Arsip untuk Oktober, 2008

khuldi, 1

Posted in rajawaliarok on Oktober 29, 2008 by asharjunandar

Tanpa masa lalu luka dan darah,

Manusia bukanlah makhluk sejarah

 

Iklan

Kepada Para-Para

Posted in rajawaliarok on Oktober 27, 2008 by asharjunandar

Dalam mencipta, apalah yang telah dirugikan

Selain waktu yang ditarik kembali dari belakang

Kembali ke depan, dan orang-orang yang merasa terhibur

Serempak bertepuk tangan di depan panggung pertunjukan

 

Kita dibesarkan dalam berbagai iklan yang terus berlari

Berlari ke balik tirai yang telah pucat dan terkoyak

Beberapa orang saja yang melinting asap di pinggiran

Di sudut yang tak terjangkau pencahayaan lampu

Menekur tunduk dalam gelap

Seakan tak rela menyerah pada kenyataan yang mempertanyakan

Apa lagi selanjutnya, selain besok denting gelas beradu garpu

Dan dialog yang tidak pernah tersipu malu

 

Untuk mau kembali. Lagi diucapkan. Lagi direnungkan

Menjelang pagi yang mulai kehilangan temaram

 

Dan belulang, tak lagi merasai dingin yang biasanya

Menghujam.

 

Menghujam kita, dengan pertanyaan-pertanyaan

Siapa yang terhibur, dan mengapa kita menumpahkan darah

Dan memperlebar nganga luka pada kesenian

Yang sudah sendiri, renta dan kesepian?

Subsitusi Kosong

Posted in rajawaliarok on Oktober 24, 2008 by asharjunandar

Subsitusi Kosong

Detik inilah Nan, yang tak terganti. Oleh apapun yang pernah mampu mengganti. Oleh uang yang nolnya beranak pinak deret ukur sekalipun, oleh perempuan yang fatwa ahli agama, detik berikutnya adalah bidadari surga,

 

Detik inilah yang tidak tersubsitusi variabel segenap himpunan semestapun, yang pun sekalipun dihaluskan proses limit ke-pun yang paling pun..

 

Detik dimana airmata kita luruh secara bersamaan, saat kau dan aku berhadap-hadapan dengan masa depan yang cibirnya selalu mencibirkan, seinchi darah dalam aliran..

 

Kau dan aku perjuangan jutaan sel mani, dan juga kelak satu sel telur pula yang mutlak berhak mengikat kaki ekornya, di kantung sulbi ini.

 

Detik inilah Nan, yang tak terganti. Detik yang menyadarkan kesadaran tertinggi. Bahwa kau dan aku adalah ciptaan yang mencipta tanpa terikat dengan unsur di luar sistem tubuh kita,

  

Mentranslasikan Sepasang Nama

Posted in rajawaliarok on Oktober 23, 2008 by asharjunandar

Mentranslasikan Sepasang Nama

Orang-orang selalu sibuk di pasar baru. Terlalu sibuk untuk memperhatikan kita yang termangu duduk di emperan toko memperhatikan mereka.

 

Sebuah kerumunan. Pengembara yang mempercayakan hidupnya pada goresan-goresan kaligrafi. Kau dan aku hendak mengabadikan nama kecil kita di selembar kertas dengan jaminan tak ada ongkos pulang lagi di saku.

 

Orang-orang yang selalu sibuk tidak pernah berusaha berjejer rapi. Selalu dikejutkan oleh sesuatu yang baru, seperti kau dan aku.

 

Ketakjuban. Bagaimana pena dan tangan itu begitu lincah mentranslasikan ejaan nama latin kita, ke dalam tulisan arab?, sesuatu yang sukar dan tak akrab.

 

Sementara yang mengepul di udara, bukanlah butiran pasir,

Melainkan debu yang mendesir….seperti terusir.

Hari Telah Terkelupas di Pelepah Jarimu

Posted in PelacurMatahari on Oktober 22, 2008 by asharjunandar

Hari telah terkelupas di pelepah jarimu.

Jari yang mulai melepuh, menjinjing

Butir demi butir nasi yang datang,

Kemudian menangis di keempat selanya

 

Ibu jarinya memang tidak setara dengan

Kuku kelingking, tapi dia yang paling lincah

Melopat dari satu telunjuk ke jari tengah

Yang sedikit pemarah

 

Marah yang bukan lagi menahan lapar biasa

 

Keempat jari itu bisa saling diam sama lain

Selain sebutir nasi yang terselip di masing kuku

Keempatnya lalu menekup seperti mangkuk

 

Di sore yang tak mau pergi

Dari langit belum pernah turun hujan nasi

 

Hari telah terkelupas di pelepah jarimu.

Jari yang mulai melepuh

Seperti keriput pembuluh yang masih

Menyadarkanmu

 

 

Kabar Cuaca

Posted in rajawaliarok on Oktober 21, 2008 by asharjunandar

Kabar Cuaca

 

Kukabarkan berita cuaca hari ini, di rimba:

 

Kau tahan laparmu; kau akan tertikam

Kau ganjal kantukmu; kau akan tertikam

Kau jinjing hapalanmu; kau akan tertikam

Kau bendung dahakmu; kau akan tertikam

 

Kau peras sari airmatamu; kau akan tertikam

Kau simpan sel dagingmu; kau akan tertikam

Kau hapus jejakmu; kau akan tertikam

Kau patahkan parangmu; kau akan tertikam

 

Kukabarkan berita cuaca hari ini, di rimba

Surat Pembuka

Posted in runegreen on Oktober 20, 2008 by asharjunandar

Untuk sebuah surat pembuka, aku tiada letih

Berterimakasih untukmu,

Di sebuah malam yang ketujuh belas

Dia dikirimkan

Ah, kalimatku terbata ditiupan asapmu

Yang kau lingkarkan ke lingkar leherku

 

 

Ada yang tak tersampaikan karena harus terus

Dirahasiakan,

Di dalam hati, tapi matamu telah mengatakan

 

“Tanahku ditumbuhi perdu rahasia, yang hendak dibakar

Tanahku ditumbuhi perdu rahasia,

 

Yang belum tiba, sipembakar ladang”

 

 

Ah, malam yang ketujuh belas

Mengapa kau diturunkan pada ayat pertama?

 

hakcipta pada asharjunandar