Arsip untuk Agustus, 2008

Di Sebuah Bus Way

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 29, 2008 by asharjunandar

Mereka masuk seperti aku melewati pintu otomatis bus ini. Mereka berebutan kursi seperti aku dengan hidupku sendiri. Mereka saling pandang satu sama lain, mencari-cari yang lain, mereka mulai dibuai arus roda yang berlari kencang, seperti waktu yang hendak memenggal lehernya sendiri.

 

Aku menghitung jumlah gedung yang kulalui. Masih beberapa tikungan. Dan entah sudah berapa tikungan terlampaui. Beberapa mulut saling berbincang. Beberapa lagi ditentramkan mimpi dalam perjalanan. Beberapa sibuk dengan telepon genggam. Beberapa membolak-balik halaman bacaan.

 

Mereka masuk seperti aku melewati pintu otomatis bus ini. Sebelum kemudian beberapa shelter. Beberapa langkah yang tak tampak berbunyi jam beker.

 

Dan aku, sudah dimanakah kini?

Rembang bersitegang sendirian dengan gaung malam

 

hakcipta pada asharjunandar

XXVI – XVI

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 27, 2008 by asharjunandar

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang.

 

Tetap kucoba mendengar ceritamu bocah. Cerita yang dikisahkan Mazmur, Al Kitab dan Quran. Aku mendengar ricik air mengalir, bersumber denyut jantungmu yang lahir tanpa bapak. Kau menyisir Alexandria hingga Nazaret, yang satu per satu memperlihatkan kelumit rahasia terkuak, seperti kulit anggur yang diperas seorang perempuan tua, terperas jemari renta, lalu membasahi kerongkongan para pria dewasa keluargamu, dari Daud,

 

yang telah berperang, berperang dan mewariskan, seperti perang yang terwariskan ibu-bapakku di dalam diriku.

 

Kau tak berbapak bocah. Dan kita merasakan kegamangan yang sama. Seperti kebersamaan tangan dalam rangkulan yang sesungguhnya kesendirian.

 

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang.

 

Kuperdalam mataku ke bola matamu yang terpampang sendu dalam tarikan apiku yang dalam. Tampak setengah badanmu, menghilang. Seperti simper siur diriku yang ditarik-ulur oleh penggenggam benang layangan kehidupan.

 

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang,

 

Sedikit terik, sedikit berawan, sedikit temaram.

 

Dan kini katanya, kau dengan rambut sepenuhnya basah, seraya mereguk anggur dari perasan perempuan tua dulu yang sama, menyaksikanku memungut tombak dari suatu ketinggian, pada warisan peperangan yang masih pula serupa.

 

Sedikit terik yang meelirik, sedikit berawan yang hujan, sedikit temaram yang malam.

Rawamangun, Sabtu siang, 23082008

Dua Matahari Air Mata

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 25, 2008 by asharjunandar

Siapa yang pernah menduga tuhan juga mengutus jibril ke jam beker yang pemalu dan berdetak di sudut kiri kamarmu dulu?

 

Kemudian dia membangunkanmu: Bangunlah!

Bersihkan badanmu! Hari ini hari pertama kau membesuk kelas baru hidupmu.

 

Yang putih. Seperti Al-Fatihah.

 

Bangun tidur, kau hapal doanya. Hendak memasukkan sesuatu ke kerongkongan kloset, kau hapal doanya. Hendak mengunyah nasi di depan meja, kau hapal juga doanya. Buah tandan ayunan reot di sebuah taman kanak-kanak tua.

 

Kau di hantar ibumu, waktu itu dari jalan Panca Budi ke padepokan yang kata orang kota, caliknya sungguh teladan – teladan bersahaja..

 

Kau pemalu, seperti beker kamarmu, sebab segala yang melekat di tubuhmu adalah yang baru. Globe baru yang berputar sendirian pada sumbu porosnya. Kau dudukkan mendung lautmu, dihadapan sengatan matahariku yang menyala. Yang membakar kata dan angka.

 

Kau fasih membaca tanda-tanda alam. Dari cerita siklus hujan, metamorfosis awan sampai wangi serbuk sari kembang sepatu, yang putiknya katamu, mirip tali sepatumu.

 

Ruang semesta ini tidak mengemban seperti evolusi perputaran globemu.

Ruang semesta ini adalah kubus sedikit balok, seperti kata ibuku yang mengajarkan ilmu algebra di sebuah perguruan kalam tuhan.

 

Siapa yang pernah menduga, tuhan juga mengerami telur matahari di balik kaus kaki kakimu, yang talinya mirip putik bunga kembang sepatu, yang tumbuh di depan kelas kita.

 

Di sana terpampang sebuah plang papan bertuliskan:” peliharalah kami, beri kami air kehidupan”

 

Dari sumber matamu yang mengalir sendang tenang, kukuras semua energi cahaya dari matahari yang disembunyikan tuhan di balik kaus kaki kakimu yang kecil, seperti globemu yang berevolusi sendiri di porosnya, kutarik kau sejak itu jauh ke inti pembakaran matahariku yang menyala, yang membakar segala.

 

 

Aha, selamat datang di kelas dua neraka !

Di permainan lidah-lidah api yang memercikan cahaya semesta kita.

Di permulaan dua matahari masing-masing rantai makanan makhluk kita akhirnya tuntas terlaksana.

 

Di sebuah simpul tali kembang sepatu yang menghimpun segala doa-doa airmata.

Siapa yang pernah menduga?

 

Nb: pertemuan pertama dengan Sahnan, kelas 2 SD, dari sebuah kecelakaan tali sepatu yang bisu dan pemalu.

Rawamangun, Minggusiang, 24082008

hakcipta pada asharjunandar

Sajak Burung HudHud

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 22, 2008 by asharjunandar

: Hudan”Hudhud” Hidayat
hehehe

wah, sudah sebegitu papanyakah kesunyianmu

wahai burung Hudhud sulaiman ?

atau ini efek dari kepakan sayap yang terlalu
berkepanjangan?

aih, hinggaplah sejenak di dahan, di ranting, di karang
atau mencelupkan paruh, sedikit membenamkan kepala

di aliran laut

dimana khaidir membocorkan perahu,
dan Musa masih betah berisik dengan bisikan logika sendiri

dan ketika kau sapukan kembali nanti sepasang matamu,
yang jalangnya, jalang Chairil

kau saksikan Zhiyang Zee menggeraikan rambut dan setengah
penutup tubuh
di dalam bola buih yang menggelinding ke awan kelenyapan

ketika, itu, kau mengayuh sayap kembali, mengangkasa,
mengangkasa, mentawafi kabbah sastra.

Pulogadung, Jumat, 22082008

hakcipta pada asharjunandar

Pesanan Tiga Tanda Kata

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 20, 2008 by asharjunandar

Petak-Umpat

Ayo diam-diam bersatu: kancing

Ayo tukaran: kasir

Ayo letakkan ke dalam: kantong

Ayo bangun istana: pasir

 

Ayo mengokohkan batang: akar

Ayo bergelantungan danging: terung

Ayo minum ibu: susu

 

Ayo abadikan: kamera

 

Ayo padamkan: asbak

 

Ayo loncat dan ke luar:

 

Pagar.

 

Ayo mengajekkan pintu. Pinta, Hasan.

 

Ayo. Berejek-ejekan bocah dolanan

 

Ayo, Hudan.

Siapa giliran menjaga?

Rawamangun, Selasa malam, 19082008

 

 

 

Teka-Teki Dedi, Dedi Teka-Teki

Radio, kolam renang, topi, kantong plastik, lemari

Terlalu sedikit Dedi.

 

Akh, tambahi lagi kemuakan

Radio menceburkan lagu-lagu ke kolam renang

 

Akh, tambahi lagi kedinginan

Topi sekolah jadi handuk

 

Akh tambahi lagi lakon mutilasi

Siapa yang kehabisan kantong plastik?

 

Akh, potongan tubuh siapa kini

Yang di dalam lemari, Dedi?

 

Siapa yang mencabut nyawanya sendiri?

Siapa yang mencabut nyawanya sendiri?

Dan berani mati

Rawamangun, Selasa malam, 19082008

 

Aan Kecil

Kata berita surat kabar yang lama,

Kau di sana Aan,

Aan kecil sedang hikmat menghormat bendera dengan baju baru

Putih merah.

 

Ya, seperti bendera kita

 

Tapi tahukah kau sudah beredar berapa juta kartu nama

Untuk menggantikan engsel pintu kelas satu saja?

 

Dilaporkan satu surat kabar yang lama,

Pada seseorang yang sedang mengunyah kacang sambil

Menyeberang jalan.

Rawamangun, Selasa malam, 19082008

Di Sebuah Bangku Selamat Datang

Posted in ShorTime In HeaVen on Agustus 15, 2008 by asharjunandar

To: Nina “bobo” Yuliana.

Saat menisik lengkung garismu, ada yang menekuk nafas dalam langkah, di sekelumit temaram pertama, di sebuah bangku selamat datang, barisan gigi telah mengurut senyum.

 

Sebuah pengeras suara. Mendekatkan uluran suaramu ke lorong telingaku. Tahukah kau berapa nama sudah tertimbun pusara di sana? Di lorong gelap yang mulutnya masih menganga?

 

Beberapa pengunjung telah mencatat sepasang kata kenangan di dinding-dinding lembabnya. Sebelum mereka lalu dengan kisah berlalu terkikis lelehan air keringat  lumutku.

 

Tak ada lumbung kerinduan yang cukup lapang ruangnya menampung limbah lumpur airmata.

 

Kecuali di satu sentuhan bercabang pembuluh yang masih dialiri darah.  Dan sebuah nama yang tetap terkulum dalam satu lipatan senyum rahasia.

 

Yang diperkabut temaram kala benih rembang hendak berkembang. Mengulurkan jemari tangan.

 

Di sebuah bangku selamat datang.

Rawamangun, Rabu Malam 13082008

hakcipta pada asharjunandar

Angket Saketek

Posted in rajawaliarok on Agustus 13, 2008 by asharjunandar

Bertanya. Kita berhak bertanya. Siapa diantara kita yang menyelesaikan pendidikan strata tiganya tentang bahasa? Ayo, segera bentuk pansus kata tanya.

 

Mengapa, kata ini untuk menanyakan sebab. Untuk kata tanya ini sembilan anggota.

 

Dari mana. Dua kata ini untuk menanyakan asal-mula. Sebab kata ini dua kata, berarti delapan belas anggota.

 

Untuk apa. Dua kata ini menanyakan hasil pelaksanaan yang belum tentu terlaksana. Dua kata lagi untuk satu kata. Berarti delapan belas anggota juga.

 

Ayo, hak kita untuk menuliskan kalimat tanya. Ayo, ketuk palu musyawarahnya.

Rawamangun, Senin malam, 04082008

hakcipta pada asharjunandar