Dua Matahari Air Mata

Siapa yang pernah menduga tuhan juga mengutus jibril ke jam beker yang pemalu dan berdetak di sudut kiri kamarmu dulu?

 

Kemudian dia membangunkanmu: Bangunlah!

Bersihkan badanmu! Hari ini hari pertama kau membesuk kelas baru hidupmu.

 

Yang putih. Seperti Al-Fatihah.

 

Bangun tidur, kau hapal doanya. Hendak memasukkan sesuatu ke kerongkongan kloset, kau hapal doanya. Hendak mengunyah nasi di depan meja, kau hapal juga doanya. Buah tandan ayunan reot di sebuah taman kanak-kanak tua.

 

Kau di hantar ibumu, waktu itu dari jalan Panca Budi ke padepokan yang kata orang kota, caliknya sungguh teladan – teladan bersahaja..

 

Kau pemalu, seperti beker kamarmu, sebab segala yang melekat di tubuhmu adalah yang baru. Globe baru yang berputar sendirian pada sumbu porosnya. Kau dudukkan mendung lautmu, dihadapan sengatan matahariku yang menyala. Yang membakar kata dan angka.

 

Kau fasih membaca tanda-tanda alam. Dari cerita siklus hujan, metamorfosis awan sampai wangi serbuk sari kembang sepatu, yang putiknya katamu, mirip tali sepatumu.

 

Ruang semesta ini tidak mengemban seperti evolusi perputaran globemu.

Ruang semesta ini adalah kubus sedikit balok, seperti kata ibuku yang mengajarkan ilmu algebra di sebuah perguruan kalam tuhan.

 

Siapa yang pernah menduga, tuhan juga mengerami telur matahari di balik kaus kaki kakimu, yang talinya mirip putik bunga kembang sepatu, yang tumbuh di depan kelas kita.

 

Di sana terpampang sebuah plang papan bertuliskan:” peliharalah kami, beri kami air kehidupan”

 

Dari sumber matamu yang mengalir sendang tenang, kukuras semua energi cahaya dari matahari yang disembunyikan tuhan di balik kaus kaki kakimu yang kecil, seperti globemu yang berevolusi sendiri di porosnya, kutarik kau sejak itu jauh ke inti pembakaran matahariku yang menyala, yang membakar segala.

 

 

Aha, selamat datang di kelas dua neraka !

Di permainan lidah-lidah api yang memercikan cahaya semesta kita.

Di permulaan dua matahari masing-masing rantai makanan makhluk kita akhirnya tuntas terlaksana.

 

Di sebuah simpul tali kembang sepatu yang menghimpun segala doa-doa airmata.

Siapa yang pernah menduga?

 

Nb: pertemuan pertama dengan Sahnan, kelas 2 SD, dari sebuah kecelakaan tali sepatu yang bisu dan pemalu.

Rawamangun, Minggusiang, 24082008

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: