100 puisi untuk 1 bait puisi

Kemaren malam, dengan seorang teman yang dulu sama-sama kuliah di Jatinangor, Bandung, blalang akhirnya berhasil juga mendaratkan tubuh ceking ini ke Toko buku Yose Rizal Manua. (blalang tak perlu lagi kan ngejelasin identitas bapak yang satu ini? hehehe). Ternyata, sebulan tidak mengikuti perkembangan buku antologi puisi, wah banyak buanget yang sudah beredar di pasaran.

Hujan di sekitar Jln Pramuka, tidak menghalangi blalang dan teman yang acapkali blalang culik dari ceweknya, jika blalang ingin cari buku di Jakarta. Hehe, karena teman ini memang punya sepeda motor, setidaknya menghematlah, awak neh…:)

Nama teman blalang ini sebut aja Jiji, lulusan Jurusan Sejarah UnPad angkatan 2002. Masih muda, tapi ilmunya sudah mumpuni apalagi seputar sejarah kota Jakarta. Memang dia lahir dan besar di Jakarta. Yang membuat kami begitu akrab, karena lewat Jijilah, blalang jadi sedikit-banyaknya mulai kembali meminati dunia sajak yang dulu sempat ditanggalkan blalang ketika tahun pertama dan kedua masuk di Jurusan Statistika Unpad.

Dan begitulah rencana tuhan, sampai benar-benar di tendang waktu dari Kawasan Jatinangor yang aroma kehidupannya mulai didetakkan seperti nadi Jakarta karena sudah berdiri dua Mall, (Jatinangor Town Square dan Padjadjaran Plaza), selain itu memang neng-neng geulis Bandung selalu memiliki aroma tersendiri membuat blalang dan Jiji rajin kembali berkunjung ke Bandung.

 Sejam, sehabis menyungkurkan kepala di sajadah mesjid TIM, tangan dan mata blalang dan Jiji sudah tidak sabar lagi untuk menggrayangi buku-buku berumur tua dan muda di toko kecil yang lebih mirip gudang penyimpanan buku itu.

Mencari-cari kitab sakti Om HASAN ASPAHANI yang bertembang” MENAPAK KE PUNCAK SAJAK” di Gramedia, sungut blalang belum mengendus aromanya, eh di Toko yang seperti jualan sayur lontong itu, malah terselip sebiji kitab pusaka pemilik Sejuta-Puisi.blogspot.com itu. Tak pikir pendek atau panjang lagi, langsung saja blalang gapit, sebagai tanda hak cipta pembeliannya, sudah blalang kantongi…hehehe:)

Selain itu, bertemu juga dengan beberapa sampul muka kumpulan puisi Abdul Hadi WM, sang maestro sajak sufi-nya Indonesia-lah, “PEMBAWA MATAHARI” yang sambil kerja hari ini, blalang lahap hampir habis semua halamannya. Menilik buku ini, nanti insyaallah akan keluar kepompong perenungannya blalang di Teropong Puisi Musyahabah-Puisi KUPUKUPU-nya blalang. Kan harus diendapkan dulu memorinya, biar lebih matang….Iyakan Om Hasan ?:)

Jiji, teman yang selalu seperti pacar sejenis buat blalang malah memperoleh mutiara yang selama ini di carinya. Tidak jelas memang apa judul buku itu, karena blalang sendiri sedang sibuk menimang-nimang antologi yang harus diborong.

Kenapa harus begitu banyak, blalang? kalau tidak salah ada sekitar 10 antologi malam itu yang blalang paksa ikut pulang bersama blalang ke kosan di Rawamangun. Ya, dulu, entah kapan dan di bumi mana, blalang pernah baca satu pepatah ayat dari nabi sajak yang entah siapa namanya, yang dikutibnya dari kitab suci-nya bahwa untuk menciptakan satu sajak yang benar-benar baik, kita para pesuluk sajak haruslah membaca 100 sajak yang sudah jadi.

Dengan kata lain, blalang malah lebih ekstrim lagi, biarlah dianggap bid’ah, blalang lebih menganggap ” 100 Puisi untuk 1 bait Puisi”

Ya, tidak ada yang sia-sia.  Misalnya saja, ketika tadi malam blalang menyusup ke  halaman pekarangan sajak Whiji Tukul,  blalang malah langsung mendapat inspirasi untuk menciptakan sajak yang baru tadi pagi di-posting-kan. Sesungguhnya, malam itu ada sekitar 5 sajak senada yang rampung cuman belum menjalani pendedahan (evaluasi :red), yang blalang fikir cukup senada dengan gema sajak yang diusung Pak De Whiji, sehingga blalang di weblog-nya menyajikan satu kategori utama (yang moga-moga kelak bisa juga jadi satu antologi puisi) sebagai lemari naskah untuk puisi-puisi blalang yang bernafaskan perjuangan atas keprihatinan sosial:” Kabar Burung Dari Luar Istana”.

Dan blalang masih saja betah di kosan ini. Di depan semua kepenatan yang kian membukit di dada menapak pelan ke bukit sajak Suhu HASAN ASPAHANI, yang pemandangan alamnya pasti sangat menggiurkan birahi kesejukan dan ketentraman jiwa

hehehe:) tetap smangat pak blalang.

 

 

 

Iklan

Satu Tanggapan to “100 puisi untuk 1 bait puisi”

  1. VALENTINE’S DAY

    wajah-wajah ceria
    cahaya-cahaya lampu kota
    terang berbinar menyempurna
    hari kasih sayang nan bahagia

    angin yang tenang
    malam yang semakin kelam
    mengusir segala muram
    dan kelana dingin di senyap gelap

    adakah sesuatu yang dapat mengubah dunia
    selain saling mencinta sesama manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: