Arsip untuk Juni, 2008

Nabi Tanpa Wahyu

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 30, 2008 by asharjunandar

Masaku hanya 1209600 detik untuk menyampaikan inti dari inti ajaran agama rahasia deretan angka ini kepadamu.

 

“Satu” untuk Dia yang menciptakan aku dan merumuskan deretan angka detik ini untuk kusampaikan kepadamu. “Dua” untuk Adam dan Eva, sebagai tanah binatang permulaanmu. “Nol” untuk bumi sebelum mereka diturunkan dan mencari makan. “Sembilan” untuk zakar sang pejantan. “Enam” untuk vagina sang betina. “Sembilan-Enam”untuk anti klimaks plot drama birahi mereka. “Nol” untuk kenikmatan tertinggi sang pejantan. “Nol” yang terakhir untuk kenikmatan tertinggi si betina. Dan wajib kembali ke “Satu” untuk “Aku”, kau yang sekarang hidup di surga-neraka-KU, sebagai alur penyesaian”

 

Kau boleh tak percaya, tapi “AKU-lah nabi itu yang kini sedang berkata”. Dan bila kau percaya, aku hanya nabi tanpa wahyu yang kini juga dihadapanmu,  sedang berkata.

 

Tentukanlah sendiri olehmu, sebelum benar-benar tandas ke dasar, masa deretan angka, detik-detik pasir aksara itu. Tentukanlah sendiri olehmu.

Rawamangun, Sabtu Siang, 28062008

Judul dipinjam dari judul Essay Hudan Hidayat di buku, Nabi Tanpa Wahyu

hakcipta pada asharjunandar

Tuhan Pasti Berhenti Bertepuk Tangan, Hudan

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 27, 2008 by asharjunandar

Tuhan akan berhenti bertepuk tangan, Hudan. Bila seluruh manusia saling melekatkan tangan dan pipi di awal berkenalan, Tuhan pasti tercengang. Mengapa surga menunjukkan jati dirinya sebelum tikar semesta selesai tergulung dan kembali dihamparkan.

 

Neraka pasti megikat plasenta rahimnya sendiri, Hudan. Sebab butir-butir ovumnya akan kadaluarsa sebelum waktunya, Sebab sperma-sperma lelaki yang terpilih dan dijanjikan, lebih dulu mengebiri saluran zakarnya

 

Seseorang hanya berhayal, Hudan. Berhayal hendak memperoleh keturunan dengan membuang muka dari bayang-bayang ranjang ketelanjangan. Dan kalau teori Evolusi Darwin benar, musnahlah habitat penjual pakaian dikarenakan seleksi alam, alam surga yang kepagian datang, Hudan. Dan terpastikan sudah, tak akan kau dapati lagi, jejak-jejak bocah yang mencari kerang di tepian pantai, atau lengkingan suara-suara girang yang dari karang berloncatan ke permukaan lautan. Bumi ini niscaya segera disuburkan oleh steril kesunyian yang maha-maha panjang.

 

Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan, Hudan. Dan Dia akan menangis darah sendirian. Sepasti terselesaikan sudah segenap permainan. Seperti terburai isi-isi usus keganjilan pada satu logika keyakinan, Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan.

Rawamangun, ispirated by Essay :”Sastra yang Hedak Menjauh dari Tuhannya” by Hudan Hidayat di buku “Nabi tanpa Wahyu”

hakcipta pada asharjunandar

Telah Dialamatkan Padamu

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 26, 2008 by asharjunandar

:buat Nanang Suryadi

TELAH dialamatkan padamu, satu kata yang menyejukkan lubuk dada perempuan: kesahajaan: Kesahajaan ukuran dan warna baju, kekancing yang mengatup dengan jarak yang sama, dan sepucuk peci tanpa dasi kupu-kupu, melengkapi kerutan sarung di lipatan sujud lututmu, di tikar pandan malam-malam itu

 

TELAH dialamatkan padamu, satu unsur alam yang menjaga kebersihan raut wajah dan seluruh anggota badan sajakmu dari debu-sebu dan asap knalpot kota, hingga kau begitu khusu’ dalam posisi berdiri di komposisi rakaat-rakaat hidupmu sebelum kau ruku’ dan beriak pelan hembusan itu dari dua corong hidungmu

 

TELAH dialamatkan padamu, satu wangsit yang purba, hanya untuk menuturkan tafsir ayat-ayat rahasia makna pada sesama manusia, yang gelisah ketika denting garpu dan sendok di atas piring berebut suapan penghabisan, yang bermimpi dalam terjaga, yang berjalan dalam diam, yang mengetuk pintu dan mengharap dekapan tangan dan pembenaman kepala di danau dada seseorang, di musim gugur yang merangkak pelan  

 

TELAH dialamatkan padamu, sebait doa sehabis salam, yang harus kau tuliskan, dan selalu kau lafaskan, juga pada mereka yang sudah diputuskan untuk disampaikan, padamu telah dialamatkan oleh Sang MahaKesunyian

Rawamangun, Kamis Pagi, 26062008

Nb: judul sajak ini adalah judul antologi sajak Nanang Suryadi  

hakcipta pada asharjunandar

Nabi Kata

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 25, 2008 by asharjunandar

: buat Hudan Hidayat

Telah kutandangi banyak pengajian. Aku selalu kebagian ujung tikar paling belakang. Mulut-mulut itu maulana-maulana. Entah siapa yang mendengar, siapa yang berkata. Aku jengah, dua puluh tahun kaki ini bersila dan hanya pada satu posisi yoga telinga. Tidak, mereka bukan instruktur-instrutur surga.

 

Tuan Ismail, sudah seperti Ibrahim yang kelimpahan Taufik kebekuan-Nya ketika Namrud bersekongkol dengan tentara Api. Seakan percintaan telanjang “Tuan dan Nona Kosong” bukanlah lagi butiran cairan anggur yang berdiam di dasar cawan-cawan pembuluh darah adam dan hawa.

 

Aku jengah. Dua puluh enam tahun dada ini hanya menghafalkan alif-ba-ta. Di ruang-ruang dengan delapan sisi dan delapan titik sudut, telah retakkah dinding-dinding kerucut dan bola? Orang-orang yang pandai berhitung, cuma fasih merumuskan pajang kali lebar kali tinggi saja, untuk mengetahui volume makna.

 

Dimensi bertumbuh angka pangkatnya diantara patahan-patahan logika dan sejarah. Sebagai pendeklarasian hamba tuhan, selalu ada ruang lain untuk ranjang peraduan “Tuan dan Nona Kosong” mengerang lebih panjang dan kian panjanglah erangan… Bila mulut-mulut itu masih betah sebagai maulana-maulana, erangan-erangan panjang yang telah mengalir dari mulut “Tuan dan Nona Kosong”mu, dimanakah sulbi dan corong vaginanya, Tuan?

 

Badan gelap ini ingin segera basah, tenggelam di air kolam cahaya. Air yang mengalir dari sela jari nabi itu. “Nabi Tanpa Wahyu”. Nabi yang hidup dan mengajarkan kemerdekaan “kata” dalam tubuh-Mu.  

“Untuk mengerti mati, tidak perlu jadi sufi”

Rawamangun, Rabu pagi, 25062008

hakcipta pada asharjunandar

 

Titik Nol pada Garis Bilangan Waktu

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 24, 2008 by asharjunandar

:buat TSP

Benar memang. Bangun itu, titik nol pada garis bilangan waktu. Kau terjaga lalu berdiri tegak di atas sajadah. bilangan itu bergeser sepuluh satuan ke sisi kananmu. Kau mandi, membersihkan badan, ke kanan sepuluh satuan, bergeser lagi bilangan  itu. Kau sapu lantai kamar, kau lipat selimut dan kau padamkan lampu setelah membuka daun jendela, akan kau lihat betapa biru langit pagi itu. Percayalah, ribuan ababil berbondong-bondong sedang meracik rumah idamanmu di surga.

 

Atau cobalah tegak kembali sisa anggur semalam, kepalamu akan pusing. Jarum pendek jam yang menunjukkan angka lima, memutar kembali ke kiri haluan jarum panjangnya. Dan kawanan ababil berbondong-bondong cakar kakinya mencengkram kerikil api. Tepat, seperti yang pernah didongengkan si Mbokmu, ketika gajah-gajah Abrahah hendak mengepung Mekah, di pelukan guling bocahmu. Bangun itu, titik nol pada garis bilangan waktu.

Rawamangun, Selasa Pagi, 24062008

hakcipta pada asharjunandar

Kristal dan Randu

Posted in ShorTime In HeaVen on Juni 23, 2008 by asharjunandar

Ya, di kamar mandi itu, awalnya aku sendiri, jam sepuluh lewat lima belas

Dua lagu menyerahkan dirinya ke saluran pembungan, bersama air sabun

Aku rapi dan wangi, sampai ke Gramedia Matraman, aku telah berdua

Dan si pengantar langsung pergi

 

Teman beradu filsafat air mata, tawa, sinis dan optimis, aku mengajaknya

Mencari Metafora Laut Dino, yang menghanyutkan kesadaranku:

“ Hidup memang Metafora Laut teman, dan dalam birahi,

Ya, hanya dalam birahi kita dimatikan gulungan ombak sajaknya,

Lalu dititipkan kembali pada satu dermaga tangisan bayi”

 

Kami ke rumahnya dulu, sebelum ke Bakrie Management School,

Aspal Soedirman beradu bibir dengan lingkar ban Yamaha merahnya

 

“Jalanan memang hitam kawan, dan putaran poros ban mengendalikan

Hidup memang merah kawan, dan kita akan menyelesaikan satu pencarian nama”

 

Tiga jam, duduk di atas bata taman menyaksikan perlombaan panjat tebing

Mahasiswa, Dia dan aku pernah merasai bengkak kaki menjejak lekuk

Dingin bukit Situ Lembang,

Dan kabut begitu salju di atas hamparan danau

 

“Sudah nyaris tiga bulan, dan seminggu lagi aku akan ke luar setelah

Naskah terakhir ini selesai kurampungkan,

Kau, sudahkah menemukan namanya?”

 

Yang kuingat hanya dua kata: “Kristal dan Randu”

“Eleganitas dan Kesederhaan”

 

Dia turut menyulut Djisamsoe setelah tiga batang di mollusca paru-paruku

“Aku suka melihat tekstur gedung itu, prisma dan garis-garis sisi tiangnya

Minimalis, biru, putih, dan silver….Kristal”

 

“Dan pohon di lapangan itu, rindang sekali dan dedaunnya cantik,

Seperti putri malu yang ingin kau sentuh….Randu”

 

“Ya, sampai di sini, sejak lima setengah tahun yang lalu,

Kita telah merambat, dan kita bukan lumut,

 

“Randu, ya aku setuju,”

 

Dua jam lagi masih menyisakan dentang bel magrib,

Kami ke Tim, satu buku dari warung Jose,

Betulkah alamat ini, benar-benar alamat rumah Budiman Soejatmiko?

Rawamangun, Minggu malam, 22062008

hakcipta pada asharjunandar

Black the Great

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Juni 20, 2008 by asharjunandar

Bila pengisyaratan pangkal kalimat itu:

“Seperti mentari”, mentari itulah kelopak mata

Terkatup di punggung gunung, atau

Di titik persfektif cakrawala

 

Siapa saja yang hendak memanggul sinar,

Seseorang telah mengumpulkan kayu bakar

 

Api memiliki species lidahnya sendiri

Dan bila percikan liurnya padamu tak mengarah

Antara dingin dan panas, bagaimana kau mengelus

Kulit gelap ?,

 

Bila pengisyaratan pangkal kalimat itu:

“Mentari adalah Subjek,

Di ikuti keterangan tempat:

”Di dalam lorong gua batu”

Telah terkutuk, yang pertamakali berkata:

 

“Pintu !”

 

Dan Kau?

Adalah belantara !

Dan segala penghuni usus buntunya

Rawamangun, Kamis malam, 19062008