Ruang Tunggu

 

 

Satu tiang patung berdiri di sini

Dengan enam lentera oranye kunang-kunang

 

Kutarik badan ke tengah lapang pelataran

Marmer

Persegi yang diketupatkan tukang dulu kala

 

Berdiri pula plang “Jangan” berkapital merah

Semerah paras matamu,

            Yang katamu:

“Telah lelah berjaga-jaga,

Sepanjang batas yang belum bertemu usia”

 

Berhadap-hadapan denganku,

Berapa lama kau sanggup bersila diintai cahaya?

 

Angin musim basah melekat di telapakmu,

Di siku,

Di raut yang terus disamarkan

Desis ular rambutmu,

 

Punggungmu mulai gelumai digoyang

Hembusan mulut malam yang masih menyimpan

Kata majemuk pagi di kerongkongan

 

Satu tiang patung berdiri di sini

Dengan enam lentera oranye kunang-kunang

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: