kapankah matahari
Pernah bertemu bulan ?

Selain jarak yang kian mempertebal
Kabut waktu
Di tepian danau itu

Pulanglah,
Di pasar pagi akan segera kau temukan
Seorang penjaja ikan segar
Dengan senyum ramah melingkar

Lapar bisa jadi
Sebentar lagi terkapar

hakcipta pada asharjunandar

Celengan Hati

Posted in kakikakiangin on Januari 31, 2008 by asharjunandar

Malam ke pagi, pagi ke malam
Celengan liat hati ini,
Selalu kuisi dengan recehan
Koin waktu

Kuletakkan badannya
Bukan di sudut kamar,
Bukan di bawah ranjang
Tidak pula di tengah meja
Berhias taplak cahaya

Tapi tubuhnya kurebahkan
Di bibir jendela kaca
Yang sepanjang hari terbuka
Seperti bibirnya yang kaku
Dan tidak pernah berkata
Berapapun jumlah angka
Yang kuselipkan
Ke dalam lambungnya

Malam ke pagi, pagi ke malam
Wajah celengan hati ini
Dimandikan rintik hujan
Tubuhnya dikeringkan handuk matari
Keringatnya dibasuh embun pagi
Dan dahaganya dilunasi
Kicauan kenari
Dari dahan-dahan melati
Yang dibesarkan pelangi

Bila satu waktu, sang perempuan itu
Di hembuskan angin waktu
Dan langkah kakinya yang telanjang
Melewati pagar rumah kayuku

Jari manisnyalah yang layak
Memungut Celengan hati ini

Yang sudah penuh terisi
Bau pelangi
Dan aroma melati kasih

hakcipta pada asharjunandar

Angin Seperti Pernah Lelah

Posted in kupukupu bersayap cinta on Januari 30, 2008 by asharjunandar

Angin seperti pernah lelah keluar masuk
dari bibir jendela
Menghampiri kawanan rumpun bambu
Yang terus bergoyang-goyang entah mengapa
Sesekali angin terpelanting dihalau tembok tinggi
Dan tubuhnya yang dipantulkan jari-jari daun bambu
Kembali ke bibir jendela
Eh, seorang bocah perempuan berlari
Menyongsong altar beranda
Telanjang tangan angannya riang menjaring
Kedua-duanya

hakcipta pada asharjunandar

Kupu-Kupu dan Tequila

Posted in kupukupu bersayap cinta on Januari 30, 2008 by asharjunandar

Kalaulah bahagia bagimu
Menjaring kupukupu
Maka jalalah

Jikalaulah girang bagimu
Segelas arak malam
Maka botol-botol tequila
Tegaklah

Kupukupu
Atau tequila atau apapun namanya
Adalah campuran nyawa warna
Untuk lukisan monalisa cinta

hakcipta pada asharjunandar

Pada Satu Tanya Saja

Posted in kupukupu bersayap cinta on Januari 30, 2008 by asharjunandar

Akhirnya, hanya satu pertanyaanlah pada akhirnya,
dari segala lakon dan diskusi, akhirnya
pada diri yang bermukim di dalam diri
sendirilah, Tanya itu, menggantungkan
sepatunya.

Bagaimana kau akan mengganti
Sungai yang membersit di sela sulbi
Hujan yang turun di sela ubun-ubun
Dan semak yang merambat lebat
Jadi hutan, di sela yang kramat
Pada akhirnya, segalanya akan terangkum
Pada satu Tanya saja: akan kemana akhirnya aliran itu
Menghanyutkan segalanya bersama air dan dirinya?

hak cipta pada asharjunandar

Sujud untuk Yang Maha Sujud

Posted in Mr.Blalang In Diary on Januari 29, 2008 by asharjunandar

Alhamdulillah, tidak terasa 2 bulan satu hari blog blalang ini berjalan seiring jejak – jejak jarum jam waktu. Awalnya, hanya untuk menggenapi rasa iseng karena kejenuhan di kantor sekaligus untuk alat penyalur komunikasi puisi blalang kepada umum khususnya para cyberer yang juga menikmati puisi.

 Dan, masa dua bulan ini juga blalang lebih komitmen kepada diri sendiri untuk terus berusaha menelurkan puisi-puisi yang lebih tajam dan berbobot dari segi rasa, tema, dan semuanya.

Mungkin dua bulan ini adalah tonggak awal dari satu keinginan yang sempat tertunda sejak kuliah di Bandung untuk lebih menyeriusi ranah rimba puisi dan kepenyairan yang kata Tardji tidak untuk main-main. Karena di sini, di ranah ini adalah rimba yang penuh dengan berbagai cobaan, tetapi tentunya juga penuh tantangan dan kejutan-kejutan yang indah

Terimakasih kepada temen-temen yang sudah menyempatkan diri singgah dan sering menikmati sajak-sajak blalang baik yang secara sengaja atau tidak. lebih-lebih di milist penyair@yahoogroups.com, bentang, fordisastra.com, puisimania.info. Di beberapa nama tempat maya inilah blalang sering menaburkan benih-benih puisi blalang.

Untuk kategori kaki-kaki angin blalang cukupkan sampai 25 sajak saja. Sebenarnya, kaki-kaki angin merupakan satu antologi yang sudah selesai sekitar setahun yang lalu. Hanya saja, mengikuti perjalanannya, blalang hampir melakukan perombakan semua puisi, dan hasilnya sebagian pada sajak-sajak yang sudah blalang posting di kategori kaki-kaki angin tersebut. Kemaren, revisi untuk semua puisi di antologi ini sudah selesai dan doakan saja blalang menemukan penerbit yang cocok untuk mempublikasikannya.

Kaki-kaki angin ini merupakan satu keutuhan cerita kisah cinta masa lalu blalang dengan seseorang yang di beberapa sajak sering blalang sapa dengan panggilan “jingga”. Hehehe

Sehabis ini, blalang juga masih akan disibukkan dengan revisi naskah antologi puisi lain yang akan lebih banyak bercerita tentang blalang sendiri dengan seorang saudara laki-laki blalang yang sudah bermukim di padang. Setting yang diambil kebanyakan di daerah kota kembang Bandung, ketika kita berdua kuliah dulu, rentang 2001-2005.

Beberapa puisi lama yang belum mengalami revisi blalang cantumkan di kategori sebotol malam. Ini bukanlah judul akhir dari antologi ini, karena blalang sendiri belum menemukan judul yang tepat untuk antologi ke dua ini.

Tentunya sambil mengerjakan revisi ini, blalang juga terus coba untuk menghadirkan sajak-sajak terbaru blalang, yang kebanyakan diposting di kategori “antara titik dan koma dan dari sebuah kamar (umumnya tentang ketuhanan dan perenungan blalang atas misteri kehidupan)”, “kabar burung dari luar istana” (yang lebih banyak berbicara tentang tema sosial) 

Dan baru-baru ini, blalang menambahkan satu kategori lagi “kupukupu bersayap cinta” (berisikan tema cinta secara universal). Ide ini muncul atas inspirasi dari seorang teman yang sekarang suka menjadi komentator puisi-puisi blalang sambil sesekali secara langsung via hp membacakan sajak blalang (terimakasih untuknya, yang tak terhingga)

tentunya untuk teman-teman juga

salam,

blalang_kupukupu