XXVI – XVI

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang.

 

Tetap kucoba mendengar ceritamu bocah. Cerita yang dikisahkan Mazmur, Al Kitab dan Quran. Aku mendengar ricik air mengalir, bersumber denyut jantungmu yang lahir tanpa bapak. Kau menyisir Alexandria hingga Nazaret, yang satu per satu memperlihatkan kelumit rahasia terkuak, seperti kulit anggur yang diperas seorang perempuan tua, terperas jemari renta, lalu membasahi kerongkongan para pria dewasa keluargamu, dari Daud,

 

yang telah berperang, berperang dan mewariskan, seperti perang yang terwariskan ibu-bapakku di dalam diriku.

 

Kau tak berbapak bocah. Dan kita merasakan kegamangan yang sama. Seperti kebersamaan tangan dalam rangkulan yang sesungguhnya kesendirian.

 

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang.

 

Kuperdalam mataku ke bola matamu yang terpampang sendu dalam tarikan apiku yang dalam. Tampak setengah badanmu, menghilang. Seperti simper siur diriku yang ditarik-ulur oleh penggenggam benang layangan kehidupan.

 

Semalam, masih terbawa arus sekarang, hendak rembang yang dijinjing siang,

 

Sedikit terik, sedikit berawan, sedikit temaram.

 

Dan kini katanya, kau dengan rambut sepenuhnya basah, seraya mereguk anggur dari perasan perempuan tua dulu yang sama, menyaksikanku memungut tombak dari suatu ketinggian, pada warisan peperangan yang masih pula serupa.

 

Sedikit terik yang meelirik, sedikit berawan yang hujan, sedikit temaram yang malam.

Rawamangun, Sabtu siang, 23082008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: