Larik 89

Ciuman-ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Di gurat bibirmu
Kembali meminta hak nyawanya
Kau terlalu banyak mendabih leher bintang
Dengan sendok pisau
Dan garpu di atas piring desau
Hingga ke sudut pembuluh malam
Ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Kau anak tirikan
Berapa ratus kafe yang telah kau tandang
Bunga penghias dan tampak meja
Adakah menambah korelasi rasa

Dan sepasang kaki lain di bawah meja
Yang duduk di hadapanmu
Bermain mata kepada kasir yang menghitung
Lembaran kertas berwarna
Setelah pesanan selesai dihidangkan
Dan ke lambung dibenamkan
Ciuman-ciuman yang dulu didabalkan tuhan
Di gurat bibirmu
Masihkah mengembun aroma anggur
Yang membuatmu bergadam-jam
Mengisahkan dosa yang menggelisahkan
Sesuatu yang kau semayamkan
Di bawah lanskap lidah memabukkan
Sesuatu yang terus menuangkan lembur
Ke gelas aorta musim gugur

Dan pada taplak meja kembali
Kau pertanyakan:
Adakah ciuman itu meninggikan
Nilai korelasi rasa
Pada Sang Rasa yang Menciptakan
Pada Sang Rasa yang Menelan

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: