Anekdot Albuginea

Sekeluar surau ini, kukira. Di sanalah pasar teringar kita, pada tapal sandal yang hendak lekang. Pada tali jepitan yang mulai renggang: Apa yang tumpas atas ampas debu? Hilir mudik seseorang yang berdiri. Berujar: “Di mimbar, di mimbar….” Dan sila kita menghadap ambal: Putih yang putih sebagaimana putih. Tetaplah putih: Dinding dingin yang putih: Selepuh siar sabit ubun-ubun surau ini. Kukira di antara kita yang membeli pulut doa, lalu tungkai kaki ditimang-timang timbangan sandal bebal ini, yang paling riuh hanyalah desah yang lenguh di sela mayat daun bergelimpangan. Dalam cengap ceri matang : Camar buta meracik sarang di celah patahan dahan untuk anaknya. Pada gigir trotoar yang selumit liur, masih basah selinting hujan di pangkal paha. Dihijau kuduk perdu, angin masbuk akan terus membubus debu. Selecut mimik di luar pagar surau subuh ini, kukira mengurapi kurus tengkuk kita yang tandus. Yang kita duga: Kudus. Parau. Suara. Mengigau igau. Di luar pagar surau subuh ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: