Di sela bangku panjang kosong halte malam

Di sela bangku panjang kosong halte malam
Dan genit kerling mata asap nikotin
Yang kubenamkan dalam-dalam di dasar rongga dada
Aku tengah berdiri

Lampu merah perempatan
Lima puluh kali berganti warna sudah
Dan aku gamang membujuk selembar badan
Untuk bersandar saja atau terus tegak bertongkat kaki

Kau duduk di deretan bangku berapa?
Apakah jendelanya sedikit basah?
Atau toko lentera jalan masih buka?

Pada siapa ku mesti bertanya:
Apakah, sebaiknya aku menyulut api rokok lagi
Atau membiarkan hidung bangku panjang kosong itu
Merasakan aroma beku wajah malam sendiri
Yang berat dan ingin segera diseret mimpi

Roda busmu sedang ditikungan mana kini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: