Kepada Tubuh Kadaluarsa

Kepada Tubuh Kadaluarsa ,1

Tubuh mata ini lebih sering kusembuyikan di balik saku

Belakang gaunku,

Terkadang memicingkan pandangannya dari gandengan

Tangan seorang pria yang membimbing lengan wanitanya

Jauh lebih menikam bagiku

Dari pada lemparan uang tangan laki-laki

Ke mukaku,

Apakah itu di kamar, di bawah jembatan, di atas rerumput

Taman,

Di sofa, atau bahkan di pelana kuda

Seakan saraf tubuh mata ini masih dapat merasakan

Sentuhan jemari pria itu

Jauh ke kedalaman titik pusatku

Terkadang ingin kubakar saja tumpukan kertas berangka ini

Di tungku mataku

Namun jauh di bawahnya, lumbung tua kehidupanku

Sudah tak pernah lagi menyisakan kayu

Dan ketika aku bangun dari keletihan

Tindihan-tindihan malam dengan sisa farfum cairan

Yang masih tercium di udara

Aku berharap warna foto pria itu memudar dari ingatanku

Ternyata, lebih sulit lagi untuk menolak

Kedatangan airmata

Satu-satunya cairan murni yang kupunya dan tersisa

 

 

Kepada Tubuh Kadaluarsa , 2

Akhirnya memang harus berlari dari kebinalan ini

Tapi bagaimana membunuh ular-ular yang melingkar

Di sela pahaku

Bila selalu saja ada pawang yang menyukai

Desis, bisa dan warnanya

 

Akhirnya memang harus ada seseorang dengan senapan

Laras panjang dan teropong yang mengintai

Dari ketinggian gedung

Yang lebih tinggi dari apapun juga

Menekan pelatuknya setelah tepat mengarahkannya

Ke urat leherku

Tepat ketika aku ke luar dari loby

 

Setidaknya ada yang menunjukkan bus jurusan kampungku

Kira-kira nomor berapa

Dan kapan tiba

 

 

 

Kepada Tubuh Kadaluarsa , 3

Siapakah yang mengajariku jadi pelacur

Mungkin ibuku,

Waktu kecil dulu sering kali kulihat dia berkaca

Sehabis mandi dan merabai sesuatu

Di bawah perutnya

Sedang ayah meneguk beberapa kali minuman

Sebelum subuh rintihan mereka

Terkapar

Mungkin guruku, mereka sering kali merazia

Bedak-gincu yang dibawa teman wanita kelasku

Termasuk juga aku,

Lalu kami disuruh berbaris di bawah terik siang

Menghormat bendera

Mungkin mantan kekasih pertamaku,

Walau tak kurasakan bahwa itu adalah cinta pertama

Tapi, siapa yang sanggup menyangkal

Pada sentuhan bibir pertama

Mungkin iklan di televisi,

Sepertinya, mandi di badan bath up

Cukup memanjakan kulit juga

Atau masih bermilyar kemungkinan yang harus

Kutelusuri lagi kebelakang

Ketika tuhan menggoda Adam dengan Hawa

Kurasa iulah pembenaran

Yang paling masuk akal

Jawaban segala kemungkinan ini cukuplah

Sederhana

Bila aku yang tertakdir jadi istrimu

Akankah sentuhan itu masih seutuh sentuhan

Yang semestinya?

 

 

 

Rawamangun, Selasa Malam, 08042008

Hakcipta pada asharjunandar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: