Patenggang, In Memorial

kielmaru07-128

Tak kusaksikan lagi kebersahajaan

di hamparan gelombangmu

yang dibangun angin datang

Hikayat singkat lekat

pada sebongkah semen padat

menancap kuat dalam benakku

Dan kembali berputar

tikungan-tikungan tajam

menanjak-menurun itu

di arloji lengan kiriku

Kawanan pucuk  cemara

menarik mereka yang resah

di cekung sampan

beberapa jam hingga ke tengah

Dan tidak batu hitam

tempat aku

kembali tafakur menyapu seluruh

tubuhmu

“Ketengah-ketengah” beberapa suara

berseru malu-malu merayu

Selain perkataan seseorang

yang sempat meminta pelukanku

dari belakang,

aku sudah tak mengerti perkataan

manusia

Dan sepasang bibir yang basah

semalam,

mengingatkanku segalanya

Petak-petak sawah

yang tertata pasrah,

jejeran kedai bandrek-indomie

dan ladang stroberi yang dipetik sendiri

Kubetulkan letak rambut kusut

Tumpukan merah marun

yang tak seutuhnya tergambar

di spion sebelah motornya

Dan sepasang bibir basah

semalam

adalah desah nafasmu yang resah

Dalam buntal kabut

Kutunggu mereka menyerabut

Tercabut matahari

yang namanya belum tersebut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: