Tentang Sajak Cinta

Sudah beberapa hari ini ingin menyajakkan tentang cinta. Kategori Kupukupu bersayap cinta di blog blalang ini sebenarnya difungsikan untuk menyimpan kategori sajak yang beraroma kasih sayang itu. Tetapi, sumpah…. ternyata meracik sajak yang mengenduskan nafas cinta teramat kepalang susah. Mengapa bisa ?

 Kalau untuk sekedar menyajakkan cinta asal-asalan, mungkin siapa saja bisa melakukannya. Bahkan anak SD kelas 3 yang sudah teramat maju langkah fikiran dan rasanya karena korban teknologi bacaan dan kemajuan zaman. Tapi, sebenar-benarnya sajak cinta yang tidak umum, yang tidak terkesan basi dan memang benar-benar menjadi satu sajak cinta yang inspiratif penuh letupan kreativitas tinggi sangat sulit untuk menciptanya.

Blalang beberapa hari ini, sering mampir di beberapa milist atau situs yang banyak memuat sajak cinta, dan kebanyakannya ya begitu-begitu saja. ” Seandainya, Kalau saja, Ada duka, Betapa aku mencintaimu, blala…blala…..blala….” jujur membuat mata dan fikiran blalang jadi jemu dan pongah (bosan.red).

Teringat kepada Esay Dino F Umahuk beberapa waktu lalu di milist Penyair@yahoogroups.com yang menyinggung kian menggilanya rintik hujan teknologi yang mengakibatkan berjuta kali menjamurnya penyair-penyair yang ingin meramaikan jagad ranah suci ini. Dan mungkin, bagi kebanyakan, cinta adalah sesuatu yang sangat sakral untuk terus diangkat sebagai tema puisi. Ya, paling nyata pastilah tema cinta antar dua jenis kelamin manusia.

untuk menyebut beberapa puisi yang blalang kutip dari satu situs yang sudah lumayan banyak penyair yang memposting karyanya disana sebagai berikut:

Penantian..

Terlalu naif rasanya bila kuharus milikimu sosok wanita yang sempurna yang pernah aku temukan Terlalu lama rasanya bila kuharus menunggumu kata yang tersembunyi itu cinta kau hanya yang tahu Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Terlalu sombong diriku bila kufikir kaupun mau bersanding selamanya denganku dalam suka dan duka Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Meski harus kuakhiri penantian yang tak bertepi : Hasanain Haykal beginilah rata-rata puisi  cinta anak muda-anak muda yang sedang dimabuk cinta dan terjangkit demam penyair musiman (kalau tidak marah disebut, penyair pendompreng).

Adakah yang salah dengan puisi itu ?

Memang tidak ada yang salah dengan puisi itu. Tetapi, alangkah datarnya rasa yang dapat diresap dan nyaris sama sekali tidak ada yang mengendap (membekas) dalam jiwa, dalam gundukan sunyi, yang lincah bergerak, atau menari-nari, atau bersuara dengan riang, atau perih, atau apa saja bentuk sosok rasa yang dapat dibangkitkan dari puisi tersebut. Memang ini sifatnya sangat subjektif sekali. Tetapi, marilah kita renungkan untuk beberapa detik saja, mungkin sudah jutaan bahkan ratusan juta anak muda di dunia ini menghasilkan sajak atau puisi yang senada dengan kata dan penuturan yang sama mungkin hanya terjalin dalam perbedaan jenis bahasa yang digunakan.

 Hasilnya, belum selesai mata kita untuk membacanya, kacamata jiwa kita sudah keburu bosan untuk menerjemahkannya. Kenapa ? karena tidak adanya rasa tersentuh secara personal lagi. Baik bahasa, gaya penuturan dan pemilihan – pemilihan kata yang digunakan sebagai bahan untuk meracik sayur sajak ini, sudah terlalu umum dan mungkin sangat umum sekali.

 

Mungkin ada baiknya coba kita kupas bait per bait sajak ” penantian” teman ini:

dari kepala sajak saja: “PENANTIAN”, sudah memberikan kita Imajinasi atau bayangan bahwa si penyajak sudah atau sedang menanti sesuatu dari seseorang, atau dia tengah merasakan sesuatu yang sangat dekat akan sesuatu yang sedang menjauh atau ketika berada jauh di luar badan dirinya yang kasar. Sejak blalang suka membaca sajak dari berbagai penyair di Indonesia saja, blalang sudah menemukan judul sajak seperti ini persis  lebih dari 50 puisi, dan untuk mengingatnya satu persatu, sepertinya hal yang sangat mustahil. Yang blalang ingat adalah, blalang juga pernah membuat judul puisi yang seperti ini pada saat menulis sajak di kelas 2 smp.

“Terlalu naif rasanya bila kuharus milikimu sosok wanita yang sempurna yang pernah aku temukan”

Ini adalah pernyataan penyair mungkin kepada dirinya sendiri atau bisa jadi juga langsung kepada si wanita, yang katanya akan menjadi terlalu naif, akan terlalu keterlaluan dan bisa jadi akan menjadi suatu khayalan yang begitu mustahil terjadi, untuk apa ? untuk memiliki si wanita ( yang menurut si penyair merupakan sosok wanita yang sempurna, yang pernah dia temukan). Pada bait ini, sama sekali tidak ada permainan metafora bahasa, begitu lugas dan tegas. Kita, pembaca tidak diajak hayalan, rasa, hati dan daya fikir imajinya untuk menyingkap tabir rahasia bait pertama sajak ini. Berikutnya, kita menuruni anak tangga bait ke dua dari tangga sajaknya:

“Terlalu lama rasanya bila kuharus menunggumu kata yang tersembunyi itu cinta kau hanya yang tahu”  

Kembali lagi, seakan penegasan dari model bait pertama, bahwa pertama kali penyair menyatakan ketidak pantasannya untuk memiliki sosok wanita yang dimatanya sempurna (belum yang paling sempurna), sekarang ditambahnya penekanan bahwa penyair tidak akan pernah memiliki si wanita, karena penyair merasa terlalu lama untuk menunggu, sedang bentuk cinta penyair, mungkin cinta yang berusaha ditunjukkannya kepada si wanita, hanya si wanita saja yang tahu, sedang wujud cinta wanita itu, hanya si wanita itu saja yang tahu.

Lagi-lagi, pada anak tangga kedua bait sajak ini, kita tidak diberikan sengatan-sengatan atau kejutan-kejutan yang sedikitpun akan menyengat hati atau rasa kita untuk mengikat sajak ini, mengendap di dasar jiwa kita. (setidaknya, ini yang blalang rasakan). Mari, kita kembali menjumpai anak – anak tangga bait ketiga dan seterusnya sajak “Penantian” ini.

Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Terlalu sombong diriku bila kufikir kaupun mau bersanding selamanya denganku dalam suka dan duka Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Meski harus kuakhiri penantian yang tak bertepi

Di bait selanjutnya, penyair menyatakan kalau saja si wanita bisa memahami diri dan cintanya, maka si wanita pada akhirnya akan tahu bahwa hanya si penyair yang mampu mencintai si wanita sedemikian rupa. 

Selanjutnya, penyair meminta cinta, sang cinta itu sendiri, untuk menunjuki dirinya, atas lakon apa yang harus diperbuatnya untuk dapat membahagiakan si wanita ?, atau pada akhirnya penyair menarik kesimpulan kepada dirinya sendiri karena di sana, tidak ada suara atau bisikan yang menjawab tanyanya. Si Cinta yang dimintai jawabannya ternyata tidak memberikan jawaban apa – apa. Suara angin tidak ada, semua, hanya diam, atau tidak bisa dibilang karena memang tidak ada kata atau kalimat yang menyiratkan keadaan tersebut. Jawaban yang diajukan penyair, sesungguhnya mengambang, apakah pada akhirnya dia mendapatkan jawaban atau tidak, tapi yang pasti, dia sudah mengambil satu kesimpulan tegas, seperti benang merah yang mengikat layang-layang yang ingin bebas terbang, bahwa: dia (sang penyair) akan tetap mengusahakan akan tetap membahagiakan cintanya, atau kalau bisa si wanita, walau dia akan mengakhiri penantian itu. bagaimana mengakhirnya ?

sungguh suatu kejanggalan yang sangat sempurna,

setidaknya, ini hanya dari steteskopnya mata blalang saja.

blalang, jadi teringat pada satu pernyataan Presiden Penyair kita, Bung Tardji, di Isyarat-nya, bahwa ada baiknya untuk sementara waktu ada baiknya menyimpan karya-karya sajak yang mungkin masih terlalu prematur untuk pecah dari telurnya. Seiring kemajuan dan peningkatan taraf rasa kepenyairannya kelak, mungkin puisi yang disimpan rapi pada file perjalanan kreativitasnya, akan bisa menjadi sebuah telur emas sajak yang diperebutkan oleh jiwa pembacanya, siapa sajapun mereka.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: