Fientje de Feniks

Itulah kutukan yang terlupakan

Seperti uap yang hendak ringkus di badan guci

Kemudian dibanting ke lantai

 

Itulah kutukan yang berpindah dari kuluman

Paruh-paruh burung

Dari dahan ke dahan

 

Ketika Jumat kesumat diikat penanggalan 17 Mei 1912

Pintu Air Kali Baru jadi messiah

Yang membacakan

Bahwa dosa adalah nyawa terbelenggu pasung dunia

 

Yang membuncit seperti lipatan danging perut

Dari karung beras, kutukan itu merambah

Ruang sidang,

 

Ketika nyawa itu meronta oleh cekikan dua

Tangan Gemser, Sang Elit Concordia

 

Di ranjang, bagian himpunan kamar

Yang selalu dibangun kekakuan

Sisi kubus desahan

Dan singgahsana  birahi jantan

Suara malaikat yang meminjam bibir Roana

Selalu menyimpan belati tuhan

 

Hujatlah mereka

Sesuka hatimu, hujatlah!

 

Akan datang kutukan itu padamu:

Dari gambar seseorang yang berhidung mancung

Berambut hitam panjang

Dengan tatapan kosong tenang ke depan

 

Ke tapal waktu yang selalu akan selalu bersaksi

Pada ayat-ayat kebenaran

 

Meski terburai belulang kaki tangan

 

 

Rawamangun, rabu Malam, 24042008

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: