Arsip untuk November, 2008

File 3

Posted in ShorTime In HeaVen on November 24, 2008 by asharjunandar

myiq2xu-128

Dan kitapun mulai menggeliat dengan dua cara

“Dengan melilitkan dan menekan sejengkal perut ini

jauh ke dalam,

atau membiarkan saja lilitan usus itu terburai”

Di masing-masing mata yang telah terbuka

Dan kata yang sudah merancang lakon penikaman

Dari belakang punggung kita

Membentang jembatan tinggi dan panjang

Di awali langkah pertama yang maha

Dan kitapun mulai menggeliat dengan ritme berbeda

Sepeka saraf pendengan kita

File, 2

Posted in ShorTime In HeaVen on November 20, 2008 by asharjunandar

tenpercent-128

Kita sama-sama makhluk yang terlahir dari satu kata:

“Teriakan!”

dimanapun teriakan itu membahana, membelah langit

tak bertiang,

menghardik kawanan pipit, yang bergegas berhamburan

menghindar, selain gerombolan gagak

dengan katup paruh malah terbuka lebar-lebar,

selebar ayunan sayap

kemudian kita ditumbuhkan dua jenis air susu mantra ibu

“Pengharapan” atau “Pengucilan”

yang mengarahkan insting kita mulai memamah cacing

atau ranum daging kita sendiri

lebih dulu telah terkait di ujung kail pemancing

dimanapun itu terjadi,

teriakan itu membahana, mengapak langit tak bertiang

File, 1

Posted in ShorTime In HeaVen on November 17, 2008 by asharjunandar

APTOPIX Wildfires

disilang sengketa file-file dan dering beker samping monitor komputer ini

kau lebih sering menyeruak, memprovokasi pemantik api

memburu ujung tembakau penghabisan di antara telunjuk dan jari tengahku

tiga tangis bocah yang akan melengking tinggi dari dalam penjara

tempurung lututku, kian mengentalkan dedak kopi di dasar gelas jam-jam istirahat siang

yang meremukkan sum-sum saraf otakku

kau bercerita tentang bagan-bagan, grafik-grafik dan trend masa depan tiap rumah tangga

sedang tiang-tiang rumah tangga itu, adalah hanya antara kau dan aku

berserakan di pembaringan beberapa paragraph yang dibubuhi tandatangan

di atasnyanya,

di bawah lafas suara yang sesungguhnya tak ber-dollar sepersenpun juga

selain desah keringat kita, yang terus mengingatkan, bahwa kau dan aku

adalah empat tangan yang terbuka, menengadah dan saling terus meminta

bila ada sisa-sisa nasi santap malam pada dentang dua belas

tetap terujar terimakasih dari dua bibir ranggasku,

sebagai balas yang tak akan pernah berbalas

serupa mesin yang terus menggilas, menggilas dan menggilas


Rukunlah 10 Jari, jemariku

Posted in rajawaliarok on November 14, 2008 by asharjunandar


rukunlah sepuluh jariku
rukunlah dengan otak-rasa
yang bersemayam di tempurung  kepala
dan barisan sumsum saraf belakangku

yang luruh,
seperti deret foiller
menguap dari balik pori-pori leher

tuhan lama telah bekerja lama
di luar dunia lama kita,
merancang, merakit, menyatukan, membinasakan,
dengan sistim mencipta,

seperti bunda Maria nebula

rukunlah sepuluh jariku
rukunlah dengan denyut-denyut
yang mendengung-jerit di dasar corong telingaku

berhikmatlah kepada penggalian tanah
kelahiran jasad nisan berikutnya

tubuh dada yang menyusui kembali
lengking tangis bayi jiwaku

Rukunlah sepuluh jari,jemariku

Central Net cafe

Posted in ShorTime In HeaVen on November 11, 2008 by asharjunandar

3d-angel

 

di goa. di goa. di goa kamar-kamar dan batu-batu relief purba di mana-mana tertera samar dan kramat tanda gelap betah di sayap di goa. di goa. di goa kamar-kamar dan mata-mata di langit-langit bergelantungan cahaya samar dan mendirikan bulu manusia di goa. di goa. di goa suara dipertebal gema kamar-kamar bersekat kain dan rangka kubus batu kali satu kali dua di depan monitor kaca pintu masuk segala di goa. di goa. di goa kalian  jadi penjaga angkernya dan manusia manusia seperempat usia mengais air suci di sela bebatuan mata kalian menyilaukan cahaya yang terpancar dari langit mata mereka di goa. di goa. di goa

 

aku mulai sering

menggulung malam

di sana

memungut kotaran

yang didedakkan

anus kalian

sebagai marga

 

ada kebuasan dari naluri perburu terbunuh demi komunitas pagi yang jadi musuh

 

di goa. di goa. di goa bunyi-bunyi musik memekakkan telinga merayap ke segala kamar yang ada dan mata air jernih di sela tajam cadas terkadang terasa pedas dan begitulah memang air bermantra kehidupan yang diperebutkan manusia yang mendatangi di goa. di goa. di goa kalian lumat buah-buahan doa

 

bukankah dosa

yang mengenalkan

raut wajah surga ?

 

mereka yang datang pagi dilayani peri mereka yang tiba siang dihamparkan permadani mereka yang kemalaman di jalan tamu agung di perjamuan mereka setelah keluar dari kamar-kamar di goa. di goa. di goa oleh umat di masing-masing bangsa tubuhnya ditasbihkan sebagai nabi dan mereka bawakan kalian sari buah surga bahkan tuhan dan para nabinya selalu harus terjadi transaksi yang saling menguntungkan demi keakuran semesta dan segala isi perutnya layaknya dewa-dewi yunani kuno kalian berkibar di bawah naungan Zeus atau bendera Hera sebagian penjaga pagi tak sedikit juga punggawa malam dan manusia yang datang membawa sesembahan bebas saja memilih kamar untuk bermalam di goa. di goa. di goa ada kamar berisi arak juga kamar dipenuhi madu suci dan kebebasan adalah takdir firman yang sudah terikat tangan siapa saja boleh membasuh kepala dan badan dengan darah atau tetesan embun

 

di goa. di goa. di goa

dua hal itu

selalu dikramatkan

 

 

dari kamar ke kamar lain meski disekatkain bermotif kotak terbentang lorong-lorong yang panjangnya sejarak surga dan neraka di bawahnya, tertera rel-rel kereta  orang-orang yangdatang mendapat tiket di mulut gua lalu menunggu tiba kereta yang akan membawa mereka ke nomor kamar yang di tiket tertera dan lama perjalanan adalah inti dari perenungan ketika kau duduk sendiri atau berdua dengan bayang atau seseorang yang kau cintai turut serta bersandar di pundakmu yang lengkung dan renta kamar – kamar di goa. di goa. di goa bisa jadi ruang hotel berbintang lima atau sudut mesjid yang ranum menawarkan temaram sahaya pemilihan gerbong kereta yang tanpa masinisnya tergantungkata yang kau eram dalam dada

 

apakah roda-roda itu

akan membawamu

menyusuri lorong-lorong

gelap

ke kamar neraka?

 

atau lorong-lorong lembah

bebukitan hijau

ke kamar bercahaya?

 

di goa. di goa. di goa ada sesal yang di bendung dan jadi bah satu kala ada pepohonan apel yang buahnya dapat diraih tanpa tangga sendirikah kau ke sana?atau menjemput cinta di sudut kamar dan mengecap rasanya yang hambar? atau kau menyiagakan tubuh semedi dalam sila dan depa dan seorang dara ranum merah di lengkung bibir dan dua bola matanya membukakan pintu kamar saat kau tiba seperti kisah Troya di satu masa tanpa tanggal dan catatan sejarah dewa-dewa di goa. di goa. di goa menyiagakan pasukannya kau murka ada umat yang terluka di kamar tubuhmu di usik dewa yang bukan penghuni dulu

 

manusia itu serakah

maka dia manusia

 

dan kau pecahkan kerongkongan suaramu jadi anak-anak panah halilintar kelaparan kalian adu kesaktian di mulut goa cuaca berubah angin tuba pagi berlari ke balik tirai dan daun diam dalam gentar ada luka di dadamu yang sudah lama membenamkan kepalanya ketika bangun matanya bukan lagi mata ular biasa kau kolaborasi harimau, ular, serigala, elang, juga kelinci dan rusa dan dia?

secuil penumpang malam

yang membangkang

dalam antrian kereta

 

akh, dengan cakarmu

koyak saja!

waktu adalah kain sejarah yang kalian bentangkan kala rintik hujan waktu adalah keinginan untuk kembali mengulang satu adegan di bingkai lukisan waktu adalah ketika kalian letih jadi dewa-dewa waktu adalah kerinduan pulang ke kampung rahim bunda waku adalah saputangan yang menyeka airmata atas segala cerita berwarna satu persatu tubuh kalian dari kamar menyeruakkan muka wajah yang selama ini raib di langit-langit gelap berkumpul membentuk lingkaran di mulut goa sebagian kalimat ingin diluncurkan bagai rudal sebagian lagi biarkan saja mengendap bagai gula yang larut di dasar cangkir kehidupan dan di atas semua itu ternyata pelukanlah  yang lebih berkuasa dan akhirnya angkat bicara sebelum satu per satu kalian memalingkan punggungke segala penjuru angin

 

mungkin 20 tahun

dari waktu itu

kalian dengan diam

diam akan datang lagi

ke mulut goa

 

mencari sesuatu yang

seakan hilang

tapi tidak pernah hilang

 

dan kalian sepakat

mengeluarkannya

dalam

simpul senyuman

 

semoga waktu bukanlah jejak angin yang dingin dan goa dengan segala kramatnya masih murca di bungkus tirai waktu

 

2008

Pulang

Posted in rajawaliarok on November 7, 2008 by asharjunandar

margaretandhelen-128

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Sebab bulan setengah canggung tergelantung

 

Akan tetap ada suara yang bertanya:

“Siapa?”

yang menggodamu untuk menoleh

ke belakang,

 

Dan langkahmu terhenti.

 

“Kemana aku pulang, ibu?

Kemana aku mencari uban rambutmu

Yang seriuh pasar terjatuh?”

 

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Sebab bintang terlalu ramai tunjuk tangan

 

Dalam malu-malu asap

 

Akan tetap ada kata yang tak jadi patah

Di dalam benak,

Telinga terus saja waspada

 

“Kemana aku pulang, ibu?

Kemana aku mencari pejaman mata

Yang dititipkan telapak tanganmu dulu

Di kedua kelopak mataku?”

 

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Dan jejangkrik, bersahutan terus dalam terjaga

 

 

Sepetik sajak dari novel Perburuan

Pramoedia Ananta Toer

Rantai

Posted in rajawaliarok on November 6, 2008 by asharjunandar

Dulu dan sekarang,

 

Rantai apa yang bisa kita kencangkan

ke batang leher ini

Selain rantai anjing yang telah mati

dan membusuk dagingnya

Di usus belatung,

Gerombolan penjahat kecil,

Yang terinjak, kala kaki waktu terus berjalan,

Terkadang tertatih, tersandung terkadang

 

Yang terludah,

Di atas batu-batu

Yang tajam, tumpul

 

Di tampar kemarau, dibentak hujan

 

Dulu dan sekarang,

Dan yang akan datang, seperti gugurnya

Daun-daun

 

Yang berguguran

Dirantai musim yang tiba

 

Sekarang

 

 

Sepetik sajak dari novel Perburuan Pramoedia Ananta Toer