Kesatria Rama Berkuda Putih

 

 

 

: bk & rk

 

/1/

Sinilah nak,

hari sudah larut malam

dan

setengah kantuk menghimpit badan.

 

Melingkarlah di perut ibu,

seperti dulu kau menghisap jempolmu

di dalam rahimku,

dari tali darah itu kau kususui,

dalam posisi ayunan timang-timang,

anakku sayang.

 

Kenailah bulu tanganmu

yang mulai setengah matang,

ke pori-pori dua payudaraku.

 

Beginilah terasa lingkar tanjakan hidup,

tampak lembut,

sesungguhnya ditumbuhi sesemak lubang halus

juga teramat dalam,

kapan saja mengangkangi matahari kakimu

yang sepasang dan berseberangan.

 

Sinilah nak,

hari sudah mengentalkan pigmen rambut ibumu,

yang masih perawan.

 

Dalam diari

pelepah halamannya luruh satu-satu seperti usiamu,

bacalah halaman terakhir saja,

dimana kesimpulan kasih sayangku

kusalin untukmu

dengan tinta darah dan pena airmata.

 

Sinilah nak, peluk ibumu,

biar kau kupeluk,

dan kita saling memeluk-terpeluk oleh kantuk

yang dipeluk oleh dia yang tak pernah kantuk,

 

Sinilah nak, kemari.

Ukur demam kesunyian ibumu

yang tiada tertera di thermometer apapun,

di dunia ini, selain di meteran hatimu.

 

 

/2/

Bunda,

hari memang sudah larut di pelupuk mata yang kantuk.

Tapi aku kesatria, kini dan kelak

di gerbang istana kita yang tanpa punggawa,

 

Izinkan, aku terus melanjutkan pelajaran berkuda.

Kuda-kudaan kayu peninggalan ayahanda, masih mengerlingkan

mata kekuatan derapnya yang jantang petir,

meraung sampailah ke puncak Sinai musa.

 

 

Bunda,

hari memang sudah larut di pelupuk mata yang kantuk.

Tapi pedal ini berayun ayun mencipraki gadam si ekor panjang,

yang bulunya tebal putih seperti kucing kesayanganmu,

yang bermain di sela kakimu yang jenjang,

seperti badanku yang ditegakkan kurus tulang,

kuingat di peti inilah, daud menitipkan sebilah pedang

kepada sulaiman.

 

Di peti yang kini terbuka penuh,

di ruang hatimu yang benderang sungguh.

Ketika dulu dayang-dayang berebut hendak memandikanku,

dan jeritku menuntunmu turun dari singgahsana itu.

 

Bunda,

tak kujemput siapa-siapa, selain kehidupan,

yang katamu mendebarkan sekujur badan para panglima kita,

Mereka hendak kutaklukkan,

dan bersama derap kuda jantan putih ini,

kutancapkan bendera rambutmu di bukit yang paling tertinggi,

di jagad ini,

 

Sebelum kau pejamkan kelopak matamu yang suri.

 

 

/3/

Aku tak meminta apapun anakku sayang. Kau kenyang, laparkupun hilang. Tapi ingatlah suapan tangan gemetar ini, yang sudah menyapihmu selama selebas lingkaran, ada delapan arah yang tak lagi pernah tersilangkan.

 

Katamu, kau haus sayang. Kuberikan susu yang paling susu tuhan. Katamu kau menggigil, kulingkarkan selimut yang paling sutera adam.

 

Aku mengeja huruf demi huruf namamu sayang, dalam tiap nama yang pernah memperkenalkan. Kulantukan timang-timang doa kepada temali ayunan, lelakillah jadi lelaki kelana anakku, sayang.

 

Jadi lelaki terbumi, yang menentang langit yang menyombongkan tujuh lapisan topan.

 

 

/4/

Bunda,

aku kekar di sini seperti akar beringinmu,

merambat ke segala penjuru seperti randu,

yang dituntun angin musimmu.

Musim yang membangunkan semak di sekitar batangku,

 

Bunda,

tubuhku bercabang,

berdahan,

beranting berdaun,

berbuah hijau kemerah-merahan,

bagi anak elang yang hendak belajar terbang.

 

Kukenal senja seperti kau mengenalkan,

kujabat tangan malam seperti kau yang menyalakan bulan.

 

Kirimi aku terus humusmu ibu,

serapkan aku lewat pori-pori doamu

yang membuahi serbuk sari putikku.

 

Hingga buah ke buahku,

dipetik musim ke musimmu

Rawamangun, Senin 07092008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: