Di Halaman Terakhir Buku Itu

Adakah yang tak akan berubah ketika kau pindah rumah

Ke lain kota?,

Ke rumah tingkat dua yang jendelanya menghadap matahari

Dan angin pagi yang menurunkan kaki-kaki dedaunan

Ke cekungan tanah merah

 

Adakah yang tak berubah ketika kau ditinggalkan malam?

Dan hujan telah menyelesaikan tutur ceritanya?

 

Selalu arus simponi itu, yang masih mengalir di sana,

Di tangan jendela yang membukakan telapak tangannya

Di tatapan matahari yang menguakkan kelopak matanya

Di jejak angin yang melangkahkan kakinya

Di wajah daun yang menguraikan hitam rambutnya

Di tuts-tuts hujan yang mengalunkan gelombang suara

Dari mulutnya

Di sujud malam yang sudah mendongakkan kepalanya

 

Adakah yang kau rasakan yang tak akan pernah berubah?

Setelah bingkai foto itu kau benamkan di perut laci meja

Dan dari luar, dengan jejeran paku, kau coba membungkam

Waktu

 

Adakah yang kau rasakan yang tak akan pernah berubah?

Tentang hati yang ingin terus membaca,

Satu kalimat di halaman terakhir buku itu

 

Rawamangun, Kamis Malam, 08052008

hakcipta pada asharjunandar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: