Kenangan Pada Seonggok Pendar Kunang-Kunang

Orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, yang mengacak malam karena melatai rawa likat dirinya; yang termangu bengkarung di punggung batu menakar laut seberang yang mulai memilin ujung pantai sumsum benua dadanya; yang bergegas menanak beras basah di belanga mentah; yang menancapkan pancang tenda menerka pendar unggun itu menyebar atau belum sampai ke lembah pemakaman. Seperti angin basil menuba udara, dari belukar semak aku mencuat perlahan sewajar tenggelam bulan. Kurasa mereka merasakan selintang bintang sedang turun berkenan, menciut dan bertambah ringan. Kurasa mereka terpukau pada tarian spiralku, makin tinggi mengerucut ikan, sekonyong-konyong menukik kemudi. Seperti manuver albatros, pendar tubuhku, di zona horizon kosong mereka, terbatun. Kurasa mereka menyigi rima ritualku yang benderang terkadang, tiba-tiba redup bahkan padam seperti tubuh yang hilang. Namun anginlah yang tengah menyamar udara yang paling lihai mengendus jejak, yang tak pernah setia bahkan dalam gelap, kurasa mereka menjadi kawanan anak serigala lapar dalam sarang induknya yang belum pulang. Taring mereka akan mengait dan mencabikku hidup-hidup. Di luar, gelap yang getah mengantukkan mereka dalam pori-pori uap, sedang pendarku mengenyangkan yang terpendam dalam likat rawa. Hai orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, betapa akut terang ini ingin mengunyahku, seawan bulu-bulu hitam kalian yang diam rebah, yang legam pasrah, yang malam kalah. Di sanalah, gelombang membiakkan nisan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: