Arsip untuk Maret, 2008

Ruh Ke Dua

Posted in PelacurMatahari on Maret 31, 2008 by asharjunandar

aku mencintaimu bukan karena nyala api
yang mengaum di tubuhmu yang membatu terpenjara
bawah tanah
kucintai kau karena raga salju
yang beku nyawa di klitorismu yang merah
ratusan cakar api adalah mata para penjarah
di sela-sela ceceran bait doa
kau telah hangus terpanggang di kobarannya
dalam pengejaran buron yang kehilangan peta
di rimba rimba
maka pada satu malam yang dikabarkan durga
aku mengendap-endap di antara belukarmu
yang pucat kuning kehitaman
sepanjang jalan yang compang
perca salju di lecut belulang embun kecoklatan
kutikam kau sekali dari belakang tepat ke jantung
sebelum ruh dari hembusanku merambat
ke nyala apimu yang membubung

 Pulogadung, Senin, 31032008

 hakcipta pada asharjunandar

Jerumatan Geradi

Posted in PelacurMatahari on Maret 31, 2008 by asharjunandar

Dia di villa ladang anggur seorang mafia
Dengan bikini di balut badan
Sedang mengeringkan
Tubuh seorang bocah jadah
Yang dulu ke luar dari corak topeng lelaki malam
Atas janji
Dan relief masa depan

Dari jalanan dan tiang lampu
Matanya melirik
Pada seseorang yang baru saja ke luar
Dari rantai tahanan
Atas penyamaran

Lakonan hidup
Hidup adalah lakonan

Dia berjalan dengan tuxedo gentleman
Ke depan
Meraih gelas
Tangannya membelai gelas
Berisi minuman

Matanya kepadanya
Kepada perempuan dengan rambut
Yang diceritakan angin panas Mexico
Dan Bikini Laguna beraroma menggiurkan
Bibir-bibir ranjang

Mereka langsung berciuman
Bercinta bibir
Bibir bercinta di awal tatapan
Awal kehidupan

Bocah itu menoleh
Dari lengan seorang perempuan
Dan air
Masih mengalir

Air mata yang mencari
Sosok bapak di dasar semak

Lantai-lantai jadi cermin
Dan belakang punggung pundak itu,
Dulu memikul bobotnya
Dan getaran lutut
Kantung sperma yang sama

Lelaki itu masuk ruang
Ke ruang masa kanaknya di jalanan

Satu kotak hitam polos
Berisi dua foto usang
Dan secarik Nama Bobby Z

Seperti kutu yang akan dibakar pemantik api villa
Di Laguna
Di California

Disambarnya tali kekang kuda
Dinaikkannya spidometer darahnya
Dicambuknya loncatan-loncatan hammer
Ke kepala penjaga

Lelaki dan si bocah
Dengan ringkik mustang membelah udara
Meremukkan botol-botol tequila

Dua tangan perempuan membentang
Terantai di sisi ranjang
Handuknya bolong
Lubangnya menganga
Mulutnya rapat tak terbuka

Rahasia adalah rahasia
Hati bila berkata dan akan berkata saja
Binasa kesakralann rahasia

Buru diburu mereka
Oleh laras panjang senapan
Dan gonggongan anjing bajingan

Berdarah kaki kiri si lelaki
Bocah tariklah nafas dalam-dalam

Masa depan
Adalah keluarga yang harus dirompah
Dari liang udara

Peluang lelaki hanya pada cangkul di telapak tangannya
Sendiri

Meletup intrik dalam letupan
Selalu kaya pengecut
Dan segala bukan tentang lagi pertalian
Darah

Sebutan ayah bagi bocah
Bukan pada tangan yang menampar
Wajah wanita

Ibunya. Airmata ibunya
Plasenta telah berjanji
Takdir tidak pernah mengikat lagi

Terburailah usus kotoran takdir

Berlayar tenang Yard tanpa sauh
Sebentar lagi dari pasir Laguna
Kompas mendengar seseorang di atas atap villa
Memetik gitar bersenandung lagu Country

Dan berakhirnya babak penyamaran
Adalah ketika kau temukan
Lelaki itu
Yang bercinta lewat tatapan mata
Dengan wanita dalam dirimu

Rawamangun, Sabtu Malam
Inspirated by film “Kill Bobby Z”
29032008, blalang_kupukupu

hakcipta pada asharjunandar

DIA yang Datang dari Malam

Posted in PelacurMatahari on Maret 31, 2008 by asharjunandar

DIA yang datang dari malam
Datang dari segala yang menggelisahkan
Dan menggetarkan senar airmata
Kembali mengundang
Gelombang,
Gelombang tubuh yang hangat
Hangat bagai percik kecil api
Kemudian cahaya
Menyebarkan nyala di gelap ranjang
Bayang,

DIA melekatkan telapak tangan
Di sebuah pangkuan,
Pangkuan yang lebar
Dan rata seperti kasih sayang padang
Ilalang,
Ilalang yang menyelimuti lembah
Di bawah cahaya bulan,

DIA ingin rebah di atas danau tatapan
Tatapan yang jemarinya
Membelai
Dari pangkal leher hingga ke dada
Dan seseorang dengan aroma rambut
Tergerai
Terus menggeraikan geguratan
Sampai malam tertelan,

DIA ingin terus mencinta
Dicinta para perempuan terlarang
Oleh tatakrama sejarah manusia,

DIA mau memanggul nisannya
Entah ke lapas neraka
Atau pelataran surga,

DIA akan terus mencinta
Seapa adanya cinta
Sedapatnya cinta mereka

Rawamangun, Kamis malam
27032008

hak cipta pada asharjunandar

Garizah Putri Zirah [4]

Posted in PelacurMatahari on Maret 29, 2008 by asharjunandar

Angin menitah rumput membuka pintu
Bagi jalan
Air citah yang membayangi
Dari belakang

Perempuan dengan jirah
Yang membalut tubuh putih
Juntai rambut yang hitamnya digulung
Dan mahkota menyembunyikan

Menderu, menderu
Membelah lelembah hijau
Ke tengah rimba
Dimana kunang-kunang mengitari
Atap rumbia
Dan kincir yang memutar air waktu
Disanggah temali kayu

Anak-anak tangga itu
Telah ditapakinya satu malam
Samarlah malam karena luka
Luka gendawa yang membimbingnya
Menanggalkan jirah singgah sana

Menderu-menderu derap kudanya
Mengikuti alur setapak di pembuluh hatinya
Perdu dan rawa melipat dada
Para penghuni airmata

Di menara yang sejajar pucuk cemara
Matanya satu kala telah menyapu
Segala hidup dan sunyi
Dan Satu sudut tiang berkata
Inang burung menitipkan cicit bayinya
Dalam sarang dan lelap sederhana

Dilepasnya senyum
Seperti embun kepada seseorang

Seseorang yang tak pernah meluncur
Dari mulutnya apapun Tanya
Selain perapian kecil dipercikkannya

Membentanglah selimut
Dari jubah lusuh
Pada tubuhnya yang lemah dahaga
Juga luka

Pada satu malam yang entah
Pada segurat skrenario yang oleh siapa

Dia lebur ke pusaran rimba
Ke dasar cinta

Dan detak jam akan meredupkan mata
Pada akhirnya

Inspirited by film “An Empress and The Warriors”
Rawamangun, Jumat Malam
28032008

hakcipta pada asharjunandar

Morse Kaktus , 2

Posted in PelacurMatahari on Maret 28, 2008 by asharjunandar

Morse Kaktus tertera di depan pintu
Gorden ditarik sampai ke ujung
Foto di tengah pintu
Dibalikkan
Lampu mungkin diredupkan
Mungkin dipadamkan
Gelaplah lembahku
Gelaplah lembahku
Diam udara haram jadi desis ular
Rusa merumput
Terdengar air deras mengalir
Auman serigala meninggi sampai
Ke bulan
Di telaga yang tenang
Seseorang menceburkan tubuh
Telanjang
Menggapai dasar pusaran
Yang terdalam
Yang terdalam
Aku membentang seperti pulau
Tektonik menggelitik
Laharku
Hingga ke puting susu
Jalan ke luar lava dimana
Dimana, laharku bermuara
Morse Kaktus berserakan di depan pintu
Di luar seseorang berambut gondrong
Mengusapkan asap rokok
Ke wajahnya
Menghitung puntung ke puntung
Di cekungan asbak
Dari liat yang mulai retak
Lahirlah badak-badak lain
Yang pasti menyeruduk pintu
Mayat Kaktus bergelimpangan
Jadi debu

hakcipta pada asharjunandar

Morse Kaktus , 1

Posted in PelacurMatahari on Maret 28, 2008 by asharjunandar

Aku hanya bisa buka baju lalu rebah
Terlentang
Dengan mata terpejam
Dan takkan kutantang sinar matahari
Yang jelas melukiskan roman
Lelangit kamar
Pintu itu tertutup
Dari dalam di lantai tak bercorak ini
Aku bisa dikatakan ratu
Di depan cermin bisu
Patuh, diam, dan tak rewel
Meskipun aku telanjang dan tanpa malu
Kepada kemaluan ini
Pintu itu tertutup
Dari luar, topeng yang tercantik
Di tengahnya tergantung
Morse kaktus kecil
Dan redup lampu
Seseorang terdengar berbincang-bincang
Angin dengan seseorang
Sebelum dia masuk tanpa perlu
Mengetuk
Dia akan melihatku dalam timbangan
Matanya
Tangan-tangannya melepaskan
Kancing baju-celana
Dan ikat pinggang kulit hitam
Mendesis
Di paku karatan
Dia menyebutkan namanya dengan
Lidah dan jilatan
Tangannya berpindah letak
Ke kaki-kaki
Yang menjejak
Di lorong saraf otaknya yang gelap
Bertiup angin
Lembut-gemulai lemah
Dari lembah

hakcipta pada asharjunandar

Di Pinggir Kiri Titik Besar Headline

Posted in PelacurMatahari on Maret 27, 2008 by asharjunandar

Berserakan kertas-kertas kerja diskusi-simposium-seminar tolol
Di bawah bantal,
Lunglai seperti lututnya kehabisan cairan kental
Kemaren mereka kabur dari aula besar disesaki kacamata-kacamata
Tebal
Di ujung, tembus dinding kaca,
Di seberang gedung lantai tiga puluh
Kaki jenjang polos, sampai selangkang ditampakkan angin
Rambut yang tergerai basah
Ingin raib di tembolok cacing-cacing tanah
Dari ketinggian yang menawarkan birahi yang tak juga menancapkan
Pancang harapan
Terjaga kertas-kertas berserakan ketika corong telinga mereka
Mendengar satu lolongan yang bukan perawan
Mungkin lolongan anjing betina
Yang terusir dari surga
Dan mereka, hapal jumlah bulu dan tahi lalatnya
Kertas-kertas berserakan berlomba dengan kacamata-kacamata tebal
Wewangi cendana tubuh polos itu,
Menggoncang-goncang tubuh jirahnya yang pingsan
Karena angir suara mabuk menelan dahak mirokropon
Dan ketuk palu paragraph kesimpulan
Di pinggir kiri titik besar Headline
Mungkin laso itu disembunyikan
Disamarkan

hakcipta pada asharjunandar