Larik 35

Satu waktu kutahu Akan berlalu kau
Diam-diam beringsut
Dari bawah selimut dan memadamkan lampu
Malam yang buta ditandai subuh
Dimana ceceran jejakmu masih tumbuh
Hujan kau biarkan mengukur lekuk tubuhmu
Lalu segurat lukisan tertinggal di sisi pagar
Disamarkan rerimbunan duri mawar
Pagi menyemburkan udara ke kamar diam
Lewat gerah gorden jendela
Aroma rambutmu yang masih basah
Hinggap juga di saraf hidungku
Dua juta mil kau dari titik nol selimut ini
Ditandai peluh yang diterbangkan angin
Entah darimana datangnya
Dengan mata berkaca-kaca aku menyedu
Dua gelas kopi
Dan hati-hati kuletakkan di pinggir meja
Di samping ranjang kita
Berjuta malam yang telah terkaparkan
Oleh aliran desahan menyerupai gelombang
Mengukur angkuh karang
Pelayaran yang sangat menegangkan
Dan menggairahkan
Di pulau yang kau sudah menuju
Berenang sendiri disambut tiang dermaga
Adakah menara lampu
Yang duapuluh empat jam menyala
Dan gelitik rimbunan duri mawar
Di bibir pagar
Serupakah bagimu podok yang ditandai
Wangi belukar melati
Subuh yang telah diusir pagi musim semi
Aku masih menyedu dua gelas kopi
Dan selalu kuletakkan di meja dengan taplak
Yang kau rajut dulu bermotif hati
Di bibir ranjang ini

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: