Central Net cafe

3d-angel

 

di goa. di goa. di goa kamar-kamar dan batu-batu relief purba di mana-mana tertera samar dan kramat tanda gelap betah di sayap di goa. di goa. di goa kamar-kamar dan mata-mata di langit-langit bergelantungan cahaya samar dan mendirikan bulu manusia di goa. di goa. di goa suara dipertebal gema kamar-kamar bersekat kain dan rangka kubus batu kali satu kali dua di depan monitor kaca pintu masuk segala di goa. di goa. di goa kalian  jadi penjaga angkernya dan manusia manusia seperempat usia mengais air suci di sela bebatuan mata kalian menyilaukan cahaya yang terpancar dari langit mata mereka di goa. di goa. di goa

 

aku mulai sering

menggulung malam

di sana

memungut kotaran

yang didedakkan

anus kalian

sebagai marga

 

ada kebuasan dari naluri perburu terbunuh demi komunitas pagi yang jadi musuh

 

di goa. di goa. di goa bunyi-bunyi musik memekakkan telinga merayap ke segala kamar yang ada dan mata air jernih di sela tajam cadas terkadang terasa pedas dan begitulah memang air bermantra kehidupan yang diperebutkan manusia yang mendatangi di goa. di goa. di goa kalian lumat buah-buahan doa

 

bukankah dosa

yang mengenalkan

raut wajah surga ?

 

mereka yang datang pagi dilayani peri mereka yang tiba siang dihamparkan permadani mereka yang kemalaman di jalan tamu agung di perjamuan mereka setelah keluar dari kamar-kamar di goa. di goa. di goa oleh umat di masing-masing bangsa tubuhnya ditasbihkan sebagai nabi dan mereka bawakan kalian sari buah surga bahkan tuhan dan para nabinya selalu harus terjadi transaksi yang saling menguntungkan demi keakuran semesta dan segala isi perutnya layaknya dewa-dewi yunani kuno kalian berkibar di bawah naungan Zeus atau bendera Hera sebagian penjaga pagi tak sedikit juga punggawa malam dan manusia yang datang membawa sesembahan bebas saja memilih kamar untuk bermalam di goa. di goa. di goa ada kamar berisi arak juga kamar dipenuhi madu suci dan kebebasan adalah takdir firman yang sudah terikat tangan siapa saja boleh membasuh kepala dan badan dengan darah atau tetesan embun

 

di goa. di goa. di goa

dua hal itu

selalu dikramatkan

 

 

dari kamar ke kamar lain meski disekatkain bermotif kotak terbentang lorong-lorong yang panjangnya sejarak surga dan neraka di bawahnya, tertera rel-rel kereta  orang-orang yangdatang mendapat tiket di mulut gua lalu menunggu tiba kereta yang akan membawa mereka ke nomor kamar yang di tiket tertera dan lama perjalanan adalah inti dari perenungan ketika kau duduk sendiri atau berdua dengan bayang atau seseorang yang kau cintai turut serta bersandar di pundakmu yang lengkung dan renta kamar – kamar di goa. di goa. di goa bisa jadi ruang hotel berbintang lima atau sudut mesjid yang ranum menawarkan temaram sahaya pemilihan gerbong kereta yang tanpa masinisnya tergantungkata yang kau eram dalam dada

 

apakah roda-roda itu

akan membawamu

menyusuri lorong-lorong

gelap

ke kamar neraka?

 

atau lorong-lorong lembah

bebukitan hijau

ke kamar bercahaya?

 

di goa. di goa. di goa ada sesal yang di bendung dan jadi bah satu kala ada pepohonan apel yang buahnya dapat diraih tanpa tangga sendirikah kau ke sana?atau menjemput cinta di sudut kamar dan mengecap rasanya yang hambar? atau kau menyiagakan tubuh semedi dalam sila dan depa dan seorang dara ranum merah di lengkung bibir dan dua bola matanya membukakan pintu kamar saat kau tiba seperti kisah Troya di satu masa tanpa tanggal dan catatan sejarah dewa-dewa di goa. di goa. di goa menyiagakan pasukannya kau murka ada umat yang terluka di kamar tubuhmu di usik dewa yang bukan penghuni dulu

 

manusia itu serakah

maka dia manusia

 

dan kau pecahkan kerongkongan suaramu jadi anak-anak panah halilintar kelaparan kalian adu kesaktian di mulut goa cuaca berubah angin tuba pagi berlari ke balik tirai dan daun diam dalam gentar ada luka di dadamu yang sudah lama membenamkan kepalanya ketika bangun matanya bukan lagi mata ular biasa kau kolaborasi harimau, ular, serigala, elang, juga kelinci dan rusa dan dia?

secuil penumpang malam

yang membangkang

dalam antrian kereta

 

akh, dengan cakarmu

koyak saja!

waktu adalah kain sejarah yang kalian bentangkan kala rintik hujan waktu adalah keinginan untuk kembali mengulang satu adegan di bingkai lukisan waktu adalah ketika kalian letih jadi dewa-dewa waktu adalah kerinduan pulang ke kampung rahim bunda waku adalah saputangan yang menyeka airmata atas segala cerita berwarna satu persatu tubuh kalian dari kamar menyeruakkan muka wajah yang selama ini raib di langit-langit gelap berkumpul membentuk lingkaran di mulut goa sebagian kalimat ingin diluncurkan bagai rudal sebagian lagi biarkan saja mengendap bagai gula yang larut di dasar cangkir kehidupan dan di atas semua itu ternyata pelukanlah  yang lebih berkuasa dan akhirnya angkat bicara sebelum satu per satu kalian memalingkan punggungke segala penjuru angin

 

mungkin 20 tahun

dari waktu itu

kalian dengan diam

diam akan datang lagi

ke mulut goa

 

mencari sesuatu yang

seakan hilang

tapi tidak pernah hilang

 

dan kalian sepakat

mengeluarkannya

dalam

simpul senyuman

 

semoga waktu bukanlah jejak angin yang dingin dan goa dengan segala kramatnya masih murca di bungkus tirai waktu

 

2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: