Arsip untuk Desember, 2008

Sabda Bahagia

Posted in ShorTime In HeaVen on Desember 19, 2008 by asharjunandar

matisse-henri_the-dance_1910_the-state-hermitage-museum-st-petersburgBerbahagialah yang mencompang-campingkan pakaiannya

karena telah dijahitnya jubahnya nanti di surga, berbahagialah yang merajutnya

dengan benang airmatanya yang lembut dan dengan sekerat roti dan seteguk

anggur, dia mengenyangkan sukurnya, berbahagialah kelembutan dua telapak tangannya

yang terbuka dan bukan meminta, berbahagialah dia yang terus menengadah

kepada kebenaran yang dia tahu akan keluar dari kabut, sebab kemurahan hatinya

kemudian dadanya jadi muara, berbahagialah dia yang berenang-renang di sana,

di malam yang damai, berbahagialah dia dengan seberkas cahaya lilin di sampingnya,

dan orang-orang yang melingkar seraya mendengar, berbahagialah mereka

setelah keputusan pembuangan dan pengucilan, sebab dimanapun kaki memijak

di situlah gerbang istana tuhan yang membuka,

Berbahagialah atas segenap cacian, sebab di lehermu cermin telah digantungkan

Dan berbahagialah kau yang tahu arah, kemana kepala harusmu ditundukkan

Iklan

Golgota

Posted in ShorTime In HeaVen on Desember 18, 2008 by asharjunandar

avataneo-miguel_forgotten-moment_2003

Akh, tak ada lagi kisi-kisi kalimat yang mencengangkan

Sesampainya aku di Nazareth,

Seperti:

“Bersabarlah, menyalibkan telunjuk dalam doa keihklasan,

akan kau temui sebuah puncak bernama Golgota”

Akh, kalimat itu terlalu didramatisir dengan seikat bunga

Pada sebuah kartu cinta

Via Dolorosa

Posted in ShorTime In HeaVen on Desember 16, 2008 by asharjunandar


84f4c94c315afed2c5a0f928ccbe9485






Kita sama-sama terluka dan berdarah di sepanjang jalan penggotongan

Kayu salib ini, hai Simon tercinta

Seperti Ahmad yang akan dilempari kotoran dan dia tetap berhikmat,

Sebab itulah teruji dia, terpuji dia

Aku tak mengenalmu Simon, dan aku tak tahu kalau kau berasal dari Kirene

Mendatang, di tempat yang jauh ada satu bahasa menunjukkan pada manusia

“Kirana berarti seluet cahaya”

Tapi aku harus menggotong salib ini dalam memar luka yang disempurnakan

Ludah dan cemeti yang menandai tubuhku luka dan luka

Manusia adalah pendosa

Dan jalan yang akan terus kita lalui sampai kepenyalipan nanti

Adalah jalan ke surga

Mereka butuh sesuatu untuk  direnungkan dan menundukkan kepala mereka

Dan biarlah hanya dalam hati saja mereka mengakui dosa

Di jalan yang kita lalui ini satu ketika

Kau dan aku adalah kerinduan yang telah ditunjuk cinta

Untuk membukakan mata mereka, melebarkan lebar dada-dada mereka

Dan biarlah hanya dalam hati saja mereka mengakui segalanya

Di jalan yang kita lalui ini satu ketika

Patenggang, In Memorial

Posted in runegreen on Desember 11, 2008 by asharjunandar

kielmaru07-128

Tak kusaksikan lagi kebersahajaan

di hamparan gelombangmu

yang dibangun angin datang

Hikayat singkat lekat

pada sebongkah semen padat

menancap kuat dalam benakku

Dan kembali berputar

tikungan-tikungan tajam

menanjak-menurun itu

di arloji lengan kiriku

Kawanan pucuk  cemara

menarik mereka yang resah

di cekung sampan

beberapa jam hingga ke tengah

Dan tidak batu hitam

tempat aku

kembali tafakur menyapu seluruh

tubuhmu

“Ketengah-ketengah” beberapa suara

berseru malu-malu merayu

Selain perkataan seseorang

yang sempat meminta pelukanku

dari belakang,

aku sudah tak mengerti perkataan

manusia

Dan sepasang bibir yang basah

semalam,

mengingatkanku segalanya

Petak-petak sawah

yang tertata pasrah,

jejeran kedai bandrek-indomie

dan ladang stroberi yang dipetik sendiri

Kubetulkan letak rambut kusut

Tumpukan merah marun

yang tak seutuhnya tergambar

di spion sebelah motornya

Dan sepasang bibir basah

semalam

adalah desah nafasmu yang resah

Dalam buntal kabut

Kutunggu mereka menyerabut

Tercabut matahari

yang namanya belum tersebut

Historia Docit

Posted in ShorTime In HeaVen on Desember 10, 2008 by asharjunandar

n583149371_1093823_20911Yehezkiel telah berseru lama:

“Inilah pijakan yang tua dari bekas jejak Abraham,

dimana timur itu adalah timur diri-Ku,

barat itu adalah barat diri-Ku,

utara itu adalah utara diri-Ku,

dan selatan yang jauh adalah selatan diri-Ku”

Dan telah beranak pinak kalian seperti dahan

dari cabang yang satu, dan Akulah pohon kehidupan

Yang kalian datangkan adalah sesuatu yang diam dan bersarang

dalam goa pengap dada kalian,

Tetap akan meletus, seperti Ashabul Kahfi,

Berita itu diterbangkan angin sampai ke ujung waktu nanti

Maka orang-orang yang lapar dan memegang perutnya

sepatutnyalah dihormati dengan makanan

Orang-orang yang meratap seraya meneteskan airmata

dari rongga matanya, patutlah doanya diaminkan

Di timur yang timur-Ku ini, kalian yakini ada kebangkitan

Seperti Aku yang bangkit

dalam tiap pengharapan yang sedikit

Di barat yang barat-Ku ini, pernah terjejak pijakan

Seseorang, yang sangat terpercaya,

sebelum Kupertemukan dengan-Ku

Di Selatan yang selatan-Ku ini, pernah jadi tanah harapan

yang terjanjikan untuk kalian

Yang telah terusir dan terbuang

Namun tak kalian sidangkan diri kalian sendiri

Seperti seseorang yang mengamati patung berjam-jam

Historia docet !

Oh, the Good Samaritan, kaulah sesungguhnya pewaris

surga-Ku yang anggur, yang susu

Kaulah yang ditunggu-tunggu para malaikat-Ku

Evan Hastia

Posted in runegreen on Desember 9, 2008 by asharjunandar

Tanpa simbol dan lambang

Misimu memang

tak akan tersalurkan


Waktu pada tubuh sejarah

Mitos, begitulah angin sebagian gurun

Pasir yang bersimbah darah itu

Mengabarkan

Tentang sebentuk bola kecil

Yang ditempatkan untuk keturunan

Adam-Eva saling berselisih

Dan berbunuhan,

Seperti yang tesurat dan dibaca berulang

Ulang, merekapun meletakkan surga

Di bawah pijakan kakinya

Kemudian menginjak-injaknya

Seperti bangkai anjing busuk

Di pinggir jalan

Hanya sebuah batu, awalnya

Tempat Abraham, katanya meletakkan

Anaknya dan melekatkan pisau

Di pangkal lehernya

Sebagaimana hari ini, lebih dari sekedar

Domba-domba, bulu dan dagingnya

Dikorbankan

Darah dialirkan. Darah dialirkan

Kesegenap penjuru matahari kaki manusia

Yang berdetak di jantungnya

Keyakinan

Bahwa surga, masih tersembunyi

Di sana,

Di balik langit yang berlapis tujuh

Katanya

Darimana moyang kita

Terusir, demi abadi yang tua

Segurat dosa

Katup Remang

Posted in ShorTime In HeaVen on Desember 3, 2008 by asharjunandar

7s

Ada bagian tulisan yang hanya kubisikkan kepada telinga malam

Tentang pahitnya rasa buah mojo tuhan

Tapi lapar yang kurasakan, adalah laparnya kehidupan

Lapar yang menyempitkan pembuluhku, dan mencekik

Lebar katup mataku

Seakan cahaya hanya jadi dosis pembius yang terbatas kadarnya

Aku jadi begitu menggilai malam dan lubang gelapnya

Yang teramat dalam

Kujatuhkan sepenuhnya diri ini, dan berharap tak ada dasar

Yang menangkap

Membiarkan tubuhku terus melayang, lepas dari ikatan gravitasi

Dan dari segala yang didegungkan manusia suci

Menceraikan ikatan senyawa yang mengungkung ketergantungan

Pada segala tali pegangan

Ada bagian tulisan yang hanya kubisikkan kepada telinga malam

Sampai aku sendirilah segala yang disebut rupa kegelapan

2008