Arsip untuk Februari, 2009

Ke Selatan yang Jauh

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Februari 27, 2009 by asharjunandar

Keselatan yang jauh, kami akan menuju. Kami dengan helai-helai bulu kami, para betina kamiadalah lumbung, muara oase, matahari akar-akar ilalang. Ke selatan yang jauh, tercecer helai-helai bulu kami. Menebal empat tapak kaki kami, meretak tanduk-tanduk kami. Kami simpan angin dan hujan untuk budak-budak legam, untuk kalian, Ke selatan yang jauh, kami ikat biji-biji kelamin kami Kami tundukkan kepala-kepala kami, ke selatan yang jauh, Kami gigit lidah-lidah kami, kereta-kereta besar beroda empat kami kitari dalam tertib baris-baris kami Ke selatan yang jauh, sembelihlah kami di malam-malam bulan Panggang di tungku-tungku dan anggur tuangkan ke selatan yang jauh, kami selalu ingat rute pulang

Iklan

The Last Snow

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 25, 2009 by asharjunandar

Seandainya kau tahu bagaimana aku dan yang lainnya berasimilasi

Tanpa harus mempertanyakan siapa diantara kami yang laki yang perempuan

Dengan sadar yang melingkar di luar kuasa kami, kami berkembang

Dan bangsa-bangsaku, dengan tanda fisik yang sama, ke bumi harus diturunkan

Tentu kau berterimakasih kepada tuhanmu, yang tak pernah kau tampak

Berterimakasih kepadaku dan beberapa ratus teman yang tanpa mempertanyakan

Mengapa harus hinggap di sela mantel hitam tebalmu,

Ketika malam setengah matang telah memasuki alam fikirmu

Kau rasakanlah kini dingin yang menebal dan bisu

Lewat hembusan udara dari saluran mulutmu dan dua siku tangan yang kau

Lekatkan ke dada, tangkaplah kehangatan yang ganjil

Dari rentetan pendaratan tubuh kami yang terlihat acak

Tersembunyi irama yang menggetarkan, yang telah berbunyi lama

Jauh di dasar ingatanmu

Ketika kami turun, bocah-bocah di taman yang dijaga sebatang akasia meranggas

Berteriak dalam girang “ salju, salju, salju”

Yang berselang lima menit kemudian, bahagia bocah itu direnggut

Panggilan ibu mereka, dari mulut jendela berdebu,

Dari pintu rumah yang telah terlalu lama terkunci dari dalam

Sebentar terkatup, untuk kemudian terkunci lagi

Seperti sebuah defenisi yang tertera jelas, menerangkan kata penjara

Di sebuah kamus bahasa kecil mereka

Eks “Seakar Sumsum”

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 18, 2009 by asharjunandar

Yang takkan tergantikan,
Ya sudah!
Tak akan pernah tergantikan!

Pesan singkat kau kirimkan kepadaku
Dan dia bukanlah sesuatu
yang bersuara

Kau telpon aku?

Ya, aku di kamar
mencari baju, menyemprotkan Stella,
meraih kunci, menuruni
anak tangga, melonggarkan
gembok pagar…
Ya, kau di sana,
berdiri mengingat-ingat kata pembuka

Ketika kuraih, tanganmu
kulekatkan ke jidatku
Di kamar ini, kusilangkan kaki di lantai,
temanmu menyalakan api,
dan di atas tumpukan bukuku,
kau letakkan sarung dan sajadah,
kita bertiga, kau ingat?

Dua puluh tujuh tahun nyaris
lipatan mereka, begitu-gitu saja

Dan gerak jarum panjang jam
setengah melingkar, kembali kau sterilkan
telepon genggamku

Setahun yang silam adalah tahun kita
Kau lengkapkan dua nyawa angka
ke lekat telinga dan gerak jarum panjang jam
setengah lingkar, ya…
Kembali kita turuni anak tangga
Ke pagar…,

Yang takkan tergantikan
Ya sudah!84f4c94c315afed2c5a0f928ccbe9485
Tak akan pernah tergantikan!

Selembar pelukan, meski itu
Dengan kita, lagi tak saling bertatapan!

Andromeda, II

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 17, 2009 by asharjunandar

Baiklah, pertama-tama, tapakku yang kusuruh lebih dulu mendapatimu. Memang sudah waktunya tittle opening episode kedua. Kau telah menyedu dua gelas kopi. Skrenario itu pasti diantarkannya. Tapi matamu baru terbuka. Baiklah, kedua, kutambahi tungkai kakiku. Di sofa itu, tegap sudah cabang telingamu. Yang baru muncul baru font Judul saja. Oke, kukirimkan sekarang dua tangan yang menggenggam usus, jantung, perut dan pembuluhku sekaligus. Dan lihat, tanpa sabar, kau bakar rokokmu. Dan kuingatkan kau, bukan? Sisakan buatku. Tak mengapa. Karena kau mulai menggaruk-garuk kepala, kupaketkan leherku juga segera. Wah, “Cerita apa ini?”Katamu. Tapi baiklah. Ibunya yang keterlaluan kepada kaca. Ayahnya raja yang impoten. Dan yang tersisa, tentu saja Dia. Sebagaimana dewa-dewa pedalaman Afrika purba…., bisa kau tebak, Dia anak yang berbakti, bukan? Dewa-dewa itupun masing-masing rakus mengunyah daging polosnya. Tapi potongan tubuh itu kemudian tidak memuaskan sistem pencenaan mereka. Akhirnya, diam-diam, satu per satu dubur mereka memuntahkannya di etalase angkasa. Mereka duga gelap itu dungu. Makanya kau harus belajar aritmatika. Kumpulan sudut itulah yang akhirnya menata sisa-sisa pendarannya. Dan kau, bagaimana bila kemudian ternyata potongan tubuhku ini dipaksa masuk ke tabung tanah lalu tertutup? Apakah kau mau menonton filmnya, sebagaimana mini seri Andromeda?

Di Antara Dua Regang Gasing Dadamu

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 10, 2009 by asharjunandar

Aku akan memohon padamu
Setelah kau nyaris tumpas
Bergegas deru, hendak tumpah
tautan kelingking ini
Di pinggir rima besi hijau kecil
kutarik kau kembali,
sedepa dari uap rambutmu
yang kuhirup,
Aku tertekuk; berlutuk

Bergegaslah, hai kotak kecil
malu-malu liur di saku belakang
jeansku

Lingkar kecil mata logam ini
selingkar besar mata roda putar
Hai kerlip sewarnarupa isak senja
Lebarkan: reruas punggung telinga
dibalut blues pink berenda

“Malam yang putaran poros
mata roda besarnya
berhenti di tapak kakiku,
kukupas kau sekelumit ari saja

Lekatlah lebih kental kulitmu
ke pangkal leherku
s9160239290_61391
Dan di antara dua regang gasing
dadamu,
kikis habislah labirin jantungku!”

Bayonet Bit

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 9, 2009 by asharjunandar

f7e6843bf3b8423522f43c55f1948401Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Kau ingat mimik kaca toilet itu! Dari tasmu kau keluarkan lipstick merah Dan seseorang yang barusan menyeka buih tequila Kepada tisu basah bibir siapa yang lagi berdusta? Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Kau pacu dua bandul dadamu yang bermuatan serbuk putih Lihatlah asap! Sesuatu yang hendak digapai Setengah kepalan yang mencekal cangkir bening ini Kepada pintu masuk kau masih sempat berkata: “Aku pasti kembali memasukkan tubuhku, ke mulut lagu serigalamu!” Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik Bit itu memburumu seperti putaran balet Russian rollet Bayonet siapa ini? Apakah ini memang bayonet? Dentum musik, dentum musik Dentum simble-bass di dalam Di luar dentum jejak-jejak rintik

Nova

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 6, 2009 by asharjunandar

6002222757030_1_55aa59d1

Nova, dimana kini kau Nova?

Peta ini dicerna lambungku

di landai pekik malam

lonceng Viadolorosa

Ketika air mata saja sekarang

yang mendengung laron

di pangkalan bangku panjang hitam

Gereja Beatitudes Bethsaida,

sebuah dari delapan gerbang kota

berkelit dari bias konon yang tersurat

Lekuk-lekuk bata lorong-lorong ini

Sesak serapah beranak-pinak, Nova

Seperti cabang kanak-kanak kita

yang memilir ranting-ranting tawa

Terlalu sulur-sulur kita bermain pasir

di ladang-ladang gandum usia

Selekat akarnya, mutualisme hara

Nova, dimana kini kau Nova?

Kalau pengembaraan angin ini

Sejengkal saja