Stance (2)

Seperti tiang kayu bendera keropos
Oleh ngengat dan ngilunya tamparan
Panas dan hujan
Dan malam yang menikam
Dari belakang dan angin
Yang terus melafaskan mantra
Bau kemenyan
Kau masih berdiri di depan
Meja waktu dengan mata terpejam

Entah untuk berapa lama
Satu kakimu mulai mengambang
Di udara
Seperti hendak mengayun
Ke depan

Dan udara kau larang
Ke luar dari rongga dada

Waktu yang menggoda lawanmu
Mulai menggerutu
Di seberang selatan meja

Biji-biji bolapun mengerutkan
Keningnya,
Seakan kesenyapan yang kau panggil
Sudah sejak tadi menyebar jala racunnya

Musik saja dari DJ negeri paman sam
Terus meliukkan kulit putih kecoklatannya
Seraya sesekali mengacungkan tangan
Ke udara

Udara yang diam
Lampu dan musik dugem
Yang gaduh

Kaki yang menjejak
Dan satu terangkat

Mata yang terpejam
Dan hati yang melihat

Bola yang gamang
Dan darah yang menyisir
Pembuluh tenang

Bukankah semua
Yang ada di ruang detik itu
Adalah tentang keseimbangan
Sebelum bola ke tujuh
Kau istirahatkan ke lubang
Ke tujuh yang berpasangan ?

Dan selembar tiang ceking itu
Masih saja dengan malas
Menyandarkan tubuh
Di tepi dinding

Matanya tiada henti
Memperhatikan
Lawan
Waktu
Dan Engkau

Yang mulai membuka
Dua mata

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: