Sampai Ke Batas Limit Tuhan, 3

Hampir tiap detik, ada saja orang yang datang kepadaku

Mereka tiba membawa tatapan yang berbeda di bola matanya

Ada pandangan bahagia, curiga, benci, marah, pasrah, lelah,

Atau pandangan yang sama sekali tanpa makna,

Dan bermilyar warna lagi yang hanya aku yang mampu membaca

 

Seakan tak cukup sampai disitu, pandangan itupun menuntut hal lain,

Maka dari mereka, ada yang berjalan ringan menyusuri garis kulitku,

Ada juga yang hanya duduk mematung, membenamkan diri,

Berdiri, bersedekap, atau cuma tidur-tiduran saja,

 

Mereka ada yang sekali seumur hidup saja bertemu denganku, beberapa kali,

Berulangkali, seperti kecanduan, atau sama sekali tidak pernah,

Mereka memiliki hasrat kata dan lidah jiwa yang hanya aku saja mengerti ucapannya

 

Seperti hendak mengungkapkan satu rahasia yang paling rahasia

Dari dirinya, yang mereka sendiri terlebih lagi tidak pernah menyadarinya

 

Dan mungkin karena itulah mereka membiarkan saja liurku yang asin

Menyentuh ujung jari kaki mereka, yang bercampur pasir,

 

Seperti sebuah ritme tarian ranjang,

Mulanya asing, ganjil, mendebarkan, kemudian mereka kian ingin

Dibawa terbang, menuntut lebih, pada sebuah perlakuan yang bercampur

Antara kelembutan dan kebuasan,

 

Melebihi kejujuran apapun yang sanggup untuk diungkapkan

Lebih tepatnya, sebuah kepasrahan

Yang sesudah itu, tak akan pernah lagi ada, di belahan dunia namapun juga

 

Rawamangun, Minggu malam, 08062008

Inspirated by “Ocean Sea”, sebuah novel Alessandro Barrico

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: