Enam Lengkung Lentera Telapak Tangan

 

Siapakah yang telah menggiring malam,

yang sudah begini malam

di dalam cangkang tubuh kita?

Siapa pula yang berdosa

ketika seseorang

telah merasa dalam ladang dadanya

tertanam, hidup dan tumbuh benih tuhan

yang tak berupa?

 

Maka

kau dan aku menyaksikan perjalanan keterasingan itu

ditasbihkan bintang-bintang.

Tikungan ke tikungan.

Kaulah di depan, sebab kau perempuan.

Sebab yang di depan mengatakan:

ini singgahsana yang terpilih

untuk sang Magdalena.

 

Magdalena yang takzim menatap monoligh

di atas meja sudut kamarnya.

Dalam kesendirian,

dan bayangku yang terus menguntitnya

dari balik gaun panjang lelapnya.

 

Hikmatlah kami dalam doa-doa

yang dipimpin biarawan-biarawan

masing-masing hati kami.

Di saksikan gapura

yang berhadap-hadapan

dengan tiang berlentera enam.

 

Ada enam telapak tangan

yang menengadah

kepada penggambar lengkung garis malam,

 

Hendak dimanakah garis singgung suratan

akan terus dipertemukan?

 

Ya. Tugas kami hanyalah mengaminkan.

Hanyalah mengaminkan.

Seperti enam lengkung lentera

telapak tangan.

 

hakciptapada asharjunandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: