Dua Menara Langit

 /1/

aku durhaka halaman ke halaman buku

filsafat dan agama yang kubaca,

bermula dari angin yang datang dari selatan

bertiup kencang merontokkan

daun-daun rasa yakinku,

akan pertumbuhan lingkar tahun

pada cangkang mimpi musim dingin

mendatang

akarku ingin meresap hara

cadangan

betapa menggelikan mimik batangku

bagi orang-orang kerdil penjaja hidup

sedampar pulau kue serabi basi

yang sejenak melepas butir keringat

di bawah cabang-rantingku

di terminal pulau gadung,

pagi yang buntu melempar

oksigen segar

jauh ke kumpulan kepulauan

seribu

seperti badut tanpa kostum dan pentas lagi,

bolak-balik, kuhitung helai demi helai pucuk daun hijau

yang di ujung tahun ini, terpasung  di ketiak dahanku

nomor sim card handphone soni ericson silver,

kau tanam tepat 2 meter dari pusat akar tunjangku

tiga tahun yang lalu

beberapa bulan dari hulu

bagaimanapun, pada diriku kukatakan,..

” tak apalah

semua ini karena mereka  manusia biasa

seperti mereka, memandangimu

penuh tanda tanya

di pinggiran sawah sukabirus

dayeuh kolot sana”

namun masih saja ada yang menggaris bawahi baris-baris

kalimat yang hurufnya dicetak tebal di buku jam ini,

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/2/

aku benahi lagi letak ranting, cabang dan daun

yang membelakangi matahari

aku tidak bisa berpindah tempat

atau sedikit manuver pesawat

seperti burung gereja lusuh

yang pagi ini entah dari mana datangnya

bersama enam kawannya

liar berkicau di sela rerimbunan daunku

yang meronta

kiranya mereka tengah membangun sarang

bagi musim kawin bulan mendatang

percuma menanyakan kesopanan mereka

pada tuan rumah yang mereka pinjam

kamarnya

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/3/

Angin kembali menggulung daun-daun rentaku

bernafas, tumbuh, dan hidup di daerah sekasar

pulo gadung

tidak hanya membuatmu waspada kepada angin saja

air kencing manusia, tahi burung-burung

kerak hujan dan guntur

dan air bah yang menyimpan kampak

di belakang tubuhnya

adalah mimpi-mimpi sumbang

sebelum dinas kota

memperbaiki pagar pengaman

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/4/

air mantra yang mengalir deras dalam pembuluh benakku

seperti air mata

para pengemis yang menadahkan tangan di atas kepalanya 

di sela dua menara langit dengan pejaman mata

pada langit aku menutup pintu hujan sudah lama

karena kita cuma menyambit udara kosong saja

dalam dongeng dan pantun guru-guru agama manusia

tapi apalah air mata

hanya satu tandan pupuk renta

untuk alasan musim kemarau

sepintar matahari memperpanjang

lembar siang di tarian bayang-bayang

manusia masih saja hulu lalang

di atas akarku yang meranggas

dengan menyimpan api di kepala dada mereka

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/5/

aku curiga pada lift gedung bertingkat delapan belas itu

orang-orang berpakaian dasi berwajah monyet

bergelantungan di ranting-ranting pohon naluri uang

mengunyah-ngunyah dasi mereka 

seperti pengemis yang keletihan

mengangkat tangannya  

meminta-minta pada langit yang acuh

pada cibir tatapan orang yang mobilnya

sejenak berhenti di persimpangan lampu merah  

seperti burung-burung gereja tolol ini

yang melahap daun-daun mudaku

untuk sarangnya

sebelum malam tiba

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

/6/

tak ada yang membuatku berbeda sejauh metro mini

yang datang dan lima belas menit kemudian pergi  

selain ceceran gelap yang kucari pada malam

bulan menyelamatkanku dari matahari dan manusia

dan burung-burung gereja itu menutup matanya

dalam kelelahan yang menjemukan

dan tak ada yang mencoba menyambit kalimat itu

ketika perlahan pudar dalam ketenggelaman usia kelabu

selain aku sendiri yang harus menggugurkan dahan dan daun

dalam hitungan seorang akuntan

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: