Arsip untuk Juli, 2008

XXVI – I

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 29, 2008 by asharjunandar

 

Terhitung mundur satu.

 

Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan mulut ini. Agar menggumpal segala Arok yang dilahirkan asap. Dan lekuk-lekuk pembuluhku, menyawa lelekuk keris Gandring.

 

Aku mitos yang terduduk, didudukkan saja di atas kasur tanpa sprei ini. Dengan sarung, tanpa celana dalam. Seorang perempuan berambut panjang gelombang berdarah-darah di atas kasur yang sama. Menggelinjang-gelinjang. Merontan-ronta. Berteriak-teriak mengusirku ke luar dari istana rahim-Nya.  Tangis-jeritku diasingkan ke karautan. Disaksikan asap yang bersitegang dengan bulan.

 

Bulan yang putih sudah hendak mengulurkan tangan. Hendak merangkulku kembali ke putih pelukan. Ke sepasang juntai puting mata air susu emban.

 

“Oh bayiku, bayiku yang malang. Asap janganlah, jangan pasung katupan pertama matanya.”

 

Tapi bulan terlalu tinggi menggantung. Dan siapa makhluk di bumi yang tak kuasa menahan hasrat untuk dirayu ayunan?

 

Tidak !

 

Tangisku tambah kental. Aku ingin hanya kelindan danging yang betul-betul sintal. Yang kental. Yang kenyal. Dan siapa yang menyamai kelembutan asap selain angin yang tak betah berlama-lama di padang ilalang?

 

Asap turun dari kepundan. Jeritku telah mengacau-balaukan malam. Aku di rimba. Di tengah pesta auman. Di sela irama acak tuak  jangkrik yang menggali liat tanah basah. Asap membuka penutup dadanya. Mengulurkan julur pucuknya. Ke mulutku yang menganga. Ke ujung lekuk keris yang haus darah. Yang lapar tulang.  

 

Terhitung mundur satu.

 

Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan mulut ini.  Asaplah yang mengajariku membaca diam. Maka aku membaca senyap alam.  Senyap yang akan selalu diperdebatkan logika zaman.

Seperti mitos kutukan: “Keterlahiran moyang perempuan dari rusuk Adam.”

 

Terhitung mundur satu, dari ini malam bulan.

Rawamangun, Senin malam, 28072008

hakcipta pada asharjunandar

Requiem: Ziarah Tanpa Kubur

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 24, 2008 by asharjunandar

Meliuk-liuk sendiri, kegirangan kawanan akar bunga bangkai itu di perut bumi. Di hutan yang serimba selangkangan perempuan, anginkah yang telah berkhianat kepada berita?

 

Tanpa seorangpun penduduk desa, para pendaki itu menemukan kelopak bunganya. Aroma angir berpesta di udara. Di ranting-ranting. Di dedahan. Di pepucuk dedaunan. “Sebuah taman yang sunyi, tamanku seorang diri”

Ensiklopedia menuturkan nama-nama. Telah memasuki daerah terlarang para perambah itu, dengan segenap armada perbekalannya.

 

Aroma angir, kian berpesta, kian liar, kian menebal kabut aroma. “ Di sini, hanya ketelanjangan Adam-Hawa, yang akan diterima”

 

Para pendaki berbicara kepada parang. Parang berkata kepada sesemak. Sesemak tunduk kepada logika. Logika yang memperbudak manusia.  “Teruslah berjalan, berjalan terus, babat segala yang menghadang di depan mata”

 

Dan tumbangkah aroma angir bunga di dalam kantung plastik hitam?

 

“Tidak, kami masih bersenggama di dalam ruang pengantin tanah. Dan birahi kami menghirup segenap jejak-jejak yang membekas di tanda. Kalian yang pasti tidak akan pernah lagi bisa kemana-mana. Kami masih terus beranak-pinak di ke dalaman ini. Di kedalaman ordo rahasia bumi.

 

Biarlah angin berkhianat sesuka hatinya kepada kami. Kami secuil kukupun, tak pernah ambil perduli. Biarlah didesas-desuskannya kepada logika, segalanya tentang kami. Aroma angir ini, sesuai musim, pasti berpesta kembali”

Rawamangun, Minggu dini hari, 07072008

Perempuan Pendoa Erzurum

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 23, 2008 by asharjunandar

 

Apa yang ditawarkan rumah makan kumuh, toko roti, dan jejeran kedai kopi di sepanjang alur Erzurum bagi seseorang yang melihat arah jalan dengan mata kakinya?

Lapar dan dahaga adalah pertalian dan, atau, atau saja. Bedanya kira-kira dua jengkal bila kau berdiri tegap. Karena itulah, begitu membosankan menikmati patung dengan posisi siap sempurna.

 

Langit mengirimkan merpati pos lewat bintik-bintik salju di Erzurum. Aku mencari perempuan novel yang kemarin tanpa sengaja kuintip sedang sembahyang di mesjid raya Istambul.

 

Siapa namanya?

 

Lapar diam. Dahaga diam. Langit diam

 

Ya. Inilah pertama kali kurasakan. Sejak seseorang membentukku dengan kekuatan dan kelembutan tangan imaji maestronya. Seseorang mendoakanku tanpa sekalipun desahan bibirnya menyebutkan nama.

 

Karena itulah lapar diam. Dahaga diam. Langit diam. Dan buru-buru pedangang makanan di sepanjang alur Erzurum menutup pintu depan kiosnya. 

 

Butiran salju. Kapan kau mencair dan menjadi sumber airmataku?

 

Di hirup-pikuk Erzurum. Di antara gerai kaki-kaki yang bergegas hendak rukuk. Rukuk yang sungguh-sungguh teramat bisu. Apa yang ditawarkan rumah makan kumuh, toko roti, dan jejeran kedai kopi di sepanjang alur Erzurum bagi seseorang yang melihat arah jalan dengan mata kakinya?

Rawamangun, Senin, 210702008

hakcipta pada asharjunandar

KAU

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 22, 2008 by asharjunandar

Seperti masih ada percik nyala di sesemak dada. Teramat kecil.

 

Sezarrah.

 

Di gelap yang teramat pekat. Masih ada bayang bergerak. Pelan sekali

 

Seasap.

 

Tapi tercium juga liuknya. Oleh rongga hidung rasa ini.

 

Api.

 

Rawamangun, Selasa dini hari, 22072008

hakcipta pada asharjunandar

Commercial Break

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 21, 2008 by asharjunandar

Yang sudah terbiasa mabuk dengan Tequila, berkumpulah malam ini di Clubbing DJ biasa. Ada party gratis. Seorang yang baru merayakan ultah dan melumbung kertas rupiah di gedung Swis sana. Datanglah bersama pasangan masing-masing. Party-pora tutup sampai jam delapan besok, Monday yang dibengkokkan jarum panjang merahnya.

 

Yang memuja bir di lilitan ususnya, bersegeralah ke warung pojok. Remang-remang telah tiba. Sepatunya tertinggal di kamar gundiknya. Jadi pakai sandal saja. Dasi kupu-kupu dan jas juga di haramkan masuk. Sembulan dada motok Ngatiyem cuma terbiasa dengan rabaan otot-otot buruh kasaran saja. Begitu juga pinggul dan pantatnya. Yang tersisa sebatang rokok di lipatan telinga, bersegeralah. Loceng katedral sebelah, alunan gendingnya.

 

Yang telah memesan meja dan diberi nomor lewat telepon kantor, parkirkanlah BMW anda di parker yang telah tersedia. Officeboy kami akan mengantar Anda sampai ke pintu. Kemudian pramusaji kami adalah lentik jari seputih susu, semungil senyumnya di balik gincu. Ada sekat untuk gelas berisi anggur yang akan diantarkan ke deretan meja. Ada juga biola, cabaret, atau bila Anda lelah, ruang pijat kami 100 bilik di sebelah. Dan bagi Anda yang berkelamin Cleopatra, Samson kota kami masih hijau zakarnya.  Siapapun Anda, dengan brendy dan Cerutu Cuba, kami jamin kepuasan Anda. Satu kilometer saja, belok kanan dari Gajah Mada, Anda telah berada di pucuk daun surga.

Rawamangun, Selasa malam, 01072008

Sebuah Gambar

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 18, 2008 by asharjunandar

 

: untuk Sahnan Amin

Sebuah gambar memang. Hanya sebuah gambar. Gambar yang tergantung di dekat pintu kamar. Yang sesekali kupandangi ketika uluran tangan asap kutarik lebih dalam ke dada, ke dalam dadanya dada, sejengah mata ini masih membaca. Kau dan aku pada posisi berdiri di situ. Sama tinggi. Setengah badan kita tampak tanpa penutup, dan kita sama-sama mengacungkan tinju.

 

Sebuah gambar memang. Hanya sebuah gambar. Gambar yang dulu kuselipkan terus di dompetku dan kubawa kemanapun aku, kini tergantung di belakang pintu kamar itu.

 

Sebuah buku dengan gambar sampul depan seseorang yang tengah menarik tangan asap juga jauh ke pusat inti dadanya, kau hadiahkan padaku:”Kejalangannya harus kau taklukkan satu waktu” katamu. Kejalangan yang benar-benar di takuti siapapun, padahal dia tak pernah terdengar mengaum harimau. Dia hanya membaca, merenung, dan menuliskan kata-kata di malam-malam yang terkutuk, dan mengutuk kantuk. Sama juga seperti aku.

 

Kau yang kini telah ke luar dari gambar itu, dan mengeram di Batam, satu waktu menelepponku, menanyakan tentang mantan kekasihmu. Dan diantara himpitan kalian, entah siapa yang harus kudustai. Sebab hidup terbuat dari rantai, dan kita selalu terbelenggu.

 

Sebuah gambar memang. Hanya sebuah gambar. Gambar yang tergantung di belakang pintu. Sama juga seperti kau dan aku. Sungguh-sungguh serupa kau dan aku. Teman yang sudah seurat darahku.

Rawamangun, rabu malam, 16072008

Di Dua Puluh Enam Tahun yang Tereram

Posted in ShorTime In HeaVen on Juli 16, 2008 by asharjunandar

Dua puluh enam tahun yang tereram, dari gelombang rambut dadaku kau merangkak pelan ke cekungan selangkang. Entah karena letih dari medan perang dan sekujur tubuh yang dilintahi luka, kau hirup semerbak angin bunga yang diwahyukan pada buih sabun sudah.

 

“Aku butuh lebih dari sekedar aroma” rontamu meronta mencari pintu keluar selangkang itu. Kau  jengah, gerah, terdedah, kau dirajami durjana-durjana gairah.

 

“Lekaslah, di tungku perapian ini aku telah rebah” pintamu padaku, memelas bocah.

 

“Saban malam, kaulah yang menekan tuts-tuts piano itu hingga menjalin lilitan-lilitan nada, yang mengikatku, yang erat, yang terlampau erat, sampai sesaklah dada, dan teruntuhkanlah semua dinding-dinding udara. Kau yang menghardik dan menggeleparkan mimpi hingga gentar menjumpai mata”

 

“Kau harus segera menggerayangiku, mengucup-ngucup putik tertinggi daratan tubuhkuku, menghujam dengan hujaman paling dalam, tepat di dasar klitoris pulsar palungku.

 

Kau harus berulang-ulang seperti lilitan-lilitan nada piano itu. Melonggar, mengencang, meninggi, memelan, sampai aku di lautan lagu itu, benar-benar tertelan.

 

Harus kau sembur aku dengan cairanmu, atau aku benar-benar terbakar di atas tungku perapian, dan sebuah tubuh yang perawan, tak akan pernah ada lagi yang kembali menyusup ke muara dadamu.

 

Kau harus segera melemaskan sendi-sendi tulang belakangku, di dua puluh enam tahun yang tereram. Tertanam”

Rawamangun, Selasa malam, 15072008